27 October 2026
Yusak Novanto dosen Psikologi UPH memaparkan pentingnya kesehatan mental remaja dan dukungan keluarga di Radio Tangerang Heartline FM

Yusak Novanto: Kesehatan Mental Remaja Perlu Perhatian, Dukungan Keluarga Jadi Faktor Penting

Radio Tangerang Heartline FM – Kesehatan mental remaja dan pemuda perlu mendapat perhatian serius karena fase tersebut merupakan periode penting dalam perkembangan kemampuan kognitif, sosial, dan emosional. Dukungan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, serta kemampuan mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Yusak Novanto, dosen Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH), dalam pemaparan mengenai kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental bukanlah kondisi yang hanya terbagi menjadi dua kategori, yakni sehat atau mengalami gangguan, melainkan berada dalam suatu rentang yang dapat berubah seiring waktu dan keadaan seseorang.

Menurut Yusak, kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan individu mengenali dan mengembangkan potensi diri, bekerja atau belajar secara produktif, mengelola tekanan hidup, serta memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitarnya.

“Kesehatan mental itu bukan, oh kamu sehat secara mental atau tidak. Bukan seperti itu, tapi kontinuum,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi mental seseorang dapat berubah ketika menghadapi tekanan atau situasi tertentu. Karena itu, pemahaman mengenai kesehatan mental perlu dibangun agar masyarakat tidak mudah memberikan label kepada orang lain.

Remaja Menghadapi Berbagai Tantangan

Yusak menuturkan, masa kanak-kanak dan remaja merupakan tahap perkembangan yang penting karena individu mulai membangun keterampilan berpikir dan kemampuan bersosialisasi. Pada masa ini, remaja juga menghadapi berbagai perubahan dan tantangan, mulai dari hubungan pertemanan, perkembangan emosi, hingga persoalan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Dalam pemaparannya, ia menyebut depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan. Ia juga menyinggung risiko bunuh diri pada kelompok usia 15–29 tahun sebagai persoalan serius yang tidak boleh diabaikan.

Yusak mengingatkan bahwa pengalaman kekerasan, kurangnya perhatian dari pengasuh, serta lingkungan yang tidak mendukung dapat menjadi faktor risiko bagi kesehatan mental anak dan remaja.

Ia turut menyampaikan bahwa berdasarkan penelitian yang dirujuk dalam presentasinya, remaja perempuan disebut memiliki risiko mengalami gangguan mental lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Namun, angka dan sumber penelitian tersebut perlu dipastikan kembali sebelum digunakan sebagai data publikasi.

Pola Asuh dan Lingkungan Memengaruhi Kesehatan Mental

Menurut Yusak, pola pengasuhan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam mendukung kesehatan mental anak. Pengasuhan yang keras dan hukuman fisik, misalnya, merupakan pengalaman yang dapat meningkatkan risiko masalah selama masa perkembangan.

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang lebih mudah menegur anak ketika melakukan kesalahan daripada memberikan apresiasi ketika anak melakukan sesuatu dengan baik.

Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang mendukung perkembangan anak. Memberikan perhatian, mengapresiasi usaha anak, dan menciptakan suasana keluarga yang aman dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih sehat.

Selain keluarga, interaksi sosial juga berperan penting. Yusak mengingatkan bahwa anak perlu memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, termasuk dengan teman sebaya dan tetangga.

Menurut dia, orang tua yang tinggal di apartemen maupun di lingkungan perumahan perlu memperhatikan kesempatan anak untuk bersosialisasi. Fasilitas bermain bersama dapat dimanfaatkan untuk membantu anak mengenal orang lain dan mengembangkan keterampilan sosial.

Tekanan Hidup Tidak Selalu Berdampak Negatif

Dalam pemaparannya, Yusak menjelaskan bahwa stres merupakan bagian dari kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat dihindari. Namun, tekanan tidak selalu berdampak buruk karena ada stres positif atau eustress yang dapat mendorong seseorang mempersiapkan diri dan menyelesaikan tanggung jawab.

Ia mencontohkan, kecemasan menjelang ujian dapat mendorong seorang siswa untuk belajar. Dalam kondisi tersebut, tekanan justru dapat membantu seseorang melakukan persiapan.

Meski demikian, kemampuan mengelola stres tetap diperlukan agar tekanan tidak berkembang menjadi kondisi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Yusak juga menjelaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi psikologis dan biologis, keterampilan mengelola emosi, penggunaan zat, serta lingkungan sosial dan ekonomi. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, konflik, dan ketidakamanan juga dapat menjadi sumber tekanan.

Persoalan Kesehatan Mental Tidak Hanya Dialami Remaja

Yusak menambahkan, tantangan kesehatan mental dapat muncul pada berbagai tahap kehidupan. Pada usia dewasa produktif, persoalan pekerjaan, hubungan dengan atasan, tanggung jawab keluarga, pernikahan, dan pengasuhan anak dapat menjadi sumber tekanan.

Sementara itu, orang tua yang anak-anaknya telah beranjak dewasa dan meninggalkan rumah dapat mengalami kesepian atau perasaan kehilangan peran sehari-hari. Perpisahan, perceraian, kematian anggota keluarga, serta perubahan pekerjaan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Ia menekankan pentingnya hubungan interpersonal yang bermakna, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, dan dukungan sosial dalam menjaga kesehatan mental.

Yusak turut menyinggung persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni keterikatan berlebihan pada telepon genggam. Ia menggambarkan kebiasaan seseorang yang langsung mencari ponsel ketika bangun tidur, bahkan sebelum memperhatikan pasangan atau anggota keluarga.

Contoh tersebut menjadi pengingat bahwa kebiasaan sehari-hari perlu dievaluasi ketika mulai mengurangi perhatian terhadap hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Pentingnya Mengenali Tanda dan Mencari Bantuan

Dalam pemaparannya, Yusak menyebut sejumlah tanda yang patut diperhatikan, seperti kecemasan berlebihan, serangan panik, mudah marah, perubahan suasana hati, dan kesulitan berkonsentrasi. Namun, tanda-tanda tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menetapkan diagnosis gangguan mental.

Ia menjelaskan bahwa penegakan diagnosis membutuhkan pemeriksaan yang sesuai oleh tenaga profesional yang berwenang. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mendiagnosis diri sendiri ataupun memberikan label kepada orang lain hanya berdasarkan perilaku tertentu.

Upaya menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan membangun keterampilan mengelola emosi, memperkuat hubungan sosial, menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung, dan memperhatikan perubahan perilaku yang berlangsung serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

Melalui pemaparannya, Yusak mengingatkan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia. Perhatian keluarga, lingkungan yang aman, dan kemampuan menghadapi tekanan menjadi unsur yang perlu diperkuat agar remaja dan pemuda dapat berkembang secara sehat dan produktif.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=eyvL_A_VW9U