07 April 2026
anak_belajar_didampingi_orangtua

Tips Orangtua Dampingi Anak Ujian Sekolah: Ketenangan adalah Kunci

Radio Tangerang Heartline FM – MENJELANG musim ujian sekolah, beban pikiran tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para orang tua. Namun, stabilitas emosi orangtua justru menjadi faktor penentu keberhasilan anak dalam menyerap materi pelajaran.

Psikolog klinis anak dan remaja lulusan Universitas Padjadjaran, Michelle Brigitta Shanny, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa orangtua wajib dalam kondisi tenang dan stabil saat mendampingi anak belajar. Menurutnya, kondisi psikologis orangtua sangat memengaruhi efektivitas belajar anak.

“Kalau mendampingi anak ujian, orangtua pastinya harus dalam kondisi stabil agar proses belajar tidak menjadi tekanan untuk anak. Semakin proses belajar menjadi tekanan, maka akan semakin tidak efektif,” ujar Michelle. dikutip Selasa (7/4)

Fokus pada Proses, Bukan Sekadar Nilai

Michelle menjelaskan bahwa orangtua perlu mengubah paradigma dalam memandang ujian. Ujian sekolah seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses belajar jangka panjang, bukan sekadar penentu nilai akhir atau tolok ukur harga diri (value) seorang anak.

Untuk menciptakan suasana belajar yang optimal, Michelle menyarankan penerapan sesi belajar yang lebih pendek namun terstruktur. Hal ini bertujuan agar anak tidak merasa jenuh dan tetap merasa senang selama proses persiapan ujian.

Berikut adalah ringkasan strategi pendampingan belajar yang disarankan:

Metode Pendampingan Tujuan & Manfaat
Sesi Belajar Pendek & Terstruktur Mengurangi tekanan dan membuat suasana lebih menyenangkan.
Pemberian Jeda (Waktu Bermain) Menghindari kejenuhan dan menjaga fokus anak tetap tajam.
Apresiasi Usaha Meningkatkan motivasi internal anak tanpa terbebani target nilai.
Validasi Perasaan Membangun kepercayaan diri dan rasa aman saat menghadapi kesulitan.

Menjadi Pendengar yang Baik

Saat anak mengeluhkan kesulitan dalam menghadapi soal atau materi tertentu, reaksi pertama orangtua sangatlah krusial. Michelle menyarankan agar orang tua tetap tenang, menjaga nada bicara, serta mengontrol ekspresi wajah agar anak tidak merasa dihakimi atau berjuang sendirian.

“Sebaiknya orangtua memvalidasi perasaan anak dan menahan keinginan untuk langsung mengomentari atau memberi solusi. Berikan pemahaman bahwa kesulitan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses belajar,” tambahnya.

Dengan pendekatan yang suportif, anak diharapkan mampu melihat situasi sulit sebagai tantangan untuk mengevaluasi diri. Pola asuh seperti ini tidak hanya membantu anak meraih hasil akademis yang lebih baik, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Sumber : mediaindonesia.com

Foto : Ilustrasi(Freepik)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: