22 October 2026
dr. Ika Nur Fitriana, Sp.KJ memaparkan cara mendengarkan aktif dan empati terhadap kesehatan mental di program Sketsa Keluarga Indonesia Heartline FM

Mendengarkan Tanpa Menghakimi, Langkah Awal Membantu Orang yang Mengalami Masalah Kesehatan Mental

Radio Tangerang Heartline FM – Mendengarkan tanpa menghakimi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental. Sikap empati, kemampuan memahami sudut pandang orang lain, serta mengenali perubahan perilaku dapat membantu seseorang merasa aman untuk menceritakan masalah yang dihadapinya.

Hal tersebut dibahas dalam program Sketsa Keluarga Indonesia yang menghadirkan dokter psikiater, dr. Ika Nur fitriana,Sp.Kj untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mendengarkan secara aktif dan mengenali tanda-tanda seseorang membutuhkan pertolongan.

Dalam perbincangan tersebut, dr. Ika menjelaskan bahwa mendengarkan bukan sekadar menangkap suara atau membiarkan seseorang berbicara. Mendengarkan secara aktif membutuhkan perhatian, konsentrasi, pemahaman terhadap sudut pandang lawan bicara, serta respons yang tepat.

“Mendengarkan secara aktif, kita butuh terlibat juga secara aktif. Kemudian konsentrasi, paham sudut pandang lawan bicara kita, lalu merespons dengan tepat,” ujar dr. Ika.

Menurutnya, mendengarkan tanpa menghakimi berarti memberikan ruang kepada seseorang untuk menyampaikan perasaan dan pengalamannya tanpa buru-buru memberikan penilaian, membuat asumsi, atau menyalahkan.

Ucapan seperti “kamu terlalu berlebihan” atau “kamu kurang bersyukur” dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami. Sebaliknya, sikap terbuka dan respons yang empatik dapat membantu membangun rasa aman ketika seseorang ingin berbagi cerita.

Tidak Semua Curahan Hati Membutuhkan Solusi Langsung

Ika menekankan bahwa seseorang yang sedang menghadapi masalah terkadang tidak membutuhkan nasihat secara langsung. Mereka mungkin hanya ingin didengarkan, diterima, dan dipahami terlebih dahulu.

Untuk itu, pendengar perlu memahami kebutuhan orang yang sedang bercerita sebelum menawarkan solusi.

“Boleh bertanya dulu, kira-kira kamu butuh saya mendengarkan dulu atau kamu butuh saya memberikan saran,” jelasnya.

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menentukan bentuk dukungan yang dibutuhkan. Dengan demikian, respons yang diberikan tidak terkesan memaksakan kehendak atau meremehkan masalah yang sedang dihadapi.

Ia juga menyarankan agar seseorang yang ingin membantu memulai percakapan dengan memperhatikan perubahan yang terlihat pada orang di sekitarnya. Misalnya, ketika seorang teman tampak murung atau mengalami penurunan semangat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pendekatan dapat dilakukan dengan kalimat sederhana seperti, “Saya melihat akhir-akhir ini kamu kelihatan kurang nyaman. Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk bercerita tanpa merasa ditekan.

Kenali Perubahan Emosi dan Perilaku

Selain memahami cara mendengarkan, masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda seseorang yang mungkin membutuhkan bantuan profesional.

Ika menjelaskan bahwa kesedihan, kemarahan, dan kecemasan merupakan bagian wajar dari kehidupan. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain ucapan yang menunjukkan keputusasaan, merasa menjadi beban bagi orang lain, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat terhadap hobi, mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga menurunnya kemampuan merawat diri.

Ucapan seperti merasa gagal, tidak sanggup lagi menghadapi keadaan, atau merasa lebih baik tidak ada menjadi sinyal yang perlu ditanggapi dengan serius, terutama jika disertai perubahan perilaku lainnya.

“Pada prinsipnya seseorang atau manusia itu wajar punya perasaan sedih, marah, cemas. Namun, kita perlu lebih peka dan jeli terhadap ucapan yang disampaikan,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menetapkan diagnosis. Penilaian mengenai kondisi kesehatan mental seseorang perlu dilakukan oleh tenaga profesional yang kompeten.

Pendengar Juga Perlu Menjaga Batasan Diri

Dalam perbincangan tersebut, dr. Ika juga menyoroti situasi ketika seseorang berulang kali menceritakan masalah yang sama tanpa menunjukkan perubahan berarti. Kondisi ini dapat membuat orang yang mendengarkan merasa lelah secara emosional, terlebih jika nasihat yang diberikan tidak dijalankan.

Menurutnya, menjadi pendengar yang baik bukan berarti harus selalu menyelesaikan masalah orang lain atau membenarkan semua tindakan yang dilakukan.

Pendengar perlu memahami keterbatasan dirinya dan menjaga batasan atau boundaries. Jika masalah yang dihadapi teman terasa terlalu berat, pendengar dapat menawarkan bantuan untuk menghubungkannya dengan psikolog, psikiater, keluarga tepercaya, atau layanan kesehatan mental.

“Menjadi pendengar yang baik itu juga bukan berarti kita harus membenarkan semua tindakannya,” tegas dr. Ika.

Ia menyarankan agar tawaran bantuan disampaikan dengan empati, bukan sebagai bentuk kritik atau paksaan. Misalnya, dengan mengatakan bahwa orang tersebut tidak harus menghadapi masalahnya sendirian dan dapat mencoba mencari bantuan profesional agar memperoleh dukungan yang sesuai.

Di sisi lain, pendengar juga berhak menyampaikan kondisi dirinya apabila sedang tidak memiliki kapasitas emosional untuk mendengarkan. Penolakan dapat disampaikan secara asertif, misalnya dengan menjelaskan bahwa dirinya sedang menghadapi masalah sendiri dan akan lebih siap mendengarkan pada waktu lain.

Dengan cara tersebut, kepedulian terhadap orang lain tetap dapat diberikan tanpa mengabaikan kesehatan mental diri sendiri.

Waspadai Situasi Darurat

Ia mengingatkan bahwa situasi perlu ditangani lebih serius apabila seseorang mengungkapkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, terlebih jika terdapat tanda atau tindakan yang menunjukkan risiko langsung.

Dalam keadaan tersebut, orang terdekat perlu membantu menghubungkan individu yang bersangkutan dengan keluarga atau orang tepercaya serta tenaga kesehatan. Jika terdapat bahaya langsung, jangan meninggalkannya sendirian dan segera cari bantuan darurat atau bawa ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan memperhatikan keselamatan semua pihak.

Ia juga menyarankan agar ajakan untuk mencari bantuan profesional disampaikan secara perlahan dengan menjelaskan dampak masalah terhadap kehidupan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun kondisi emosional orang tersebut.

Pendekatan yang tidak menghakimi diharapkan dapat mengurangi rasa takut dan stigma terhadap konsultasi kesehatan mental.

Kepedulian Dimulai dari Hal Sederhana

Menutup perbincangan, dr. Ika mengajak masyarakat untuk membangun kepedulian melalui kebiasaan mendengarkan, berusaha memahami sudut pandang orang lain, serta tidak terburu-buru memberikan penilaian.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak harus menjadi psikolog atau psikiater untuk menunjukkan kepedulian kepada orang yang sedang menghadapi masalah.

“Mendengarkan itu bukan berarti kita harus menyelesaikan masalahnya. Karena kita enggak harus jadi psikolog atau psikiater untuk menjadi orang yang peduli,” ujarnya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=2rKgzPiR2v0