23 January 2026

Child Grooming, Ancaman Tersembunyi bagi Anak

Radio Tangerang Heartline FM – Isu child grooming kembali mengemuka dan menjadi perhatian publik setelah ramai dibahas di ruang digital. Topik ini juga diangkat dalam program Sketsa Keluarga Indonesia di Radio  Heartline yang menghadirkan dr. Johani Sebastian Edwin, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Diskusi tersebut menyoroti bahaya child grooming sebagai bentuk kejahatan terhadap anak yang kerap tidak disadari karena dilakukan secara halus dan bertahap. Johani menjelaskan bahwa child grooming bukanlah kekerasan yang terjadi secara spontan, melainkan proses manipulasi psikologis yang dibangun perlahan melalui kedekatan emosional, perhatian berlebihan, dan penciptaan rasa aman semu.

“Pelaku memanfaatkan kerentanan anak dan remaja yang secara psikologis belum matang dalam mengelola emosi, menilai risiko, serta memahami dampak jangka panjang. Akibatnya, anak kerap mengalami ketergantungan emosional dan kesulitan membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat,” kata Johani.

Pelaku grooming dapat berasal dari berbagai latar belakang, termasuk orang yang dikenal, dipercaya, bahkan dari lingkungan terdekat anak. Seiring perkembangan teknologi, praktik grooming juga banyak terjadi secara daring melalui media sosial, gim online, dan aplikasi percakapan.  Ia menjelaskan pola yang muncul umumnya meliputi hubungan yang terlalu intens dan eksklusif, permintaan untuk menyimpan rahasia, hingga pengaburan batas emosional maupun fisik. Dampak psikologisnya sering kali baru terasa di kemudian hari, seperti kecemasan, depresi, trauma, kesulitan membangun relasi sehat, serta rendahnya kepercayaan diri.

Dalam talkshow tersebut, Johani mengimbau orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka, aman, dan tidak menghakimi agar anak berani bercerita ketika merasa tidak nyaman. Ia menegaskan bahwa child grooming bukan terjadi karena anak lemah atau orang tua gagal, melainkan karena adanya ketimpangan kedewasaan emosional yang dimanfaatkan pelaku. Perlindungan terbaik bagi anak, menurutnya, bukan pengawasan berlebihan, melainkan hubungan emosional yang kuat demi menjaga kesehatan mental anak hingga masa depan.

Foto : dr.Johanis Sebastian Edwin (HN)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: