07 October 2026

Pernikahan Kristen Bukan Sekadar Janji dan Administrasi: Tentang Iman, Kekudusan, dan Komitmen Seumur Hidup

Radio Tangerang Heartline FM – Pernikahan sering kali dipandang sebagai sebuah momen bahagia: dua orang saling mencintai, mengucapkan janji, kemudian membangun kehidupan bersama. Namun dalam kekristenan, pernikahan tidak berhenti pada persoalan cinta, pesta, ataupun kelengkapan administrasi gereja.

Dr. Andi Hukom mengajak kita untuk melihat kembali makna pernikahan Kristen secara lebih mendalam. Menurutnya, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral karena di dalamnya terdapat kesatuan hidup, iman, tanggung jawab, dan komitmen di hadapan Tuhan.

Dasar pembahasan diambil dari Kejadian 2:23-25. Dalam bagian tersebut digambarkan bagaimana seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya, bersatu dengan istrinya, dan keduanya menjadi satu daging.

Menurut Dr. Andi, menjadi “satu daging” tidak hanya berbicara mengenai hubungan fisik. Kesatuan itu juga mencakup roh, jiwa, tubuh, persepsi, perasaan, dan pengharapan.

Karena itu, ketika salah satu pasangan melukai pasangannya, sesungguhnya ia sedang melukai bagian dari dirinya sendiri. Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik maupun emosional, bertentangan dengan hakikat kesatuan yang seharusnya dibangun dalam pernikahan.

Kesamaan Iman Harus Menjadi Dasar

Salah satu hal yang ditekankan dalam pembahasan tersebut adalah pentingnya kesatuan iman sebelum seseorang melangkah menuju pernikahan.

Dr. Andi menilai bahwa pasangan yang hendak menikah perlu terlebih dahulu memastikan kesamaan iman. Setelah itu, pasangan perlu membangun kesamaan persepsi, emosi, dan pengharapan.

Dengan kata lain, proses membangun hubungan tidak seharusnya dibalik. Hubungan fisik tidak boleh menjadi dasar utama, sementara persoalan iman dan kedewasaan justru diletakkan belakangan.

Pernikahan juga bukan sesuatu yang cukup diselesaikan dengan tanda tangan, dokumen, atau pemberkatan. Ada proses pembinaan yang perlu dilakukan sebelum seseorang memasuki kehidupan pernikahan. Karena itulah bimbingan pranikah memiliki peranan penting dalam mempersiapkan calon suami dan istri.

Pernikahan Bukan Sekadar Urusan Administrasi

Dalam praktiknya, gereja memang memiliki tanggung jawab untuk mengatur administrasi pernikahan. Namun menurut Dr. Andi, tugas gereja tidak boleh berhenti pada urusan administrasi.

Gereja memiliki tanggung jawab untuk membimbing umat agar kehidupan mereka berjalan dalam kekudusan, termasuk ketika memasuki kehidupan pernikahan.

Bahkan, ketika seorang hamba Tuhan memberkati sebuah pernikahan, tanggung jawabnya tidak semestinya berhenti pada saat acara selesai. Ia juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal dan membimbing pasangan yang telah diberkatinya.

Hal ini menjadi pengingat bahwa pernikahan Kristen seharusnya dipersiapkan dengan serius. Jangan sampai pemberkatan menjadi sekadar acara formal, sementara pasangan belum benar-benar memahami tanggung jawab yang akan mereka jalani.

Apakah Pernikahan Harus Menghasilkan Anak?

Pertanyaan lain yang sering muncul dalam kehidupan pernikahan adalah tentang anak.

Dalam pembahasan tersebut, Dr. Andi menekankan bahwa tujuan utama pernikahan bukan semata-mata menghasilkan keturunan. Pernikahan dipandang sebagai proses di mana suami dan istri saling menolong untuk semakin mencerminkan gambar Allah.

Karena itu, pasangan yang tidak memiliki anak tidak seharusnya merasa bahwa pernikahan mereka kehilangan makna. Kehadiran anak merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah pernikahan.

Pandangan ini juga menjadi penting di tengah tekanan sosial yang masih sering dialami pasangan yang belum memiliki anak. Pernikahan tidak seharusnya dinilai hanya dari kemampuan menghasilkan keturunan.

Poligami: Jangan Hanya Mengambil Contoh dari Alkitab

Pembahasan mengenai poligami juga menjadi salah satu pertanyaan menarik dalam program tersebut.

Dr. Andi menggunakan pengalaman tokoh-tokoh Alkitab sebagai bahan refleksi. Ia mengingatkan bahwa adanya kisah seseorang yang memiliki lebih dari satu istri di dalam Alkitab tidak otomatis berarti praktik tersebut menjadi contoh yang harus diikuti.

Ia bahkan menggunakan kisah Salomo sebagai salah satu contoh bahwa banyaknya pasangan bukan jaminan bagi kehidupan keluarga yang baik. Menurutnya, perhatian yang terbagi dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk membangun kehidupan spiritual keluarganya dengan baik.

Dengan nada sederhana, ia menyampaikan logika bahwa jika membangun kesatuan dengan satu pasangan saja sudah membutuhkan proses panjang, maka menambah pasangan bukanlah solusi sederhana.

Perceraian Bukan Jalan Keluar

Salah satu bagian paling tegas dalam pembahasan adalah mengenai perceraian.

Dr. Andi menyampaikan pandangan bahwa pernikahan Kristen perlu dipertahankan dan bahwa perceraian tidak seharusnya menjadi pilihan pertama ketika muncul persoalan dalam rumah tangga.

Ia bahkan mengatakan, “Perceraian itu bukan jalan keluar. Lebih tepatnya itu keluar dari jalan.”

Namun ketika sebuah rumah tangga mengalami masalah serius, pasangan tidak dianjurkan menghadapi semuanya sendirian. Konseling, pendampingan gembala, dan pertolongan dari orang yang dapat dipercaya dapat menjadi langkah untuk mencari jalan pemulihan.

Dalam pembahasan lanjutan, Dr. Andi juga menyinggung tentang “kekerasan hati”. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya buru-buru menyimpulkan bahwa pasangannya sudah tidak dapat berubah. Sikap tersebut justru dapat membuat seseorang menutup pintu bagi kemungkinan pertobatan dan pemulihan.

Pernikahan sebagai Gambaran Hubungan Kristus dan Gereja

Ada satu hal yang membuat pernikahan Kristen memiliki makna yang sangat khusus.

Menurut Dr. Andi, pernikahan menggambarkan hubungan antara Kristus sebagai mempelai laki-laki dan gereja sebagai mempelai perempuan. Karena itu, kehidupan pernikahan orang percaya juga menjadi kesaksian iman kepada dunia.

Pernikahan bukan hanya tentang bagaimana dua orang hidup bersama, tetapi juga tentang bagaimana mereka menunjukkan nilai kesetiaan, kekudusan, kasih, dan komitmen.

Dengan demikian, ketika sebuah pernikahan dipermainkan melalui perselingkuhan, perceraian yang sembrono, atau hubungan yang tidak setia, persoalannya bukan hanya menyangkut dua pribadi. Ada kesaksian iman yang ikut dipertaruhkan.

Pernikahan Perlu Dipersiapkan, Bukan Sekadar Dirayakan

Pada akhirnya, pembahasan tentang pernikahan Kristen membawa kita kepada sebuah kesadaran sederhana: pernikahan jauh lebih besar daripada sebuah pesta.

Ada iman yang harus dipersiapkan. Ada karakter yang harus dibentuk. Ada emosi yang harus dikelola. Ada komunikasi yang harus dibangun. Ada tanggung jawab yang harus dipikul bersama.

Pernikahan bukan sekadar tentang menemukan orang yang kita cintai, tetapi juga belajar menjadi pasangan yang mampu mengasihi, menghormati, mengampuni, dan bertumbuh bersama.

Dalam kesimpulannya, Dr. Andi menegaskan tiga hal utama mengenai keunikan pernikahan Kristen: kesatuan iman, kesatuan antara laki-laki dan perempuan, serta pernikahan sebagai gambaran hubungan Kristus dengan gereja.

Karena itu, sebelum mengatakan “ya” di depan altar, ada baiknya setiap pasangan terlebih dahulu bertanya: Apakah kami benar-benar siap membangun kehidupan bersama di hadapan Tuhan?

Sebab pernikahan bukan hanya tentang siapa yang kita pilih untuk mendampingi hidup kita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani panggilan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan menjaga kekudusan yang telah dipercayakan Tuhan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=EJmLV42Gm38