Karakter Pemimpin Turut Menentukan Masa Depan Organisasi hingga Bangsa
Radio Tangerang Heartline FM – Karakter dan perilaku seorang pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap masa depan pihak yang dipimpinnya, mulai dari keluarga, gereja, organisasi, hingga sebuah bangsa. Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu menjaga integritas, mengendalikan diri, dan tetap hidup sesuai nilai-nilai kebenaran.
Hal tersebut disampaikan Pendeta Tommy O. Lengkong dalam program Let Us Reason Together, persembahan Yayasan Pengembangan Apologetika Indonesia yang disiarkan melalui Heartline Radio 100.6 FM. Dalam perbincangan bersama pembawa acara Timo Ardante, ia mengangkat tema “Karakter dan Perilaku Pemimpin Turut Menentukan Masa Depan”.
Pendeta Tommy menjelaskan bahwa pelajaran mengenai kepemimpinan dapat dilihat dari sejarah bangsa Israel dalam Alkitab, khususnya melalui kehidupan tiga raja, yaitu Salomo, Rehabeam, dan Yerobeam. Ketiganya memiliki kelebihan, tetapi juga menunjukkan kelemahan karakter yang berdampak terhadap perjalanan bangsa Israel.
Menurutnya, hubungan seorang pemimpin dengan Tuhan turut tercermin dalam karakter dan perilakunya. Ketika pemimpin hidup sesuai kehendak Tuhan, hal itu akan terlihat dalam tindakannya. Sebaliknya, ketika menjauh dari Tuhan, perilaku yang tidak benar dapat membawa dampak buruk bagi pihak yang dipimpinnya.
“Karakter dan perilaku pemimpin itu akan terlihat ketika mereka mempunyai relasi dengan Tuhan yang baik. Tapi kalau mereka menjauh dari Tuhan, itu akan terlihat juga karakter dan perilaku mereka,” ujar Pendeta Tommy.
Ia mencontohkan Raja Salomo yang dikenal memiliki hikmat, karisma, dan keberhasilan dalam memimpin Israel. Pada masa pemerintahannya, bangsa Israel mengalami kemakmuran dan Salomo membangun Bait Suci yang sebelumnya direncanakan oleh Daud.
Namun, Salomo juga memiliki kelemahan, terutama dalam hal pengendalian hawa nafsu dan kesetiaan kepada Tuhan. Alkitab mencatat bahwa ia memiliki 700 istri dan 300 gundik. Selain itu, istri-istrinya turut mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain.
Pendeta Tommy menilai, keberhasilan dan karunia yang dimiliki seorang pemimpin tidak otomatis menjamin kesetiaan serta kualitas kehidupannya. Ketika pemimpin tidak lagi menjaga hubungannya dengan Tuhan, kelemahan pribadi dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Dampak kepemimpinan juga terlihat dalam kehidupan Raja Rehabeam. Saat menghadapi keluhan rakyat, ia mengabaikan nasihat para tua-tua yang mendorongnya untuk melayani rakyat dengan baik. Sebaliknya, ia mengikuti saran orang-orang muda yang mendorongnya bersikap lebih keras.
Keputusan tersebut membuat rakyat merasa tertindas dan akhirnya memicu perpecahan kerajaan. Menurut Pendeta Tommy, Rehabeam menunjukkan karakter yang lemah dalam mengambil keputusan, tidak bijaksana dalam menerima nasihat, serta bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.
Sementara itu, Yerobeam yang mendapat kesempatan menjadi raja atas sepuluh suku Israel juga gagal mempertahankan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia membuat dua anak lembu emas dan menempatkannya di Betel dan Dan agar rakyat tidak pergi beribadah ke Yerusalem. Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk penyimpangan yang membawa konsekuensi bagi dirinya dan bangsa yang dipimpinnya.
Dari ketiga tokoh tersebut, Pendeta Tommy menekankan bahwa jabatan, kemampuan, maupun kesempatan menjadi pemimpin tidak cukup tanpa karakter yang benar. Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin harus berhati-hati agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk kepentingan pribadi.
“Ketiga-tiganya itu sebenarnya adalah orang yang tidak mencari Tuhan dengan sesungguh hatinya,” jelasnya ketika membahas penyebab kegagalan ketiga raja tersebut.
Dalam diskusi tersebut, Pendeta Tommy juga membagikan sejumlah prinsip yang perlu diterapkan pemimpin agar tetap menjaga integritas. Pertama, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan melalui doa dan perenungan firman. Kedua, memiliki lingkungan pertemanan yang sehat, termasuk orang-orang yang berani memberikan nasihat dan teguran. Ketiga, menyadari bahwa posisi kepemimpinan merupakan anugerah dan tanggung jawab, bukan kesempatan untuk mengejar kepentingan pribadi.
Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya menempatkan dirinya di posisi yang sulit dijangkau oleh orang lain. Pemimpin perlu membuka diri terhadap masukan, terutama dari orang-orang yang memiliki integritas dan ketulusan dalam memberikan nasihat.
“Kalau kita seorang hamba Tuhan, kita perlu mempunyai teman yang bisa menasihati kita. Jadi kita itu tidak harus berada di menara gading di puncak sana tanpa ada orang lain,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa prinsip kepemimpinan tersebut juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk membangun rumah tangga sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan. Perilaku seorang pemimpin keluarga dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan pasangan dan anak-anaknya.
Menutup perbincangan, Pendeta Tommy menyampaikan tiga hal penting yang perlu diperhatikan setiap pemimpin, yaitu hidup bertanggung jawab di hadapan Tuhan, mengendalikan hawa nafsu, serta tidak bertindak sewenang-wenang dan tetap menghargai orang lain.
“Kalau kita sudah melenceng dari hal itu, maka efeknya banyak. Kedua, kita harus mengontrol hawa nafsu itu. Yang ketiga, janganlah berbuat sewenang-wenang. Belajarlah untuk kita menghargai orang,” pesannya.
Melalui pembahasan tersebut, program Let Us Reason Together mengajak pendengar untuk memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan dan keberhasilan, melainkan juga tentang karakter, tanggung jawab, serta kesediaan untuk hidup dalam kebenaran.
