Makna Menjadi Tionghoa Indonesia
Radio Tangerang Heartline FM – TANGERANG BANTEN – Radio Heartline 100.6 FM menghadirkan special talkshow dan eksklusif dipandu oleh Pak Le, menghadirkan Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Banten, Bapak Surjadi, dengan tema “Menjadi Tionghoa, Menjadi Indonesia: Peran, Tantangan, dan Harapan.”
Talkshow ini menjadi ruang dialog yang hangat dan reflektif, mengajak pendengar melihat identitas kebangsaan bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai ruang kontribusi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Dalam perbincangan tersebut, Surjadi memaknai menjadi Tionghoa Indonesia adalah menghidupi dua identitas secara utuh. Ia menegaskan bahwa dirinya lahir, besar, dan berusaha di Indonesia, sehingga seluruh perjalanan hidupnya tidak bisa dilepaskan dari tanah air ini.
“Menjadi Tionghoa Indonesia bukan soal memilih identitas, tapi menghidupi keduanya dengan utuh. Nilai-nilai seperti kerja keras, menghormati orang tua, dan menjaga kepercayaan justru membantu saya berkontribusi bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengalaman hidup panjang mengajarkannya bahwa yang terpenting bukan asal-usul seseorang, melainkan apa yang dapat dilakukan untuk sesama. Menurutnya, menjadi Tionghoa Indonesia berarti hidup sederhana, rendah hati, bekerja jujur, serta ikut menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa.
PSMTI: Paguyuban dan Ruang Pengabdian
Dari diskusi ini kemudian mengalir pada peran PSMTI di tengah masyarakat. Surjadi menjelaskan bahwa meskipun sering disebut paguyuban, PSMTI tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan wadah kebersamaan dan ruang pengabdian sosial.
PSMTI berperan menjaga persatuan warga Tionghoa agar tetap berakar pada budaya, sekaligus terbuka dan menyatu dengan masyarakat Indonesia. Selain itu, PSMTI aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan lintas suku dan agama, serta menjadi jembatan dialog dengan pemerintah dan komunitas lain untuk membangun saling pengertian dan kepercayaan.
“PSMTI bukan organisasi yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari masyarakat Indonesia yang ingin ikut menjaga persaudaraan, kebhinekaan, dan keutuhan bangsa,” tegasnya.
Jejak Sejarah dan Kontribusi Tionghoa Indonesia
Dalam talkshow tersebut juga dibahas sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia. Surjadi menjelaskan bahwa komunitas Tionghoa telah hadir di Nusantara sejak ratusan tahun lalu, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Para perantau dan pedagang dari Tiongkok telah menetap, berkeluarga, dan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat di berbagai wilayah, termasuk Banten.
Seiring perjalanan sejarah tersebut, Tionghoa Indonesia turut berkontribusi di berbagai bidang. Di bidang pendidikan, kontribusi diwujudkan melalui pendirian sekolah, pemberian beasiswa, dan pengelolaan lembaga pendidikan yang terbuka bagi semua kalangan. Di bidang sosial, keterlibatan tampak dalam kegiatan kemanusiaan, bantuan bencana, dan layanan kesehatan lintas agama.
Sementara di bidang politik, kontribusi dilakukan melalui partisipasi sebagai warga negara, baik sebagai wakil rakyat maupun dalam mengawal kebijakan publik, tanpa membawa kepentingan organisasi. Di bidang kebudayaan, Tionghoa Indonesia memperkaya budaya Nusantara melalui proses akulturasi dalam seni, kuliner, tradisi, dan nilai-nilai keluarga.
“Kontribusi itu bukan soal menonjolkan identitas, tapi ikut membangun Indonesia bersama-sama,” ujarnya.
Merawat Kebhinekaan dan Tantangan Zaman
Memasuki sesi lanjutan, pembahasan berfokus pada pentingnya merawat kebhinekaan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Surjadi menegaskan bahwa bagi PSMTI, kebhinekaan bukan slogan, melainkan praktik sehari-hari.
PSMTI membangun relasi lintas suku dan agama melalui silaturahmi, kolaborasi kegiatan sosial, serta dialog terbuka. Menurutnya, kebersamaan akan tumbuh ketika masyarakat saling mengenal dan bekerja bersama untuk tujuan kemanusiaan.
Ia juga menilai PSMTI semakin penting di era sekarang, ketika perbedaan mudah disalahpahami akibat derasnya arus informasi. Dalam konteks ini, PSMTI hadir sebagai ruang kebersamaan dan penyejuk, sekaligus jembatan dialog agar tidak terjadi sekat dan prasangka di masyarakat.
Harapan dan Pesan Penutup
Menutup talkshow, Surjadi menegaskan bahwa Tionghoa Indonesia adalah bagian utuh dari bangsa Indonesia, dan keberagaman merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama. Ia menyampaikan bahwa PSMTI terbuka untuk kolaborasi sosial dengan berbagai elemen bangsa demi menjaga persatuan dan kebersamaan.
Host acara menutup perbincangan dengan pesan bahwa apa pun latar belakang suku, budaya, dan keyakinan, setiap warga memiliki peran untuk menjaga persaudaraan dan berkontribusi bagi Indonesia.
“PSMTI hadir bukan hanya untuk Tionghoa, tapi untuk Indonesia,” menjadi pesan kunci yang mengakhiri talkshow tersebut.
Informasi lebih lanjut mengenai PSMTI Banten dapat diakses melalui laman resmi psmtibanten.com.
#PSMTI #PSMTIBanten #TionghoaIndonesia #MenjadiTionghoaMenjadiIndonesia #Kebhinekaan #BhinnekaTunggalIka #PersatuanBangsa #HeartlineFM #TalkshowRadio #MerawatKebhinekaan
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:



