Kepekaan Iman, Belajar Membedakan Kapan Harus Berjuang dan Melepaskan
Radio Tangerang Heartline FM — Dalam kehidupan, tidak semua persoalan harus dihadapi dengan cara yang sama. Ada situasi yang membutuhkan keberanian untuk berjuang, tetapi ada pula keadaan yang justru mengajarkan seseorang untuk menerima dan melepaskan.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program “Firman dalam Pujian” di 100,6 Heartline FM bersama Pastor Jonathan Prawira. Dalam perbincangan tersebut, kepekaan terhadap suara Tuhan dinilai menjadi bagian penting dalam menentukan sikap menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pastor Jonathan menjelaskan, iman tidak selalu berarti menerima keadaan begitu saja. Di sisi lain, iman juga tidak selalu berarti terus melawan keadaan. Keduanya dapat menjadi bagian dari perjalanan iman, tergantung pada situasi yang dihadapi.
“Iman itu satu, letting go. Satu menerima kenyataan. Tapi ada situasi, ada keadaan yang let’s go, yuk hadapi,” ujar Pastor Jonathan dalam program tersebut.
Iman Bukan Sekadar Pasrah
Menurut Jonathan, persoalan muncul ketika seseorang menganggap hanya ada satu bentuk iman yang benar. Padahal, dalam pembahasannya, ia menilai Alkitab memperlihatkan berbagai situasi yang membutuhkan sikap berbeda.
Karena itu, seseorang perlu memiliki kepekaan untuk memahami apakah sebuah keadaan harus diterima atau justru dihadapi.
“Bagaimana let God yang menentukan, yang menunjukkan arah kepada kita, apakah ini untuk letting go atau untuk let’s go,” katanya.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan kisah Daud. Dalam menghadapi berbagai persoalan, Daud tidak selalu memilih untuk melawan. Ada keadaan tertentu yang diterimanya, sementara pada situasi lain ia mengambil tindakan dan berjuang.
Jonathan menilai, kemampuan memilih antara berjuang dan melepaskan menjadi bagian dari kedewasaan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Kepekaan Tidak Datang Secara Instan
Kepekaan terhadap suara Tuhan, lanjut Jonathan, bukan sekadar sebuah rumusan atau metode yang dapat diterapkan secara seragam kepada semua orang. Kepekaan justru perlu dibangun melalui kebiasaan.
Ia mengutip pembahasan mengenai Salomo dan Ibrani 5 yang menekankan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Dalam konteks tersebut, kedewasaan rohani dikaitkan dengan kemampuan seseorang melatih “pancaindra” untuk membedakan.
“Kepekaan itu bukan rumusan tapi kebiasaan,” ujar Jonathan.
Menurut dia, langkah paling mendasar untuk membangun kepekaan adalah belajar membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Setelah itu, seseorang dapat belajar melihat situasi yang lebih kompleks, termasuk menentukan mana yang baik, lebih baik, dan paling baik bagi dirinya.
Jangan Mudah Terjebak Suara Dunia
Di tengah derasnya informasi dan berbagai pandangan di media sosial, kemampuan membedakan menjadi semakin penting. Perdebatan mengenai berbagai persoalan sering kali membuat seseorang lebih sibuk membuktikan bahwa dirinya benar daripada mencari apa yang sebenarnya baik.
Jonathan mengingatkan agar umat tidak kehilangan fokus karena terlalu banyak mendengarkan suara dunia.
“Lebih mendengar firman daripada suara dunia,” katanya.
Ia menjelaskan, kebiasaan mendengarkan firman perlu dibangun secara konsisten. Menurutnya, seseorang yang lebih sering terpapar berbagai suara dari luar tetapi jarang kembali kepada firman dapat mengalami kebingungan dalam menentukan sikap.
Belajar dari Daud
Daud menjadi salah satu contoh yang digunakan dalam pembahasan tersebut. Dalam menghadapi keluarganya, Raja Saul, maupun berbagai tantangan lainnya, Daud tidak selalu mengambil respons yang sama.
Ada keadaan yang tidak dapat diubah sehingga perlu diterima. Namun, ada pula situasi yang perlu dihadapi dengan keberanian.
Jonathan mencontohkan ketika Daud menghadapi Goliat. Dalam situasi tersebut, Daud memilih untuk maju dan menghadapi persoalan. Namun dalam menghadapi perlakuan dari orang-orang tertentu, ia dapat memilih untuk tidak membalas dan melanjutkan hidup.
“Dia akan fight, pilih-pilih mana yang perlu dia fight,” kata Jonathan.
Dari sana, ia menekankan bahwa persoalan bukan sekadar memilih antara melawan atau menyerah. Yang lebih penting adalah memahami kapan harus melakukan masing-masing tindakan.
Doa dan Usaha Berjalan Bersama
Kepekaan juga berkaitan dengan kemampuan mengetahui kapan harus berdoa, kapan harus bertindak, kapan harus berhenti, dan kapan harus melanjutkan perjuangan.
Dalam talkshow tersebut, Jonathan menegaskan bahwa doa tidak seharusnya dipertentangkan dengan usaha. Keduanya dapat berjalan bersama.
Ia menggambarkan hal tersebut melalui kisah Musa dan Yosua. Ketika Musa berdoa, Yosua tetap berjuang. Dari gambaran itu, Jonathan menyampaikan bahwa doa dan tindakan merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan.
“Doa itu tidak menggantikan usaha. Doa itu mengawal usaha,” ujarnya.
Karena itu, menurut Jonathan, setiap orang perlu memiliki kepekaan untuk menentukan bentuk respons yang tepat dalam setiap situasi.
Kedewasaan Terlihat dari Kemampuan Membedakan
Lebih jauh, Jonathan mengatakan bahwa kedewasaan rohani bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak seseorang mengetahui ajaran agama, tetapi juga bagaimana ia menerapkannya dalam kehidupan.
Kemampuan membedakan antara yang baik dan yang jahat menjadi salah satu dasar penting. Setelah itu, seseorang juga perlu belajar menghargai bahwa pilihan terbaik bagi dirinya belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi orang lain.
“Yang paling baik buat kamu belum tentu paling baik buat saya,” katanya.
Karena itu, perbedaan pilihan tidak selalu harus berujung pada pertengkaran. Setiap orang perlu belajar menghargai proses kedewasaan orang lain selama tetap berpegang pada nilai-nilai yang benar.
Membiasakan Diri Mendengar Firman
Jonathan juga mendorong umat untuk membangun kebiasaan membawa berbagai rencana dan keputusan kepada Tuhan, bukan hanya setelah persoalan terjadi.
Dalam pembahasannya, ia mencontohkan Daud yang bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Kebiasaan tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses membangun kepekaan.
Kepekaan akhirnya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk melalui latihan dan kebiasaan untuk terus kembali kepada firman.
“Kalau mau peka, ayo biasakan dengar firman daripada suara dulu,” ujarnya.
Kepekaan untuk Menentukan Langkah
Menutup pembahasan, Jonathan mengajak pendengar untuk tidak sekadar mengejar keberhasilan, tetapi juga meminta kepekaan dalam menentukan jalan kehidupan.
Ia menilai, jalan yang tepat tidak selalu menjadi jalan yang dipilih banyak orang. Karena itu, seseorang perlu memiliki keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan keyakinan yang telah diuji dan dipertimbangkan dengan matang.
Dalam doa penutupnya, Jonathan secara khusus mendoakan agar para pendengar mengalami kepekaan, bukan hanya untuk membedakan baik dan jahat, tetapi juga untuk memahami mana yang baik, lebih baik, dan paling tepat bagi perjalanan hidup masing-masing.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam perjalanan iman, tidak semua masalah harus dilawan dan tidak semua keadaan harus diterima begitu saja. Ada waktunya seseorang melangkah maju, ada waktunya berhenti, dan ada waktunya melepaskan.
Kuncinya adalah membangun kepekaan, sehingga setiap keputusan tidak semata-mata didasarkan pada emosi, tekanan lingkungan, atau keinginan pribadi, tetapi melalui proses mendengar, mempertimbangkan, dan mencari kehendak Tuhan.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
