Menjadi Ayah yang “Hadir”: Kunci Sukses Masa Depan Anak di Tengah Kesibukan Kota Satelit
Radio Tangerang Heartline FM – Bagi para ayah yang tinggal di kawasan The Big Four—Lippo Karawaci, Alam Sutera, Gading Serpong, dan BSD—rutinitas harian seringkali menjadi tantangan tersendiri. Berangkat saat matahari belum terbit dan pulang ketika anak-anak sudah terlelap demi mengejar karier di Jakarta atau mengelola bisnis di Tangerang adalah pemandangan biasa.
Namun, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), Maret 2024, menunjukkan fakta yang perlu kita renungkan bersama: 20,1% anak di Indonesia tumbuh tanpa sosok ayah (fatherless). Indonesia bahkan menempati urutan ketiga sebagai fatherless country di dunia.
Dalam talkshow Parenting With Heart di Heartline FM, Bapak Frankie Yusman, seorang konselor keluarga, membedah mengapa kehadiran ayah bukan sekedar soal status, melainkan soal investasi masa depan anak.
Apa itu “Fatherless”? Tidak Selalu Berarti Yatim
Istilah fatherless tidak hanya merujuk pada anak yang kehilangan ayah secara fisik (meninggal atau bercerai). Banyak anak di kawasan elit Tangerang mengalami fatherless secara emosional. Ayahnya ada di rumah, tapi secara psikis “tidak hadir” karena: Jam kerja yang sangat tinggi (lebih dari 12 jam sehari). Juga faktor kelelahan akibat perjalanan panjang (commuting) dari Tangerang ke Jakarta dan sebaliknya. Dan stigma budaya bahwa “mendidik anak adalah urusan ibu, tugas ayah hanya mencari uang.”
Mengapa Peran Ayah Tak Tergantikan?
Di balik kemegahan fasilitas di BSD atau Gading Serpong, anak-anak tetap membutuhkan dua sisi keseimbangan: sifat feminin dari ibu dan sifat maskulin dari ayah. Ayah adalah sosok yang membentuk karakter maskulin anak, seperti ketegasan, keberanian, perlindungan, dan tanggung jawab. Bagi anak laki-laki, ayah adalah “Pahlawan Pertama”. Anak belajar tentang integritas dan kerja keras dengan melihat langsung tindakan ayahnya.
Bagi anak perempuan, ayah adalah “Cinta Pertama”. Dari ayahlah seorang anak perempuan belajar bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanita dengan kasih sayang dan rasa hormat.
Langkah Praktis Menjadi Ayah yang “Hadir” di Tengah Kesibukan
Bagi anda yang tinggal di koridor Tangerang dengan mobilitas tinggi, berikut adalah tips dari Bapak Frankie Yusman untuk tetap menjadi ayah yang baik:
- Interaksi Langsung Setiap Hari: Sesibuk apa pun, sisihkan waktu untuk sekadar pamit saat berangkat atau mengobrol singkat sebelum anak tidur. Manfaatkan momen mengantar anak sekolah sebagai ruang komunikasi berkualitas.
- Ciptakan Heart Connection: Jangan hanya bertanya soal nilai sekolah. Cobalah berbagi pengalaman hidup, diskusi tentang hobi, atau berdoa bersama untuk membangun koneksi dari hati ke hati.
- Maksimalkan Quality Time di Akhir Pekan: Jika Senin hingga Jumat waktu Anda tersita, jadikan Sabtu dan Minggu sebagai Family Time tanpa gangguan gadget. Olahraga bersama di area terbuka hijau BSD atau sekadar makan bersama di Gading Serpong bisa menjadi momen yang intim.
- Komunikasi Jarak Jauh: Jika harus bekerja di luar kota, tetaplah hubungi anak melalui telepon atau video call. Jelaskan apa yang sedang Anda kerjakan agar anak merasa tetap dilibatkan dalam kehidupan Anda.
Menjadi ayah yang sukses bukan hanya tentang memberikan fasilitas terbaik di klaster termewah, tapi tentang memberikan diri Anda hadir sepenuhnya bagi mereka. Karena di mata anak, Anda adalah sosok pahlawan yang menentukan kuatnya fondasi karakter mereka di masa depan.
Simak diskusi lengkapnya dalam program Parenting With Heart:
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
