Takkan Berakhir: Ketika Dunia Berkata Selesai, Tuhan Sedang Memulai Sesuatu yang Baru
Radio Tangerang Heartline FM – Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang merasa semuanya telah berakhir. Karier berhenti, bisnis mengalami kegagalan, hubungan berakhir, pintu kesempatan tertutup, atau pergumulan terasa begitu panjang hingga muncul pertanyaan, “Sampai kapan semua ini akan berakhir?”
Namun, melalui lagu “Takkan Berakhir”, Pastor Jonathan Prawira mengajak setiap orang untuk melihat keadaan dari sudut pandang iman. Ketika dunia berkata “it’s over”, Tuhan justru dapat sedang melakukan “starting over”—memulai kembali sesuatu yang baru.
Pesan tersebut disampaikan Pastor Jonathan Prawira dalam perbincangannya di program Firman dalam Pujian pada Selasa (06/10). Menurutnya, banyak orang saat ini mudah merasa hidupnya telah selesai ketika menghadapi kegagalan atau kehilangan. Padahal, berakhirnya satu keadaan tidak selalu berarti berakhirnya rencana Tuhan.
“Ketika dunia mengatakan it’s over, justru Tuhan mengatakan sedang starting over and over and over again.”
Iman yang Menjadi Antena
Salah satu gambaran menarik yang disampaikan Pastor Jonathan adalah tentang iman seperti sebuah antena. Tuhan tetap bekerja, tetapi iman menolong seseorang untuk menangkap dan menyadari pekerjaan Tuhan dalam kehidupannya.
Seperti radio yang harus berada pada frekuensi yang tepat agar suara dapat terdengar dengan jelas, demikian pula kehidupan iman membutuhkan hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Karena itu, ketika keadaan semakin sulit, bukan saatnya mematikan “antena” iman. Justru seseorang perlu semakin mendekat kepada Tuhan dan memperkuat keyakinannya.
Pastor Jonathan menegaskan bahwa iman bukan berarti Tuhan baru bekerja ketika manusia percaya. Tuhan tetap bekerja sebagai Tuhan. Namun, iman membuat manusia mampu menangkap apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Jangan Menganggap Pergumulan sebagai Akhir
Dalam kehidupan, penderitaan dan penolakan sering kali membuat seseorang menganggap dirinya sudah gagal. Bahkan, ada orang yang menganggap kesulitan sebagai tanda bahwa hidupnya memang ditakdirkan untuk terus menderita.
Padahal, menurut Pastor Jonathan, peringatan Yesus tentang penganiayaan bukan berarti umat Tuhan harus menyerah pada keadaan. Justru orang percaya dipanggil untuk tetap berdiri dan berjalan menuju kemenangan.
Ia mengingatkan bahwa yang menentukan bukan semata-mata lingkungan, kondisi ekonomi, atau keadaan yang sedang dialami, melainkan bagaimana seseorang merespons keadaan tersebut.
Spirit pemenang tidak berarti tidak pernah mengalami masalah. Spirit pemenang berarti tidak membiarkan masalah menentukan akhir cerita.
Hidup Tidak Pernah Benar-Benar Stagnan
Ada sebuah ilustrasi sederhana yang pernah disampaikan ayah Pastor Jonathan kepadanya: kehidupan manusia seperti sebuah perahu di tengah laut.
Perahu tidak pernah benar-benar diam. Jika tidak bergerak maju, arus akan mendorongnya mundur.
Demikian pula kehidupan. Ketika seseorang berkata, “Saya begini saja,” sebenarnya ia perlu berhati-hati karena dunia terus bergerak. Tidak melakukan sesuatu bukan berarti tetap berada di tempat yang sama. Bisa jadi, seseorang justru sedang mengalami kemunduran.
Karena itu, diperlukan tindakan dan usaha. Namun, perjuangan tersebut bukan berarti manusia harus mengandalkan kekuatannya sendiri. Ada pertolongan Tuhan yang memampukan seseorang untuk terus maju, naik lebih tinggi, dan melangkah lebih jauh.
Harapan Membuat Kita Terus Berjalan
Salah satu pesan terbesar dari “Takkan Berakhir” adalah tentang pengharapan.
Ketika hubungan berakhir, kontrak pekerjaan selesai, bisnis mengalami kegagalan, atau karier harus berhenti, manusia mudah mengatakan, “Ini sudah selesai.”
Namun, Pastor Jonathan mengajak untuk melihat kemungkinan lain. Bisa jadi sesuatu memang berakhir, tetapi bukan berarti seluruh kehidupan ikut berakhir.
Justru di tengah sesuatu yang selesai, Tuhan dapat sedang membuka awal yang baru.
“Ketika dunia berkata it’s over, di situ Tuhan sedang starting over and over and over again.”
Pengharapan membuat seseorang mampu berkata, “Kisah saya belum selesai.”
Selama seseorang masih hidup, masih ada kesempatan untuk melihat rencana Tuhan bekerja. Karena itu, jangan terburu-buru menentukan akhir cerita hanya berdasarkan keadaan hari ini.
Mengenal Tuhan yang Kekal
Dasar dari pengharapan tersebut bukan sekadar berpikir positif. Menurut Pastor Jonathan, pengharapan berakar pada pengenalan akan siapa Tuhan.
Ia mengangkat gambaran tentang Tuhan sebagai El Olam, Allah yang kekal. Mengacu pada Yesaya 40:28, Tuhan adalah Allah yang tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu.
Jika Tuhan yang menjadi sumber pengharapan adalah Tuhan yang kekal, maka manusia memiliki alasan untuk tetap berharap meskipun keadaan berubah.
Kerajaan-kerajaan besar dalam sejarah dapat runtuh. Kejayaan manusia dapat berakhir. Jabatan, pekerjaan, bisnis, hubungan, bahkan berbagai pencapaian dapat berubah. Namun, Tuhan tetap menjadi Tuhan.
Karena itu, masalah yang sedang dihadapi seseorang bukanlah sesuatu yang lebih besar daripada Tuhan.
Kasih Tuhan Tidak Berakhir
Hal lain yang menjadi penekanan adalah kasih Tuhan.
Manusia dapat mengalami hubungan yang berakhir. Persahabatan dapat berubah. Hubungan kerja dapat selesai. Bahkan hubungan yang dahulu dipenuhi kasih dapat berubah menjadi kekecewaan.
Namun, kasih Tuhan tidak bergantung pada perubahan keadaan manusia.
Pastor Jonathan mengaitkannya dengan Yeremia 31:3 tentang kasih Tuhan yang kekal. Karena itu, ketika seseorang kehilangan kasih atau hubungan tertentu, ia tidak perlu menyimpulkan bahwa dirinya telah kehilangan seluruh kasih dalam hidupnya.
Sesuatu mungkin over, tetapi kasih Tuhan tetap berjalan.
Yang berakhir bukan berarti semuanya berakhir.
Pintu yang satu dapat tertutup, tetapi Tuhan dapat membuka pintu yang lain. Jalan yang satu mungkin berhenti, tetapi masih ada jalan berikutnya yang belum terlihat.
Tidak Ada “Tanggal Kedaluwarsa” untuk Panggilan Tuhan
Pesan menarik lainnya adalah bahwa manusia sering memberikan batas pada dirinya sendiri.
Ketika gagal pada usia tertentu, seseorang merasa sudah terlambat. Ketika karier berhenti, ia merasa tidak akan memiliki kesempatan lagi. Ketika sebuah pintu tertutup, ia menganggap tidak ada pintu berikutnya.
Namun, Pastor Jonathan mengingatkan tentang Pengkhotbah 3:11 yang berbicara mengenai kekekalan yang Tuhan taruh dalam hati manusia.
Karena itu, jangan mudah menerima label bahwa diri kita sudah selesai.
Kisah Musa juga menjadi gambaran. Musa memang tidak masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi kisahnya tidak berhenti begitu saja. Dalam peristiwa Yesus dimuliakan, Musa kembali hadir bersama Elia.
Demikian pula Daud. Ia memang telah meninggal, tetapi karya dan mazmurnya tetap berbicara kepada banyak generasi sampai hari ini.
Selalu Ada Tombol “Start Over”
Pastor Jonathan memberikan ilustrasi sederhana dari permainan Mario Bros.
Dalam permainan, ketika karakter mengalami game over, masih ada pilihan untuk melakukan continue atau memulai kembali.
Gambaran tersebut menjadi refleksi kehidupan. Ketika dunia mengatakan seseorang sudah game over, bukan berarti Tuhan mengatakan hal yang sama.
Masih ada kesempatan untuk memulai kembali.
Mungkin pintu berikutnya tidak berbentuk seperti yang kita bayangkan. Mungkin jalannya berbeda. Namun, bukan berarti jalan itu salah.
Tuhan dapat membawa seseorang kepada sesuatu yang baru melalui jalan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Badai Pun Bisa Dipakai Tuhan
Pergumulan tidak selalu langsung hilang. Terkadang seseorang justru masih harus berjalan melewati badai.
Namun, badai pun dapat digunakan Tuhan untuk membuka jalan.
Pastor Jonathan menggambarkan bagaimana Tuhan menggunakan keadaan yang tampaknya mustahil dalam kisah bangsa Israel. Laut yang menghadang justru menjadi bagian dari jalan yang Tuhan bukakan bagi mereka.
Dengan demikian, jangan selalu melihat badai sebagai bukti bahwa Tuhan meninggalkan kita.
Bisa saja badai yang sedang kita hadapi justru sedang dipakai Tuhan untuk membawa kita menuju tempat yang baru.
Begitu pula kegagalan. Sesuatu yang terlihat sebagai kegagalan hari ini dapat menjadi bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar di kemudian hari.
Jangan Setuju dengan Keputusasaan
Di bagian akhir percakapan, Pastor Jonathan menyampaikan pesan yang kuat: jangan membuat kesepakatan dengan keputusasaan.
Jangan membiarkan kekecewaan menentukan masa depan. Jangan membiarkan kepahitan menjadi identitas. Jangan menganggap kegagalan sebagai akhir dari seluruh cerita.
Sebaliknya, pilih untuk mempercayai firman Tuhan.
“It’s not over until it’s over.”
Selama Tuhan belum mengatakan selesai, jangan terburu-buru mengatakan bahwa hidup kita sudah selesai.
Ada kemungkinan Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang baru.
Hidupmu Belum Tamat
Pada akhirnya, “Takkan Berakhir” bukan hanya sebuah lagu. Pesannya adalah sebuah pengingat bagi siapa pun yang sedang berada di titik terendah.
Ketika pekerjaan hilang, bukan berarti masa depan hilang.
Ketika bisnis gagal, bukan berarti seluruh peluang telah habis.
Ketika sebuah hubungan berakhir, bukan berarti hidup kehilangan makna.
Ketika satu pintu tertutup, bukan berarti tidak ada pintu lain.
Dan ketika seseorang merasa semuanya sudah berakhir, bisa jadi Tuhan sedang berkata:
“Ini bukan akhir. Ini adalah awal yang baru.”
Karena itu, tetaplah berharap. Tetaplah melangkah. Tetaplah percaya.
Tuhan yang kekal tidak pernah kehabisan cara untuk bekerja.
Seperti doa Pastor Jonathan di akhir perbincangan, kiranya tidak ada lagi keputusasaan, kekecewaan, dan kepahitan yang membuat seseorang merasa hidupnya telah berakhir. Sebab Tuhan adalah Allah yang kekal, yang tidak pernah lelah, tidak pernah lesu, dan kasih-Nya tidak pernah berakhir.
Hidupmu belum tamat. Mungkin hidupmu hanya sedang mengalami “starting over”. Ada sesuatu yang baru yang Tuhan sedang sediakan.
