31 August 2026
Ev. Elsar Hayer memberikan renungan mengenai iman sejati dan ketulusan hati di hadapan Tuhan

Iman Bukan Sekadar Penampilan Rohani, tetapi Ketulusan Hati di Hadapan Tuhan

Radio Tangerang Heartline FM — Iman tidak cukup hanya ditunjukkan melalui penampilan rohani, keaktifan di gereja, maupun besarnya persembahan. Kehidupan yang dijalani sehari-hari menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana seseorang menghidupi imannya.

Hal tersebut disampaikan Ev. Elsar Hayer, S.Th dalam pembahasan mengenai iman dan etika Kristen. Menurutnya, iman secara umum berangkat dari kesadaran bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Keselamatan merupakan karya Tuhan, termasuk kemampuan manusia untuk percaya kepada-Nya.

“Manusia tidak punya kemampuan dan Tuhan yang menyelamatkan ketika kita beriman. Bahkan beriman pun Tuhan yang mampukan kita, Roh Kudus yang mampukan kita untuk beriman kepada Tuhan,” ujar Elsar.

Iman Harus Tercermin dalam Kehidupan

Elsar mengatakan, pengakuan seseorang sebagai orang beriman tidak dapat dipisahkan dari bagaimana ia menjalani kehidupan. Seseorang mungkin terlihat aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan nilai-nilai firman Tuhan.

Ia mencontohkan kasus seseorang yang menjalankan bisnis ilegal, tetapi pada saat yang sama rutin memberikan persembahan dalam jumlah besar kepada gereja.

Menurut Elsar, kondisi tersebut menjadi persoalan serius dalam etika Kristen. Besarnya persembahan tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan sumber dana yang digunakan.

“Menurut saya, dia tidak menjalankan hidupnya sebagai orang beriman,” kata Elsar.

Ia menegaskan, ketika seseorang mengetahui bahwa pekerjaan atau aktivitas yang dijalankannya merupakan tindakan yang salah, seharusnya ada keberanian untuk berhenti dan melakukan perubahan.

Gereja Perlu Bersikap Ketika Mengetahui Asal Dana

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika gereja mengetahui bahwa dana yang diberikan berasal dari hasil kejahatan. Elsar menilai, dalam kondisi tersebut gereja tidak seharusnya hanya mempertimbangkan kebutuhan finansial.

“Kalau sudah tahu ini salah, menurut saya tidak boleh diterima,” tegas Elsar.

Menurut dia, gereja tetap dapat memberikan pelayanan dan mendampingi orang yang sedang bergumul tanpa harus menerima hasil dari tindakan yang bertentangan dengan hukum maupun firman Tuhan.

Sikap tersebut dinilai penting agar gereja tidak terjebak pada orientasi bahwa seluruh kebutuhan pelayanan harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan integritas sumber dana.

“Jangan sampai kita cuma melihat keuntungan. Performa gereja terlihat baik, keuangan gereja terlihat baik, semua program berjalan, tetapi uangnya berasal dari sesuatu yang salah,” jelasnya.

Tidak Mengetahui Berbeda dengan Sudah Mengetahui

Elsar juga mengakui bahwa gereja pada praktiknya tidak mungkin mengetahui secara detail sumber penghasilan setiap jemaat. Ketika seseorang memberikan persembahan, gereja pada umumnya tidak melakukan pemeriksaan terhadap seluruh aktivitas ekonomi jemaat.

Karena itu, menurutnya, terdapat perbedaan antara gereja yang tidak mengetahui asal dana dengan gereja yang sudah mengetahui bahwa dana tersebut berasal dari kejahatan.

“Di gereja kita tahu siapa-siapa uangnya dari mana? Kita tidak tahu. Bisnisnya bersih atau tidak, kita juga tidak tahu,” ujarnya.

Namun, ketika sumber dana telah diketahui berasal dari tindakan yang salah, gereja memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil sikap.

Jangan Menjadikan Aktivitas Rohani sebagai Pembenaran

Elsar menilai, seseorang juga tidak seharusnya menggunakan aktivitas keagamaan untuk menutupi atau membenarkan perilaku yang bertentangan dengan iman.

Ia mengingatkan bahwa firman Tuhan tidak boleh digunakan secara sembarangan untuk membenarkan kepentingan manusia, termasuk ketika seseorang ingin melegitimasi penerimaan harta yang berasal dari tindakan kejahatan.

Menurutnya, pertobatan seharusnya ditunjukkan melalui perubahan kehidupan, bukan sekadar melalui peningkatan aktivitas keagamaan.

Tuhan Melihat Hati, Bukan Sekadar Penampilan

Pada bagian akhir, Elsar menekankan bahwa iman yang sesungguhnya tidak dapat diukur hanya dari apa yang terlihat oleh manusia.

Seseorang dapat terlihat saleh, aktif melayani, rajin beribadah, dan dikenal sebagai jemaat yang dermawan. Namun, semua penampilan tersebut tidak dapat menyembunyikan kondisi hati manusia di hadapan Tuhan.

“Outfit rohani kita, penampilan rohani kita, performa rohani kita tidak bisa menipu Tuhan karena Tuhan melihat hati,” kata Elsar.

Ia mencontohkan Nikodemus yang dikenal sebagai sosok yang memiliki pengetahuan agama dan dihormati, tetapi tetap membutuhkan kelahiran kembali.

Bagi Elsar, iman bukan sekadar persoalan penampilan religius. Iman harus membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan dan tercermin melalui kehidupan yang dijalani.

“Orang benar tidak sekadar performa, tidak sekadar rohani, tetapi sungguh-sungguh hatinya tulus kepada Tuhan,” pungkas Elsar.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan beriman bukan tentang bagaimana seseorang terlihat di hadapan manusia, melainkan tentang ketulusan hati dan kesediaan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, termasuk ketika menghadapi berbagai kesulitan dan pergumulan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=24h5LTBbmo8

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: