08 October 2026
Ilustrasi pentingnya kehadiran dan peran ayah dalam tumbuh kembang anak di program Sketsa Keluarga Indonesia Heartline FM

Timothy : Kehadiran Ayah bagi Tumbuh Kembang Anak

Radio Tangerang Heartline FM – Kehadiran seorang ayah memiliki peran penting dalam membangun keluarga yang utuh sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara holistik. Hal tersebut disampaikan praktisi pendidikan dan pelayanan keluarga, Timothy Ivan, M.Pd., dalam program Sketsa Keluarga Indonesia dengan tema “The World Needs a Father”.

Menurut Timothy, ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam mendidik, mendampingi, melindungi, memotivasi, dan mengembangkan potensi anak.

Ia menjelaskan, terdapat fase-fase perkembangan anak yang membutuhkan keterlibatan orang tua secara berbeda. Pada usia dini, ibu memiliki peran besar dalam membangun kecerdasan awal anak. Sementara pada usia sekolah, ayah memiliki peran penting dalam membangun kemampuan dasar dan perkembangan fisik anak. Memasuki masa remaja, lingkungan pertemanan mulai memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sosial anak.

“Setelah itu di usia 19 sampai 21 tahun, kembali seorang ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan anak, yaitu membentuk identitas anak,” ujar Timothy.

Untuk itu, menurutnya, ayah dan ibu harus bekerja sama dalam menjalankan pengasuhan. Kehadiran ayah tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada anggota keluarga lain.

Timothy mengibaratkan dua karakter ayah melalui figur burung unta dan burung rajawali. Ayah “burung unta” digambarkan sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab, egois, otoriter, atau mengabaikan kebutuhan anak. Sementara ayah “burung rajawali” adalah sosok yang menjaga, mendukung, mengembangkan, dan mendorong anak agar mampu mengembangkan potensinya.

“Harusnya kita sebagai para ayah menjadi ayah yang bertanggung jawab dalam hal menjaga, mendukung, mengembangkan, dan memotivasi seorang anak sehingga dia bisa tumbuh sesuai dengan potensinya,” katanya.

Kehadiran Ayah Tidak Bisa Digantikan

Kesibukan pekerjaan kerap menjadi alasan berkurangnya waktu ayah bersama anak. Namun, Timothy menegaskan bahwa kehadiran seorang ayah tidak dapat begitu saja diwakilkan kepada anak yang lebih tua maupun anggota keluarga lainnya.

Ia mengingatkan, keluarga membutuhkan ayah yang hadir secara nyata, bukan hanya hadir secara fisik tetapi juga terlibat dalam kehidupan anak.

Menurutnya, menjadi orang dewasa berarti mampu menerima tanggung jawab dan mendahulukan kebutuhan keluarga dibandingkan kepentingan pribadi.

“Kalau kita sudah berkeluarga, kita punya tanggung jawab terhadap keluarga, terhadap istri dan juga anak-anak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para ayah agar tidak hanya menyediakan waktu untuk diri sendiri setelah bekerja, tetapi tetap memberikan ruang bagi anak untuk berbicara, bermain, dan membangun kedekatan emosional.

Empat Peran Penting Ayah

Dalam perbincangan tersebut, Timothy menjelaskan setidaknya terdapat empat peran penting yang perlu dijalankan seorang ayah.

Pertama, menetapkan otoritas moral. Ayah perlu membantu anak memahami batas antara yang benar dan salah, baik dan buruk, serta boleh dan tidak boleh. Hal tersebut harus dilakukan melalui disiplin dan terutama keteladanan.

Menurut Timothy, pola pengasuhan yang terlalu permisif maupun terlalu otoriter sama-sama dapat memberikan dampak kurang baik. Ayah yang terlalu permisif dapat membuat anak kehilangan batasan, sedangkan ayah yang terlalu otoriter dapat mendorong anak menjadi pemberontak.

Sebaliknya, pola yang ideal adalah menjadi ayah yang otoritatif, yaitu tegas tetapi tetap dilandasi kasih dan keteladanan.

Kedua, memberikan identitas kepada anak. Anak perlu mengetahui siapa dirinya, apa yang menjadi nilai hidupnya, serta apa yang membuat dirinya berharga.

Timothy menekankan bahwa keberhargaan anak tidak seharusnya ditentukan oleh prestasi, kepemilikan, pekerjaan, penampilan, maupun penilaian orang lain.

Ketiga, memberikan rasa aman. Rasa aman dapat dibangun melalui pemenuhan kebutuhan anak, kasih sayang tanpa syarat, perlindungan, serta komitmen orang tua dalam menjaga keutuhan keluarga.

Anak juga perlu merasa bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk bercerita, termasuk ketika melakukan kesalahan.

“Ketika anak itu salah, dia bisa bebas datang kepada ayahnya. Dia tidak takut karena ayahnya akan menerima dia,” jelasnya.

Keempat, meneguhkan potensi anak. Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ayah perlu mengenali, mengapresiasi, dan membantu anak mengembangkan potensi tersebut.

Timothy menilai afirmasi positif memiliki pengaruh besar. Ketika anak menunjukkan perilaku baik, orang tua perlu memberikan apresiasi secara spesifik sehingga anak terdorong untuk mengulangi perilaku positif tersebut.

Sebaliknya, terlalu sering memberikan label negatif seperti “malas”, “berantakan”, atau “tidak pernah benar” dapat membuat label tersebut justru tertanam dalam diri anak.

Hubungan Lebih Penting daripada Sekadar Nasihat

Menjawab pertanyaan pendengar mengenai anak-anak di era teknologi yang cenderung sulit menerima nasihat orang tua, Timothy mengatakan salah satu kuncinya adalah membangun hubungan.

Menurutnya, anak yang merasa dekat dengan orang tuanya akan lebih mudah menerima arahan dan nasihat.

“Pendidikan yang benar atau yang efektif itu terjadi melalui relationship yang baik,” katanya.

Karena itu, orang tua tidak seharusnya hanya mendekati anak ketika hendak menegur atau memberikan nasihat. Ayah perlu menyediakan waktu untuk berbicara santai, makan bersama, melakukan hobi, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang disukai anak.

Dengan hubungan yang kuat, nasihat akan lebih mudah diterima karena anak mengetahui bahwa orang tuanya benar-benar peduli terhadap dirinya.

Luka Akibat Ketidakhadiran Ayah Perlu Dipulihkan

Timothy juga membahas dampak yang dapat muncul ketika seorang ayah gagal menjalankan perannya. Kegagalan dalam memberikan otoritas moral dapat membuat anak tumbuh dengan kemarahan dan masalah dalam mengendalikan diri.

Sementara kegagalan dalam membentuk identitas dapat membuat anak memiliki citra diri yang rendah, merasa tidak berharga, dan terus mencari pengakuan dari orang lain.

Jika rasa aman tidak terpenuhi, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang takut gagal, takut ditolak, sulit menghadapi kritik, dan kesulitan menghadapi otoritas.

Sedangkan ketika potensi anak tidak diteguhkan, anak dapat menjadi kurang percaya diri, mudah membandingkan diri dengan orang lain, serta rentan terhadap pengaruh lingkungan.

Menurut Timothy, luka tersebut perlu disadari dan dipulihkan agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Langkah awalnya adalah mengakui adanya luka, kemudian belajar mengampuni orang tua dan membangun pola kehidupan yang baru. Ia juga menyarankan agar seseorang yang mengalami luka akibat ketidakhadiran ayah memiliki mentor atau figur teladan yang dapat membantu proses pertumbuhan dirinya.

Pemulihan tersebut juga dapat dilakukan oleh seorang ayah yang menyadari bahwa dirinya pernah gagal menjalankan peran sebagai orang tua. Ayah dapat mengakui kesalahannya, meminta maaf kepada anak, dan membangun kembali hubungan yang lebih sehat.

Ayah yang Hadir untuk Generasi yang Lebih Baik

Menutup perbincangan, Timothy mengajak para ayah untuk kembali menyadari pentingnya peran mereka di dalam keluarga.

“Marilah kita jadi ayah yang sejati, ayah yang bertanggung jawab, ayah yang menjaga, melindungi, mendukung, dan memotivasi anak-anaknya,” pesannya.

Ia menegaskan, ayah perlu menjalankan perannya dalam memberikan otoritas moral, membentuk identitas, memberikan rasa aman, serta meneguhkan potensi anak.

Menurutnya, ketika para ayah hadir dan menjalankan perannya dengan baik, keluarga akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan anak-anak dapat bertumbuh menjadi generasi yang lebih baik.

The World Needs a Father bukan sekadar tentang keberadaan seorang ayah di rumah, tetapi tentang bagaimana seorang ayah benar-benar hadir, terlibat, menjadi teladan, dan membangun hubungan dengan anak.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=52Ew4IQLHIU