10 December 2025

Ho-Ho-History: Mengulik Asal Usul Sinterklas

“Sinterklas bukan hanya pembawa hadiah, tapi juga influencer paling sukses sepanjang sejarah.”

Radio Lampung Heartline FM – Sinterklas bukan sekadar pria berjanggut putih yang hobi bagi-bagi hadiah. Ia punya sejarah panjang, penuh kejutan, dan sedikit “plot twist” yang bikin kita sadar: ternyata tokoh ini lebih serius daripada sekadar ikon iklan minuman bersoda.

Membicarakan Natal rasanya kurang lengkap tanpa mengikutsertakan Sinterklas. Kendati demikian, tidak banyak dari kita yang tahu mengapa sosok ini begitu ikonik hingga senantiasa muncul dalam perayaan Natal.

ASAL USUL

Sinterklas atau Santo Nikolas hidup pada masa kekuasaan Kaisar Konstantinus Agung. Riwayat mencatat bahwa ia lahir pada tahun 270 di Patara, sebuah kota di Lycia yang sekarang bagian dari Turki. Nikolas, yang kemudian menjabat sebagai uskup di Myra, dikenal karena keteguhan imannya dan kasih sayangnya yang besar.

Walaupun detail kehidupannya tidak terdokumentasi secara rinci, legenda menceritakan perjalanan-perjalanannya ke Palestina dan Mesir saat masih muda.

Nikolas kehilangan kedua orang tuanya pada usia muda dan mewarisi kekayaan yang melimpah. Namun, ia memilih untuk menggunakan harta tersebut untuk membantu orang-orang yang membutuhkan

Salah satu cerita paling terkenal mengenai Santo Nikolas adalah ketika ia membantu tiga saudari miskin yang akan dijual oleh ayah mereka ke dalam perbudakan atau prostitusi. Untuk mencegah nasib tragis menimpa mereka, Nikolas memberikan uang kepada mereka untuk membayar mas kawin agar bisa menikah.

Santo Nikolas menjadi terkenal di seluruh Eropa pada abad pertengahan setelah relikuinya “diselamatkan” dari Myra dan dibawa ke Italia pada tahun 1087. Kisah-kisah kemurahan hatinya melahirkan tradisi pemberian hadiah kepada anak-anak setiap menjelang 6 Desember atau dikenal juga sebagai Hari Santo Nikolas.

Transformasi menjadi Sinterklas

Transformasi Santo Nikolas menjadi Sinterklas terjadi secara bertahap, dipengaruhi oleh perkembangan budaya dan agama. Seiring berjalannya waktu, istilah “Sinterklaas” yang telah populer di Belanda diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi “Santa Claus”. Popularitas Santa terus meningkat setelah gelombang imigran Eropa membawa tradisi Santo Nikolas ke Amerika. Pada akhir abad ke-18, Santo Nikolas mulai diadopsi oleh penduduk Amerika. Pada bulan Desember 1773- 1774, dilaporkan bahwa sekelompok keluarga Belanda di New York berkumpul untuk menghormati peringatan kematian Santo Nikolas.

Salah satu catatan paling awal tentang Santa di budaya Amerika dapat ditemukan dalam buku yang diterbitkan oleh Washington Irving pada tahun 1809, “Knickerbocker’s History of New York.” Buku ini menggambarkan Sinterklas terbang menggunakan kereta sambil memberikan hadiah kepada anak-anak.

Strategi Pemasaran Modern

Penampilan Santa Claus yang kita kenal, terutama dengan setelan merah yang ikonik, tampaknya merupakan hasil dari strategi pemasaran modern dalam wilayah berbahasa Inggris. Di Eropa, kostum Sinterklas cenderung mengikuti citra tradisional seorang santo, dengan pakaian yang lebih menyerupai busana uskup yang bersifat religius, lengkap dengan mitra atau topi keuskupan yang tinggi.

Kapan Sinterklas mulai dikenal di Indonesia?

Di Hindia-Belanda (kini Indonesia), Sinterklas mulai meraih popularitas sejak tahun 1860-an, yang terbukti dari munculnya iklan surat kabar menjelang Sinterklaasfeest. Saat perayaan itu tiba, para orang tua Eropa di Batavia, Semarang, dan Surabaya terlihat mengajak anak-anak mereka mengunjungi toko-toko hadiah.

Toko-toko ini memiliki daya tarik khusus karena dihias dengan tanaman hijau dan bendera. Selain toko mainan, toko-toko roti juga menjadi destinasi favorit para umat Kristen di Jawa. Di sana, mereka bisa berkumpul dengan keluarga sambil menikmati es krim, kue, minuman, sembari menikmati musik. Tak heran jika antrean sering kali panjang ketika Hari Santo Nikolas tiba.

Sinterklaasfeest. KITLV Euforia juga terasa di rumah-rumah orang Eropa. Tidak ada yang tinggal di dalam rumah, mereka keluar untuk bersenang-senang. Setiap individu memiliki cara sendiri untuk merayakan, mulai dari menari hingga bernyanyi di teras bersama tetangga mereka. Sinterklaasfeest di Hindia-Belanda sering dianggap sebagai “periode persaudaraan singkat”.

Bataviaasch Nieuwsblad mencatat bahwa perayaan ini dirayakan oleh semua orang Eropa, baik dari kelompok Eropa totok atau keturunan campuran Indo. 

NILAI KEHIDUPAN DARI TOKOH SINTERKLAS

Sinterklas adalah lebih dari sekadar ikon Natal dengan tawa “Ho-Ho-Ho”. Ia lahir dari teladan nyata Santo Nikolaus, tumbuh melalui tradisi Eropa, lalu bertransformasi menjadi simbol global yang melintasi sejarah, mitologi, dan budaya populer. Di balik kostum merah dan kereta rusa, tersimpan pesan universal: kebaikan yang sederhana mampu menembus zaman dan menyatukan manusia dalam harapan serta sukacita.

Dengan demikian, setiap kali kita melihat sosok Sinterklas, kita sebenarnya sedang merayakan warisan panjang tentang kemurahan hati, imajinasi, dan semangat berbagi—nilai yang tetap relevan, bahkan di dunia modern yang serba cepat.

 

(Yohandi Van Houten)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: