Mengapa Sales di Kawasan Bisnis Tangerang Perlu Menjadi “Anti-Fragile”
Radio Tangerang Heartline FM – Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat di koridor ekonomi Tangerang—mulai dari hiruk-pikuk retail di Gading Serpong hingga perkantoran prestisius di BSD City—tantangan bagi tim penjualan (sales force) tidak lagi sekadar mencapai target bulanan.
Dalam Special Talkshow Heartline Network bersama Dedy Budiman, founder Sales Director Indonesia dan pakar sales terkemuka, terungkap sebuah fakta mengejutkan dari hasil penelitian terhadap 1.500 sales di seluruh Indonesia: Menjadi sales yang tahan banting saja ternyata tidak cukup.
Dari Resilience Menuju Anti-Fragility
Bagi banyak perusahaan di area The Big Four (BSD, Gading Serpong, Alam Sutera, dan Lippo Karawaci), kriteria utama mencari sales biasanya adalah mereka yang “tahan di bawah tekanan”. Namun, Dedy Budiman memperkenalkan konsep yang lebih tinggi, yaitu Anti-Fragility.
Apa bedanya?
Dedy Budiman menuturkan perbedaan fragile, resilience dan anti-fragile. “Fragile (Rapuh), artinya mudah Pecah dan hancur saat terkena tekanan atau target yang meningkat. Resilience (Tahan Banting), seperti bola karet; ketika dibanting, ia kembali ke bentuk semula. Ini bagus, tapi tidak memberikan pertumbuhan. Sementara anti-fragile, seperti otot manusia. Ketika diberi beban (tekanan), sel-selnya memang mengalami stres, namun justru tumbuh lebih kuat dan lebih besar dari sebelumnya.”
Dedy Budiman menyoroti bahwa banyak sales di Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa, namun mereka sering kali “mentok” di level tahan banting saja. Mengapa? Jawabannya ada pada lingkungan kerja dan supervisi. Untuk perusahaan di kawasan Lippo Karawaci hingga BSD yang ingin timnya naik kelas, ada beberapa poin krusial yang harus diperhatikan:
- Memberikan “Point of Growth“: Seringkali, manajer atau supervisor di kota besar terlalu fokus pada hasil jangka pendek (short-term results) sehingga tidak memberikan ruang bagi timnya untuk bereksperimen.
- Keberanian Mengambil Risiko Terukur: Memberi kesempatan sales untuk melakukan negosiasi sendiri atau memimpin briefing mingguan. Mungkin akan berisiko salah, namun itulah satu-satunya cara mereka belajar. Dedy menyarankan perusahaan menerapkan sistem “risiko terukur”— misalnya membiarkan sales menangani proyek dengan nilai tertentu secara mandiri.
- Menciptakan “Bulan Ide”: Perusahaan harus memiliki sistem yang menghargai inovasi, bukan hanya angka penjualan. Inovasi inilah yang membuat sebuah perusahaan tetap unggul dibanding kompetitor di wilayah yang sangat kompetitif seperti Tangerang.
Strategi bagi Pemilik Bisnis dan Manager Sales
Bagi Anda yang mengelola bisnis di area strategis Tangerang, pesan utama dari talkshow ini adalah: Jangan biarkan tim sales Anda hanya bertahan hidup di bawah tekanan.
“Tugas manajemen dan owner adalah memberikan ruang supaya mereka bertumbuh. Jika tim Anda tumbuh, hasilnya bagi perusahaan akan jauh lebih luar biasa dibanding sekadar bertahan,” tegas Dedy Budiman.
Untuk inspirasi bagi para sales, selengkapnya bisa ditonton videonya berikut ini:
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
