Psikolog Klinis Ingatkan Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental Anak Muda
Radio Tangerang Heartline FM – Penggunaan media sosial secara berlebihan, terutama kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus menggulir konten di media sosial, perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan meningkatnya gejala kecemasan, depresi, dan stres. Kebiasaan ini juga berisiko memengaruhi kepercayaan diri serta kemampuan anak muda dalam mengelola emosi.
Hal tersebut disampaikan seorang psikolog klinis, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog dalam diskusi mengenai kesehatan mental. Ia juga menjadi bagian dari tim ahli program kerja kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menurutnya, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Seseorang tidak dapat dikatakan sehat hanya berdasarkan kondisi fisik atau penampilan luarnya, tetapi juga perlu memiliki kondisi mental yang baik.
Ia menjelaskan, orang dengan kesehatan mental yang baik mampu mengenali potensi dirinya, menghadapi tekanan sehari-hari, bekerja secara produktif, serta memberikan kontribusi positif bagi keluarga dan lingkungan sosialnya.
“Kalau mental health-nya enggak oke, sebagus-bagusnya penampakan kita, kita itu tetap enggak sehat,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Satu dari Tiga Anak Muda Mengalami Kecemasan Berat
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan hasil survei daring Personal Growth yang dilakukan pada tahun sebelumnya terhadap hampir 1.000 anak muda berusia 13 hingga 28 tahun. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga responden mengalami gejala kecemasan berat.
Ia juga mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 yang menyebutkan bahwa satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan mental.
“Masalah tersebut dapat berupa depresi, gangguan kecemasan, hingga persoalan perilaku yang memengaruhi kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena gangguan kesehatan mental tidak selalu terlihat secara langsung.
Kecemasan dan stres yang berat dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, beraktivitas, dan menjalankan tanggung jawabnya. Jika berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan yang tepat, tekanan psikologis juga dapat meningkatkan risiko kelelahan mental atau burnout.
Untuk itu, pemahaman mengenai kesehatan mental perlu ditingkatkan agar masyarakat mampu mengenali gejala sejak dini dan mencari bantuan yang sesuai ketika diperlukan.
Doomscrolling Memicu Kebiasaan Membandingkan Diri
Selain tekanan dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan media sosial juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Berdasarkan survei Personal Growth yang dipaparkan dalam diskusi tersebut, sekitar satu dari lima anak muda menggunakan media sosial untuk melakukan doomscrolling.
Kebiasaan ini membuat seseorang terus melihat berbagai konten, sering kali tanpa tujuan yang jelas atau tanpa menyadari berapa lama waktu yang telah dihabiskan.
Ratih mengatakan paparan berulang terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat mendorong seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Misalnya, ketika melihat orang seusianya telah memiliki rumah, kekayaan, atau pencapaian tertentu, seseorang dapat merasa tertinggal dan mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri.
Perbandingan tersebut berpotensi memengaruhi konsep diri dan harga diri, terutama pada anak muda yang masih berada dalam tahap perkembangan.
Ia menambahkan, anak muda juga perlu dibantu untuk membangun kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial. Tanpa pengelolaan yang baik, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi sulit dihentikan, disertai meningkatnya sensitivitas emosional dan kesulitan mengatur perasaan.
Stres Berkepanjangan Dapat Berujung pada Burnout
Dalam diskusi itu, stres dijelaskan sebagai respons jangka pendek terhadap tekanan atau tuntutan yang dihadapi seseorang. Stres merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi dapat menjadi masalah ketika tekanan yang dialami melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
Jika stres berlangsung terus-menerus, semakin berat, dan tidak ditangani dengan baik, seseorang berisiko mengalami burnout atau kelelahan fisik dan psikologis.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan tubuh secara bersamaan. Karena itu, stres tidak seharusnya selalu dihindari, melainkan perlu dihadapi dengan strategi yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan individu.
Ia juga menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental dapat dikenali melalui empat kelompok gejala, yaitu fisik, kognitif, emosional, dan perilaku. Gejala fisik dapat berupa perubahan nafsu makan, penurunan berat badan, atau kondisi tubuh yang terasa semakin lemah. Sementara itu, gejala kognitif dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan berpikir. Dari sisi emosional, seseorang mungkin menjadi lebih mudah cemas, tersinggung, atau sulit mengendalikan perasaan. Adapun perubahan perilaku dapat terlihat dari kebiasaan dan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak otomatis menunjukkan gangguan kesehatan mental tertentu. Penilaian lebih lanjut oleh tenaga profesional diperlukan untuk memahami penyebab dan kondisi yang dialami seseorang.
Pentingnya Mengenali Kondisi Diri dan Mencari Bantuan
Pembahasan tersebut menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, terutama di tengah perkembangan teknologi dan tingginya penggunaan media sosial. Masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, membatasi waktu penggunaan media sosial, serta menghindari kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan gambaran kehidupan orang lain di internet.
Selain itu, menjaga pola hidup, membangun komunikasi dengan orang tepercaya, dan mencari bantuan profesional ketika tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan langkah yang dapat dipertimbangkan.
Kesehatan mental bukan sekadar kondisi tanpa gangguan, melainkan juga kemampuan untuk menghadapi tekanan, mengembangkan potensi diri, bekerja secara produktif, dan berkontribusi bagi lingkungan. Dengan mengenali tanda-tanda tekanan psikologis sejak dini, masyarakat diharapkan dapat lebih peduli terhadap kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
