27 October 2026
Konselor Timothy Ivan membahas dampak partner phubbing dalam program Sketsa Keluarga Indonesia Radio Tangerang Heartline FM

HP Lebih Dekat daripada Pasangan, Timothy Ivan Ingatkan Pentingnya Menjaga Keharmonisan Pernikahan

Radio Tangerang Heartline FM – Penggunaan telepon genggam atau smartphone yang berlebihan dapat mengganggu kedekatan emosional pasangan suami istri. Kebiasaan lebih fokus pada layar ponsel ketika sedang bersama pasangan, atau dikenal sebagai partner phubbing, berisiko mengurangi kualitas komunikasi, keintiman, dan kepuasan dalam hubungan pernikahan.

Hal tersebut dibahas dalam program Sketsa Keluarga Indonesia bersama konselor keluarga dan praktisi hubungan pernikahan, Timothy Ivan, S., M.Pd., dengan topik “HP Lebih Dekat daripada Pasangan”. Dalam perbincangan yang dipandu Persiana tersebut, Timothy mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu kehidupan manusia, bukan menjadi penghalang dalam membangun hubungan keluarga yang sehat.

“Yang lebih parah, kita enggak bisa ketinggalan handphone daripada ketinggalan pasangan,” ujar Timothy dalam program tersebut.

Partner Phubbing Dapat Mengurangi Keintiman Pasangan

Timothy menjelaskan, partner phubbing merupakan perilaku mengabaikan pasangan ketika sedang bersama atau berbicara karena perhatian lebih tertuju pada smartphone maupun perangkat digital lainnya.

Fenomena ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika pasangan sedang makan bersama, berbincang, atau menghabiskan waktu di rumah, tetapi masing-masing justru sibuk menggunakan ponsel.

Akibatnya, meskipun berada di tempat yang sama secara fisik, keduanya belum tentu memiliki kedekatan emosional. Pasangan yang merasa diabaikan juga dapat merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan perhatian yang dibutuhkan.

Dalam perbincangan tersebut, Timothy mengutip sejumlah penelitian mengenai penggunaan ponsel dalam hubungan romantis. Ia menyebutkan, penelitian Pew Research Center pada 2020 menemukan bahwa 51 persen orang dewasa yang menjalin hubungan romantis mengatakan pasangannya setidaknya terkadang terdistraksi oleh ponsel ketika mereka berbicara. Sementara itu, 16 persen menyebut hal tersebut sering terjadi.

Ia juga mengacu pada penelitian tahun 2025 terhadap 247 orang dewasa yang dibahas dalam program tersebut. Menurut pemaparannya, sebanyak 86 persen responden menggunakan ponsel setidaknya pada sebagian waktu ketika bersama pasangan.

Timothy turut menjelaskan bahwa tinjauan terhadap 52 studi dengan total 19.698 partisipan mengaitkan perilaku partner phubbing dengan tingkat kepuasan hubungan yang lebih rendah, berkurangnya keintiman, serta meningkatnya konflik dalam pernikahan.

Mengapa Pasangan Lebih Memilih Ponsel?

Menurut Timothy, ada beberapa faktor yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari ponsel. Salah satunya adalah kepuasan instan yang diperoleh melalui notifikasi, pesan, video, dan berbagai informasi di media sosial.

Keinginan untuk selalu mengetahui informasi terbaru juga dapat membuat seseorang terus memeriksa perangkatnya. Selain itu, ponsel kerap menjadi sarana pelarian ketika seseorang mengalami stres akibat pekerjaan atau persoalan sehari-hari.

Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga ke rumah. Alih-alih menceritakan persoalan yang dihadapi kepada pasangan dan mencari dukungan emosional, seseorang justru memilih menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial.

Faktor lain adalah anggapan bahwa hubungan pernikahan sudah cukup aman sehingga penggunaan ponsel secara berlebihan tidak akan menjadi masalah. Padahal, menurut Timothy, kebiasaan tersebut dapat memperlebar jarak emosional, terutama ketika kedekatan dan komunikasi di antara pasangan mulai berkurang.

Dampaknya dapat berupa kesalahpahaman, kecurigaan, dan konflik yang semakin sering terjadi. Karena itu, pasangan perlu menyadari persoalan sejak awal dan tidak membiarkan kebiasaan tersebut berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Tetapkan Batasan Penggunaan Gadget di Rumah

Timothy menegaskan bahwa teknologi tidak perlu dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan keluarga. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan mengetahui waktu serta batasan yang tepat.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuat kesepakatan bersama mengenai waktu bebas gadget. Misalnya, tidak menggunakan ponsel saat makan bersama, berbincang santai, menonton film bersama, atau menikmati waktu berdua sebelum tidur.

Pasangan juga dapat membatasi waktu penggunaan media sosial setiap hari. Jika sulit mengendalikan kebiasaan tersebut, penggunaan alarm dapat membantu mengingatkan kapan waktunya berhenti.

Menurut Timothy, kesepakatan perlu dibangun melalui komitmen kedua belah pihak. Pasangan yang merasa diabaikan sebaiknya menyampaikan kebutuhannya tanpa menghakimi, menuduh, atau menyerang.

“Lebih baik, saran saya, jangan lewat kata-kata yang menghakimi. Tapi mulailah dengan keteladanan kita,” katanya.

Ia menyarankan agar pasangan memulai perubahan dari diri sendiri, menghormati kesepakatan yang telah dibuat, dan mengajak pasangannya membangun kembali kebiasaan berkomunikasi secara langsung.

Pekerjaan dan Komunikasi Digital Tetap Perlu Batasan

Dalam kehidupan modern, tidak semua penggunaan ponsel dapat dihindari. Sejumlah pekerjaan, seperti pengelolaan marketplace dan pembuatan konten digital, memang menuntut seseorang untuk menggunakan perangkat tersebut secara intensif.

Timothy menilai pasangan perlu membedakan penggunaan ponsel untuk kepentingan pekerjaan dengan kebiasaan yang tidak lagi terkendali. Jika pekerjaan menuntut komunikasi di luar jam kerja, pasangan perlu membicarakan batasan dan kebutuhan masing-masing agar waktu bersama tetap terjaga.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan dan batasan dalam berinteraksi dengan rekan kerja, termasuk lawan jenis. Komunikasi profesional perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menimbulkan kecurigaan atau membuka ruang bagi persoalan dalam hubungan pernikahan.

Selain itu, pasangan perlu berhati-hati terhadap pengaruh media sosial yang menampilkan kehidupan rumah tangga secara ideal. Konten tentang liburan, gaya hidup, atau kemesraan pasangan lain tidak selalu menggambarkan keseluruhan realitas kehidupan mereka.

Karena itu, Timothy mengajak pasangan untuk tetap realistis dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan tidak menjadikan unggahan di media sosial sebagai standar yang harus dipenuhi oleh pasangan sendiri.

Bangun Kembali Kedekatan Melalui Perhatian dan Komunikasi

Ketika ponsel telah menjadi pelarian dari persoalan rumah tangga, Timothy menekankan pentingnya komitmen bersama untuk memperbaiki komunikasi. Pasangan perlu menyediakan waktu berkualitas, mendengarkan keluhan satu sama lain, serta memberikan perhatian tanpa terdistraksi oleh perangkat digital.

Ia juga menyarankan pembatasan penggunaan ponsel secara bertahap, termasuk mengambil waktu khusus untuk beristirahat dari media sosial atau melakukan puasa gadget. Waktu yang sebelumnya dihabiskan dengan perangkat digital dapat digunakan untuk membaca, beraktivitas bersama keluarga, dan membangun kembali kedekatan emosional.

Menurut Timothy, pernikahan merupakan hubungan yang perlu dipelihara secara terus-menerus. Kehadiran fisik saja tidak cukup apabila pasangan tidak saling memberikan perhatian dan kesempatan untuk didengar.

“Cinta artinya memberi perhatian,” ujar Timothy.

Ia menambahkan bahwa mendengarkan pasangan juga merupakan bagian dari kasih. Karena itu, ketika sedang berbicara, pasangan perlu memberikan perhatian penuh dan tidak terus-menerus sibuk dengan gadget.

Melalui perbincangan tersebut, Timothy mengajak pasangan suami istri untuk kembali menempatkan hubungan mereka sebagai prioritas. Ponsel dan teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung kehidupan keluarga, tetapi penggunaannya perlu dibatasi agar tidak mengorbankan komunikasi dan keintiman.

Pada akhirnya, keharmonisan pernikahan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pasangan berada bersama, tetapi juga oleh kualitas perhatian, komunikasi, dan komitmen yang diberikan satu sama lain.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=JS2DKt-3mao