Mengenal Alopesia: Bukan Sekadar Rambut Rontok, Kenali Penyebab dan Penanganannya
Radio Tangerang Heartline FM — Kerontokan dan kebotakan rambut sering kali dianggap sebagai persoalan biasa, terutama ketika seseorang mengalami stres, perubahan hormon, atau bertambahnya usia. Namun, kondisi tersebut dapat memiliki berbagai penyebab dan dalam dunia medis dikenal dengan istilah alopesia.
Hal tersebut dibahas dalam program Suara untuk Negeri bersama dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp.KK, FINSDV, FAADV. Ia menjelaskan bahwa alopesia pada dasarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi hilangnya rambut atau kebotakan.
“Alopesia sendiri sebenarnya artinya ke kerontokan atau kebotakan,” ujar dr. Amaranila.
Berbagai Jenis Alopesia
Menurut dr. Amaranila, alopesia memiliki berbagai jenis dan penyebab. Salah satunya adalah alopesia areata, yaitu kondisi kerontokan rambut yang dapat muncul secara setempat atau berbentuk pitak. Dalam kondisi yang lebih berat, kerontokan bahkan dapat meluas hingga seluruh kepala atau seluruh tubuh.
Alopesia yang mengenai seluruh kepala disebut alopesia totalis, sedangkan kondisi ketika rambut di seluruh tubuh, termasuk alis dan rambut lainnya, mengalami kerontokan disebut alopesia universalis.
Alopesia areata sendiri berkaitan dengan gangguan sistem imun. Dr. Amaranila menjelaskan bahwa sistem imun tubuh dapat menyerang akar rambut sehingga rambut tidak dapat tumbuh secara normal.
“Jadi badan kita, sel badan kita memakan atau mendestruksi atau merusak selnya sendiri,” jelasnya.
Stres Dapat Menjadi Salah Satu Pemicu
Meskipun penyebab pasti alopesia areata masih belum diketahui, dr. Amaranila menyebut stres atau trauma psikologis dapat menjadi salah satu pemicunya. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan penyakit autoimun lainnya, termasuk gangguan pada kelenjar tiroid.
Karena itu, pemeriksaan tidak hanya berfokus pada rambut yang mengalami kerontokan, tetapi juga perlu mencari kemungkinan penyebab atau kondisi lain yang mendasarinya.
Tidak Semua Kerontokan Berarti Alopesia Areata
Dokter juga menjelaskan bahwa kerontokan rambut dapat terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor genetik yang dikenal sebagai androgenetic alopecia. Kondisi ini dapat dialami laki-laki maupun perempuan dan berkaitan dengan faktor keturunan serta sensitivitas terhadap hormon androgen.
Selain itu, kerontokan juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami penyakit tertentu, infeksi, stres, kurang tidur, diet, hingga setelah kehamilan. Kondisi kerontokan setelah melahirkan, misalnya, dikenal sebagai telogen effluvium, yaitu kondisi ketika rambut memasuki fase rontok.
Dr. Amaranila mengingatkan agar masyarakat tidak langsung panik ketika mengalami kerontokan rambut.
“Jadi jangan panik dulu,” katanya ketika menjelaskan mengenai fase telogen yang secara umum dapat berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan.
Penanganan Bergantung pada Penyebab
Penanganan alopesia tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada jenis dan penyebabnya. Pada alopesia areata yang berkaitan dengan autoimun, dokter dapat memberikan terapi untuk menekan proses peradangan dan aktivitas sistem imun yang berlebihan.
Salah satu terapi yang dijelaskan adalah penggunaan kortikosteroid. Untuk kondisi tertentu, terapi dapat diberikan melalui suntikan pada area yang mengalami kebotakan. Sementara pada kondisi yang lebih berat, dokter dapat mempertimbangkan pengobatan lain, termasuk obat yang diminum atau imunoterapi.
Setelah proses peradangan berhasil dikendalikan, terapi lain dapat digunakan untuk membantu merangsang pertumbuhan rambut. Salah satunya adalah penggunaan laser pada kondisi tertentu.
Jangan Menunda Pemeriksaan
Dr. Amaranila menekankan pentingnya pemeriksaan medis bagi seseorang yang mengalami kerontokan atau kebotakan yang tidak biasa. Hal ini penting karena pada sebagian orang rambut dapat tumbuh kembali dengan sendirinya, tetapi pada kondisi lain kerontokan dapat terus berkembang.
“Tapi kalau kita masuk yang kata progresif lama-lama dari cuma satu pitak, dua pitak, tiga pitak, ternyata seluruh kepala kena. Nah, jangan terlambat karena kita harus ngobati cepat,” tegasnya.
Dengan demikian, alopesia bukan sekadar persoalan penampilan. Kerontokan rambut dapat memiliki berbagai penyebab, mulai dari faktor genetik, hormonal, infeksi, kondisi setelah sakit, hingga gangguan autoimun. Karena itu, mengenali pola kerontokan dan mendapatkan pemeriksaan yang tepat menjadi langkah penting agar penanganan dapat disesuaikan dengan penyebabnya.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
