Masih Overthingking, Berikut Langkah Awalnya
Radio Tangerang Heartline FM – Dalam acara Sketsa Keluarga Indonesia dengan tema “Ketika Pikiran Tidak Bisa Diam, Mengapa Kita Overthinking?”, dr. Popi Dewati Sitepu, SpKJ menjelaskan bahwa overthinking adalah kondisi ketika seseorang memikirkan sesuatu secara berulang, berlebihan, dan sering kali tanpa solusi yang jelas. Secara awam, kondisi ini kerap disamakan dengan melamun, pikiran tidak fokus, atau terlihat “hadir secara fisik tetapi pikirannya ke mana-mana”. Selama masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu aktivitas, hal ini bisa dianggap normal, namun akan menjadi masalah ketika mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Untuk mencegah dan mengelola overthinking, langkah awal yang penting adalah mengenali diri sendiri dan memahami batas antara berpikir sehat dan berpikir berlebihan. Relaksasi, mindfulness, pengaturan pola tidur, serta kebiasaan hidup yang lebih seimbang dapat membantu menenangkan pikiran. Jika overthinking sudah berlangsung lama, berulang, dan mengganggu aktivitas maupun kualitas hidup, maka mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan. Sejalan dengan pesan yang disampaikan dr. Popi, kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan—karena tidak ada kesehatan yang utuh tanpa kesehatan mental.
Overthingking & Berpikir Kritis
Dari sudut pandang profesional, overthinking berbeda dengan berpikir kritis. Berpikir kritis dilakukan secara sadar, terarah, dan bertujuan untuk menemukan solusi atas suatu masalah. Sementara itu, overthinking justru cenderung berputar-putar pada kemungkinan yang belum tentu terjadi, sering kali didominasi pikiran negatif, kecemasan, dan penyesalan terhadap masa lalu. Pola pikir ini dapat memicu rasa ragu, was-was berlebihan, sulit berkonsentrasi, bahkan menurunkan kualitas hidup. Dalam jangka panjang, overthinking dapat berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Overthinking juga memiliki keterkaitan erat dengan kondisi emosional dan kesehatan mental seseorang. Stres, kecemasan, pengalaman traumatis, hingga tekanan social, dan termasuk dari media social dapat menjadi pemicu munculnya pikiran berlebihan. Ketika, seseorang terbiasa membayangkan skenario terburuk atau terus mengulang kesalahan masa lalu, emosi menjadi tidak stabil dan berisiko menimbulkan gangguan tidur, penurunan produktivitas, serta keluhan fisik. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa overthinking bukanlah tanda kecerdasan, melainkan sinyal bahwa ada proses mental yang perlu diperhatikan dan dibantu.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
