11 September 2026
Ilustrasi radio adaptasi dengan industri - Hari Radio Nasional

Hari Radio Nasional, DJ Sompie: Radio Harus Berubah atau Ditinggalkan Pendengar

Radio Tangerang Heartline FM — Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan. Perubahan tersebut turut memengaruhi industri radio yang kini tidak lagi hanya mengandalkan siaran melalui perangkat radio konvensional. Business Director di Mahaka Radio Integra (MARI) / Mahaka Media Group  Denny J. Sompiee atau DJ Sompiee, mengatakan radio pada dasarnya tidak mati di tengah perkembangan media digital. Namun, radio harus mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku pendengarnya.

Hal tersebut disampaikan DJ Sompie dalam perbincangan bersama 100.6 Heartline Radio dalam rangka memperingati Hari Radio Nasional dari kawasan Lippo Karawaci, Tangerang pada Jumat (11/09).

Menurutnya, perubahan radio tidak dapat dilepaskan dari perubahan karakter dan kebiasaan pendengar.

“Radio sudah berubah karena pendengarnya sudah berubah juga,” ujar DJ Sompie.

Ia menjelaskan, jika dahulu radio identik dengan perangkat berbentuk kotak yang hanya digunakan untuk mendengarkan siaran, kini masyarakat dapat mengakses radio melalui berbagai perangkat dan platform.

Radio bahkan tidak hanya didengarkan, tetapi juga dapat ditonton melalui berbagai platform digital. Untuk  itu, menurut DJ Sompie, perubahan tersebut harus menjadi perhatian serius bagi para pengelola radio. Jika tidak beradaptasi, radio berisiko kehilangan pendengarnya.

“Kalau tidak melakukan perubahan, saya khawatir ditinggal sama pendengarnya,” katanya.

Radio Tidak Mati, tetapi Harus Beradaptasi

DJ Sompie juga membagikan pengalamannya mengikuti pertemuan radio tingkat Asia Pasifik yang mempertemukan pelaku industri radio dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, para pelaku radio dari sejumlah negara, termasuk Jepang, China, Australia, hingga Eropa, berdiskusi mengenai masa depan industri radio.

Salah satu kesimpulan yang menarik, kata dia, radio masih memiliki tempat di tengah perkembangan platform digital. Radio tidak mati. Justru di sejumlah negara, jumlah pendengar radio masih bertahan bahkan mengalami pertumbuhan karena radio dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Namun, tantangan yang dihadapi industri radio di Indonesia dinilai cukup berbeda, khususnya dari sisi bisnis dan perolehan iklan.

Menurut DJ Sompie, penurunan kue iklan radio di Indonesia terjadi cukup signifikan dibandingkan sejumlah negara lain. Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara pengiklan melihat media.

Pengiklan saat ini tidak cukup hanya membeli spot iklan. Mereka ingin mengetahui ekosistem media secara keseluruhan, termasuk siapa pendengarnya, bagaimana karakter audiensnya, serta bagaimana media tersebut dapat berinteraksi dengan masyarakat.

Platform Digital Harus Menjadi Pendukung

Menghadapi perubahan tersebut, radio perlu memperluas kehadirannya ke berbagai platform digital. Namun, DJ Sompie menekankan bahwa platform digital seharusnya tidak menggantikan radio sebagai medium utama.

Platform seperti media sosial, video, podcast, dan kanal digital lainnya harus digunakan sebagai pendukung untuk memperkuat hubungan antara radio dengan pendengarnya. “Radio harus melengkapi dengan platform-platform yang lainnya. Bukan mereka yang menjadi utama, tetapi mendukung untuk berkomunikasi dengan pendengarnya,” jelasnya. Dengan demikian, radio tetap memiliki identitas dan kekuatan utamanya, tetapi sekaligus mampu mengikuti kebiasaan audiens yang semakin digital.

Pendengar Adalah Kunci Utama

Bagi DJ Sompie, strategi menghadapi perubahan industri sebenarnya kembali pada satu hal mendasar, yakni pendengar. Radio harus memahami siapa pendengarnya, apa yang mereka butuhkan, topik apa yang menarik perhatian mereka, hingga di mana mereka menghabiskan waktu atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Pemahaman tersebut penting agar radio tidak membuat konten berdasarkan asumsi semata. Ketika sebuah radio mampu memahami kehidupan dan kebutuhan audiensnya, pendengar akan merasa bahwa radio tersebut dekat dengan mereka.

“Mereka merasa, ini teman kita. Radio ini tahu apa kebutuhan kita atau apa yang kita sukai,” ujarnya.

Kedekatan tersebut pada akhirnya menjadi modal penting untuk mempertahankan loyalitas pendengar. DJ Sompie menegaskan bahwa pendengar merupakan fondasi utama keberlangsungan bisnis radio.

“Klien utamanya radio itu adalah pendengar. Tidak ada pendengar, tidak ada bisnis,” tegasnya.

Masa Depan Radio Ada pada Kemampuan Beradaptasi

Peringatan Hari Radio Nasional menjadi momentum bagi industri radio untuk melihat kembali bagaimana medium ini dapat terus bertahan di tengah perubahan teknologi. Radio tidak harus bersaing dengan semua platform digital dengan cara yang sama. Sebaliknya, radio perlu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat keunggulannya: kedekatan dengan pendengar, interaksi, karakter penyiar, serta kemampuan membangun komunitas. Dengan memahami kebutuhan audiens dan hadir di berbagai platform yang digunakan pendengar, radio memiliki peluang untuk tetap relevan. Pesannya sederhana: radio tidak mati, tetapi radio yang tidak mau berubah berisiko ditinggalkan pendengarnya. (MA)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: