08 October 2026
Musikolog Aji Kelono menjelaskan fakta di balik fenomena Mozart Effect dan manfaat musik klasik di program Sketsa Keluarga Indonesia

Musik Klasik Bikin Pintar atau Happy? Ini Penjelasannya

Radio Tangerang Heartline FM – Musik klasik kerap dikaitkan dengan kecerdasan, terutama pada anak-anak. Anggapan tersebut semakin populer sejak munculnya istilah Mozart Effect, yang menyebutkan bahwa mendengarkan karya Mozart dapat meningkatkan kemampuan kognitif seseorang.

Namun, musikolog Aji Kelono menjelaskan bahwa musik klasik tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih pintar. Menurutnya, musik lebih tepat dipahami sebagai stimulus yang dapat membantu meningkatkan konsentrasi, membangun suasana hati, dan memberikan pengalaman sensorik bagi pendengarnya.

Dalam perbincangan di program Sketsa Keluarga Indonesia pada Rabu (08/10), Aji menjelaskan bahwa musikologi merupakan studi tentang musik yang tidak hanya mempelajari aspek teknis, tetapi juga memahami bagaimana dan mengapa musik diciptakan serta dampaknya terhadap manusia.

Menurut Aji, munculnya anggapan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan tidak terlepas dari fenomena Mozart Effect. Mozart yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan musik disebut memiliki kemampuan luar biasa dalam menangkap dan mengingat nada. Kemampuan tersebut kemudian ikut memunculkan ketertarikan terhadap hubungan antara musik klasik dan perkembangan kognitif.

Meski demikian, Aji menegaskan bahwa berbagai penelitian lanjutan menunjukkan efek musik klasik terhadap kemampuan kognitif lebih bersifat sementara. Musik dapat memberikan stimulus terhadap suasana hati dan tingkat perhatian, tetapi bukan berarti secara langsung meningkatkan IQ secara permanen.

β€œMusik klasik juga bukan bikin pintar. Dia hanya menstimuli,” jelas Aji.

Musik Instrumental Bisa Membantu Konsentrasi

musik instrumental bisa membantu konsentrasi

Aji mengatakan, salah satu alasan musik klasik atau instrumental dianggap membantu proses belajar adalah karena musik tersebut umumnya tidak memiliki lirik yang dapat mengalihkan perhatian.

Ketika seseorang membaca atau belajar sambil mendengarkan lagu dengan lirik, otak secara tidak sadar juga dapat memproses kata-kata dari lagu tersebut. Kondisi ini berpotensi mengganggu konsentrasi terhadap materi yang sedang dipelajari.

Sebaliknya, musik instrumental tanpa lirik dinilai lebih memungkinkan seseorang untuk mempertahankan fokus. Meski demikian, Aji menekankan bahwa respons setiap orang terhadap musik dapat berbeda. Genre musik yang disukai seseorang juga dapat memberikan rasa nyaman dan membantu konsentrasinya.

Untuk itu, penggunaan musik untuk belajar tidak harus selalu musik klasik. Musik instrumental dapat menjadi pilihan, terutama ketika seseorang membutuhkan suasana yang lebih tenang untuk membaca, menulis atau mengerjakan tugas.

Jangan Memaksa Anak Menyukai Musik Klasik

Bagi orang tua yang ingin memperkenalkan musik klasik kepada anak, Aji menyarankan agar musik tidak diberikan dengan cara memaksa.

Menurutnya, orang tua cukup memperdengarkan musik dengan volume yang wajar sehingga anak dapat terbiasa dengan stimulus musikal tersebut. Anak tidak harus diperintahkan untuk secara khusus mendengarkan musik klasik.

β€œYang namanya dipaksa itu tidak ada yang baik,” kata Aji. Ia menyarankan musik klasik diperdengarkan secara alami dalam keseharian sehingga anak dapat menikmatinya tanpa tekanan.

Belajar Musik Berbeda dengan Sekadar Mendengarkan

Aji juga membedakan antara mendengarkan musik dan belajar memainkan alat musik. Menurutnya, belajar musik secara aktif dapat memberikan stimulus yang berbeda karena anak terlibat langsung dalam proses membaca notasi, mengatur ritme dan memainkan beberapa bagian musik secara bersamaan.

Misalnya, ketika memainkan piano, anak harus membaca notasi untuk tangan kiri dan tangan kanan dengan ritme yang berbeda, kemudian memainkannya dalam satu waktu. Proses tersebut melatih koordinasi dan kemampuan berkonsentrasi pada beberapa hal sekaligus.

Pembelajaran musik juga dapat membantu membangun kedisiplinan. Membaca partitur mengharuskan anak memperhatikan notasi, ritme, tanda diam serta berbagai detail lainnya. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu membentuk ketelitian dan kedisiplinan yang kemudian dapat diterapkan dalam aktivitas lain, termasuk belajar.

Selain konsentrasi, musik memiliki hubungan erat dengan emosi manusia. Musik yang didengarkan seseorang dapat memengaruhi suasana hati dan memberikan pengalaman emosional tertentu.

Aji menjelaskan bahwa musik tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan. Musik juga dapat dipelajari dari perspektif psikologi karena mampu memberikan stimulus terhadap emosi dan motivasi seseorang.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=YJabSof6CFM