Bertumbuh dalam Pemuridan: Ciri, Cara, dan Berkat Menjadi Pengikut Yesus yang Sejati
Radio Tangerang Heartline FM – Menjadi seorang Kristen bukan sekadar menyandang status atau memiliki identitas formal di kartu identitas. Di tengah semaraknya kehidupan religius masa kini, sebuah pertanyaan mendasar muncul: Apakah kita sudah menjadi pengikut Yesus yang sejati atau baru sebatas pengikut biasa?
Melalui program Let Us Reason Together yang diselenggarakan oleh Yayasan Pengembangan Apologetika Indonesia (YPAI) di Heartline FM, Pendeta Dr. Christian J. Lasut memaparkan makna mendalam di balik teks Matius 16:21–26 tentang esensi, tantangan, dan keindahan menjadi murid Kristus yang autentik.
Ciri Pengikut Yesus yang Sejati: Hidup Menurut Pikiran Allah
Alkitab secara jujur membukakan realitas bahwa di antara orang-orang yang mengikuti Yesus, terdapat perbedaan kualitas iman—seperti perumpamaan tentang lalang dan gandum, atau kambing dan domba.
Berkaca dari kisah Rasul Petrus di Matius 16, sesaat setelah Petrus menyampaikan pengakuan iman yang luar biasa bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup,” ia justru ditegur dengan sangat keras oleh Yesus ketika menolak rencana penyaliban di Yerusalem. Yesus bahkan bersabda, “Enyahlah, Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Dari peristiwa ini, Pdt. Christian menyimpulkan ciri utama pengikut Yesus yang sejati:
Ciri Murid Sejati: Seseorang yang menempatkan firman Tuhan sebagai standar tertinggi dan secara konsisten menyelaraskan hidupnya dengan pikiran serta kehendak Allah, bukan berdasarkan ambisi atau pemikiran manusia.
Menjadi Pengikut Yesus yang Sejati
Berdasarkan Matius 16:24, Yesus memberikan tiga syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang berkomitmen mengikut Diri-Nya. Syarat-syarat ini bukanlah pilihan opsional, melainkan sebuah keharusan (imperatif).
[Menyangkal Diri] ──> [Memikul Salib] ──> [Mengikut Yesus]
- Menyangkal Diri
Menyangkal diri berarti berani berkata “Tidak” terhadap keinginan pribadi atau tawaran dunia yang berdosa, dan berkata “Ya” terhadap kehendak Allah. Langkah ini menuntut kedewasaan untuk mempelajari firman Tuhan agar kita mampu memahami standar kekudusan Allah di tengah godaan.
- Memikul Salib
Jika “Kuk” (cook) melambangkan kerja keras dalam melayani, maka “Salib” adalah lambang kematian total dari keegoisan dan kesiapan untuk berkorban. Memikul salib berarti siap membayar harga, menanggung risiko dibenci karena kebenaran, bahkan siap menyerahkan nyawa demi kesetiaan kepada Kristus.
- Mengikut Yesus
Mengikut Yesus adalah tindakan aktif yang berkelanjutan. Langkah ketiga ini merupakan buah nyata dan akibat langsung yang hanya bisa terjadi setelah seseorang konsisten menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari.
Berkat bagi Pengikut Yesus yang Sejati
Mengikut Yesus secara radikal sering kali mendatangkan rasa takut akan kehilangan—baik kehilangan kenyamanan, materi, waktu, karier, hingga reputasi. Namun, Yesus memberikan sebuah paradoks spiritual yang menguatkan di ayat 25:
“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Tuhan menjanjikan berkat sejati di balik kerelaan memikul salib:
- Takut kehilangan karena mempertahankan ego justru akan berujung pada kehilangan esensi hidup yang kekal.
- Rela kehilangan demi Kristus justru akan memperoleh kehidupan, damai sejahtera, dan berkat kelimpahan rohani yang sejati (bahkan beratus kali lipat).
Hubungan antara Keselamatan dan Pemuridan
Banyak orang terjebak pada pertanyaan: Jika kita sudah percaya kepada Yesus tetapi tidak hidup menyangkal diri, apakah kita tetap selamat?
Pdt. Christian menegaskan bahwa keselamatan (tinggal di dalam Kristus) dan pemuridan (firman-Nya tinggal di dalam kita) adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
- Tanda Kehidupan yang Sehat: Sama seperti seorang bayi yang lahir normal pasti akan mengalami proses pertumbuhan, haus, dan lapar, demikian pula orang yang telah lahir baru di dalam Kristus pasti memiliki kerinduan untuk bertumbuh melalui firman-Nya.
- Evaluasi Diri: Progresivitas pertumbuhan rohani setiap orang memang berbeda, namun tanda pertumbuhan itu harus ada. Jika hidup seseorang sama sekali tidak menunjukkan buah penyangkalan diri dan ketaatan, maka patut dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar telah mengalami keselamatan atau baru sebatas “Kristen KTP”.
Perjalanan iman Rasul Petrus adalah contoh nyata. Meski sempat jatuh dan menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, melalui proses pemulihan dan kepenuhan Roh Kudus, ia bertumbuh menjadi murid sejati yang setia membayar harga sampai akhir hayatnya.
Sebagai pengikut Kristus di masa kini, kita tidak berjalan sendirian. Roh Kudus senantiasa dianugerahkan untuk memampukan, menolong, dan memberi kekuatan bagi kita dalam menjalani proses pemuridan ini setiap hari. Amin.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=U97vMfmaWzA&list=PLq3TKKy-o2QE3dBwzhQlPZsDq0ck96xTl&index=5
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
