11 September 2026
Ilustrasi siaran radio dalam menghadapi tantangan era disrupsi digital

Hadapi Era Disrupsi Digital, Radio Dituntut Tak Sekadar Menyampaikan Berita

Radio Tangerang Heartline FM — Era disrupsi digital membuat industri media, termasuk radio, menghadapi perubahan besar dalam pola konsumsi informasi masyarakat. Wakil Pemred Radio Suara Surabaya, Restu Indah mengatakan di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital, radio dituntut tidak hanya cepat menyampaikan berita, tetapi juga mampu memberikan manfaat dan solusi bagi pendengarnya. Hal tersebut menjadi salah satu strategi yang terus dikembangkan Radio Suara Surabaya dengan mempertahankan identitas sebagai media yang mengedepankan konsep news, interactive, solutif.

Hal ini disampaikanya saat diwawancarai dalam program Coffee Morning Special di Hari Radio Nasional bersama Jose Marwoto dan Riama Silitonga pada Jumat (11/09), melalui sambungan telepon.

Restu menjelaskan konsep  menempatkan solusi sebagai bagian penting dalam setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Artinya, persoalan yang disampaikan pendengar tidak berhenti pada pemberitaan, tetapi diupayakan memiliki tindak lanjut melalui koordinasi dengan pihak atau institusi terkait.

“Salah satu contoh yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat adalah persoalan lalu lintas. Ketika terjadi kecelakaan di jalan tol yang menyebabkan antrean kendaraan hingga beberapa kilometer, informasi yang disampaikan tidak sebatas kondisi kemacetan,” katanya.

Media juga dapat mendorong percepatan evakuasi melalui koordinasi dengan petugas, sekaligus memberikan informasi mengenai jalur alternatif yang dapat digunakan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, radio tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi penghubung antara masyarakat dengan institusi yang memiliki kewenangan untuk menangani persoalan.

Radio Menjadi Jembatan Informasi

Ia menambahkan dalam menjalankan fungsi tersebut, radio tetap menyadari batas perannya sebagai media. Radio bukan pihak yang mengambil alih tugas institusi terkait, melainkan menjadi jembatan informasi antara masyarakat dan lembaga yang berwenang.

Untuk itu, efektivitas pemberitaan sangat bergantung pada adanya respons dari institusi terkait. Ketika masyarakat menyampaikan persoalan melalui radio, informasi tersebut kemudian dapat diteruskan kepada kepolisian, pemerintah daerah, maupun lembaga lainnya agar mendapatkan penanganan.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena persoalan masyarakat sangat beragam. Tidak selalu berkaitan dengan isu besar atau kedaruratan yang menjadi perhatian nasional. Persoalan sederhana yang terjadi di lingkungan masyarakat pun dapat menjadi bagian dari dinamika sebuah kota.

“Kerja sama dengan command center Pemerintah Kota Surabaya, misalnya, menjadi salah satu bentuk kolaborasi dalam merespons berbagai kondisi kedaruratan. Informasi yang masuk kemudian dapat diteruskan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki kewenangan untuk memberikan respons,” jelasnya.

Restu menjelaskan mulai dari kebakaran hingga persoalan yang terlihat sederhana, seperti hewan yang terjebak di saluran air, semuanya dapat menjadi bagian dari pelayanan informasi kepada masyarakat.

Tidak Mengejar Viralitas Semata

Perubahan ekosistem media juga membuat radio tidak bisa hanya mengandalkan siaran konvensional. Konten kini harus hadir di berbagai platform digital, mulai dari YouTube, TikTok, Instagram hingga podcast. Namun, ekspansi ke platform digital tidak berarti setiap konten harus dibuat semata-mata untuk mengejar viralitas.

Restu mengatakan Suara Surabaya menempatkan relevansi dan dampak sebagai pertimbangan utama sebelum sebuah informasi diproduksi dan disebarluaskan.  Setiap konten perlu dipertimbangkan dari sisi tujuan, manfaat bagi publik, hingga potensi dampaknya terhadap pihak-pihak yang diberitakan.

Ia mencontohkan, ketika terdapat kasus pencurian di sebuah kedai kopi yang berpotensi menarik perhatian publik, media tetap perlu mempertimbangkan apakah visual atau identitas tertentu dalam video justru dapat merugikan pemilik usaha.

Oleh karena itu, sudut pandang pemberitaan dapat diarahkan pada aspek kewaspadaan masyarakat tanpa harus mengekspos informasi yang berpotensi menjatuhkan reputasi sebuah usaha. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan dan daya tarik konten bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah pemberitaan.

“Menggulung” Berita hingga Tuntas

Restu menambahkan di tengah persaingan media digital yang semakin ketat, jurnalisme radio juga dituntut untuk lebih mendalam. Sebuah informasi tidak berhenti ketika pertama kali disampaikan kepada publik.

Pemberitaan perlu terus dikembangkan dengan menggali informasi, mencari perspektif lain, melakukan konfirmasi, serta melihat perkembangan kasus setelah berita pertama kali muncul. Pendekatan inilah yang kemudian dikenal sebagai upaya “menggulung berita”, yakni mengembangkan sebuah informasi agar tidak berhenti pada pemberitaan awal.

Dengan cara tersebut, radio tetap memiliki nilai tambah meskipun masyarakat kini dapat memperoleh informasi dengan cepat melalui media sosial. Pada akhirnya, tantangan terbesar media di era disrupsi bukan hanya bagaimana menjadi yang paling cepat, tetapi bagaimana tetap relevan, dipercaya, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bagi radio, kekuatan tersebut dapat dibangun melalui kombinasi antara jurnalisme yang kuat, interaksi dengan pendengar, pemanfaatan teknologi digital, serta keberanian untuk menjadi bagian dari solusi. Sebab, di tengah banjir informasi, masyarakat tidak hanya membutuhkan berita. Mereka membutuhkan informasi yang benar, relevan, bertanggung jawab, dan membantu menyelesaikan persoalan.(MA)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: