Krisis Paruh Baya Bukan Akhir, tetapi Kesempatan Menata Ulang Kehidupan
Radio Tangerang Heartline FM — Krisis paruh baya atau midlife crisis merupakan fase yang dapat dialami seseorang pada usia sekitar 40 hingga 60 tahun. Fase ini ditandai dengan munculnya pertanyaan mengenai pencapaian hidup, keluarga, karier, kesehatan, keuangan, hingga tujuan hidup.
Hendri Bun, Founder Resilent Generation Coach, Trainer & Writer, dalam program siaran Heartline mengatakan krisis paruh baya bukan sekadar persoalan usia, tetapi lebih berkaitan dengan kondisi mental dan psikologis seseorang.
“Kalau krisis paruh baya itu bicara tentang kondisi mental, kondisi psikologis,” ujar Hendri.
Ia menjelaskan, seseorang pada usia 40 tahun ke atas mulai melakukan refleksi terhadap berbagai pencapaian yang telah diraih. Kekhawatiran terhadap masa pensiun, kondisi keuangan, kesehatan, hubungan keluarga, serta berkurangnya lingkungan pertemanan dapat menjadi pemicu.
Hendri menyebut terdapat delapan aspek kehidupan yang perlu diperhatikan, yakni keluarga, kesehatan, keuangan, karier, sosial, kesenangan, spiritual, dan pengembangan diri. Menurutnya, ketidakseimbangan dalam salah satu aspek tersebut dapat memengaruhi kondisi seseorang.
Untuk menghadapi krisis paruh baya, Hendri menyarankan tiga hal, yaitu kesadaran diri, merumuskan kembali tujuan hidup, dan membangun support system.
“Jangan sendiri lah. Pokoknya jangan sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak terjebak dalam penyesalan ketika melakukan refleksi kehidupan. Menurutnya, usia 40 tahun bukan berarti kesempatan untuk berkembang telah berakhir. Justru, fase tersebut dapat menjadi momentum untuk merencanakan kembali kehidupan.
“Memiliki tujuan yang tinggi itu justru harus kita tetap patok seumur hidup,” ujar Hendri.
Karena itu, krisis paruh baya sebaiknya tidak dipandang sebagai ancaman semata. Hendri mengajak masyarakat melihat fase tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki keseimbangan hidup dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.
“Kita bisa melihat krisis itu sebagai sebuah peluang, kesempatan untuk kita menata ulang hidup kita,” pungkasnya.(MA)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
