Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem, BMKG Ingatkan El Nino
Radio Tangerang Heartline FM – BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau 2026. Fenomena tahun ini diprakirakan akan jauh lebih kering dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa penyediaan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika merupakan amanat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009. Hal ini menjadi dasar peran strategis BMKG dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.
Potensi El Nino di Semester Kedua 2026
Berdasarkan analisis data terkini, Faisal menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral dengan indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) di kisaran +0,28. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan memasuki paruh kedua tahun ini.
“Pada semester kedua 2026, kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Niño lemah hingga moderat dengan peluang mencapai 50%-80%,” ujar Faisal dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Ia juga memberikan edukasi mengenai perbedaan antara kemarau rutin dan fenomena El Nino. Menurutnya, kemarau adalah siklus tahunan, tetapi kehadiran El Nino akan memperparah dampak kekeringan secara signifikan.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena yang berbeda. Namun, jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, dampaknya akan menjadi jauh lebih kering,” imbuhnya.
Langkah Strategis dan Mitigasi
Guna mengantisipasi dampak buruk kekeringan ekstrem, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi pemerintah pusat maupun daerah, di antaranya:
- Respons Dini:Melakukan pemetaan dan tindakan cepat di wilayah yang berpotensi memiliki curah hujan sangat rendah.
- Manajemen Air:Penguatan tata kelola waduk, embung, dan sistem irigasi berbasis data iklim akurat.
- Modifikasi Cuaca:Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengisi waduk sebelum puncak kemarau.
- Kampanye Efisiensi:Mengajak masyarakat dan industri untuk lebih hemat dalam penggunaan air serta energi.
Catatan Redaksi: BMKG menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air memerlukan keseimbangan. Kekurangan air yang ekstrem berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kegagalan panen di sektor pertanian.
Dukungan Multisektor
Faisal menegaskan bahwa BMKG berkomitmen penuh mendukung berbagai sektor pembangunan melalui penyediaan data iklim real-time. Peran BMKG tidak terbatas pada urusan kebencanaan, tetapi juga krusial bagi sektor perhubungan darat, laut, udara, hingga infrastruktur pekerjaan umum.
“Semoga kita semua dapat bersatu dalam langkah yang sama untuk mengantisipasi musim kemarau 2026 yang datang lebih cepat dan lebih panjang ini,” pungkasnya.
Dengan prediksi kemarau yang lebih ekstrem, koordinasi antarlembaga diharapkan dapat meminimalisir kerugian ekonomi dan sosial yang mungkin timbul akibat kelangkaan sumber daya air di berbagai wilayah Indonesia.
Sumber : mediaindonesia.com
Foto : Ilustrasi.(Freepik)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
