Trauma Pola Asuh Otoriter Orang Tua Bisa “Mencemari” Pengasuhan Anak
Radio Tangerang Heartline FM – Pengalaman masa kecil orang tua ternyata dapat memengaruhi cara mereka mengasuh anak. Trauma akibat pola asuh yang dialami sejak kecil, khususnya pola asuh otoriter, berpotensi terbawa hingga orang tua memiliki keluarga dan anak sendiri.
Tim parenting Yayasan Busur Emas, Deni Surya Saputra, mengatakan, persoalan trauma pengasuhan dapat terjadi secara lintas generasi. Orang tua yang dahulu mengalami tekanan akibat pola asuh otoriter bisa tanpa sadar mengulangi pola yang sama ketika berinteraksi dengan anaknya.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti orang tua sengaja menyakiti anak. Banyak orang tua justru tidak menyadari bahwa pengalaman masa lalu masih memengaruhi respons mereka dalam menghadapi anak.
“Banyak orang tua yang mulai menyadari ketika mereka belajar berkesadaran, ternyata ada sesuatu yang mereka bawa ke pengasuhan dan kepada anak mereka saat ini,” ujar Deni.
Mengenali Pola Asuh Otoriter
Deni menjelaskan, secara umum terdapat beberapa pola pengasuhan, di antaranya otoriter, permisif, dan demokratis. Pola asuh demokratis dinilai lebih sehat karena menggabungkan aturan dengan kasih sayang serta memberikan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai kepribadiannya.
Sementara itu, pola asuh otoriter lebih menekankan kendali dan kepatuhan anak terhadap aturan yang dibuat orang tua.
Dalam pola tersebut, anak cenderung dituntut untuk selalu mengikuti keinginan orang tua tanpa memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat, menjadi dirinya sendiri, maupun menyalurkan aspirasinya.
Deni menegaskan, pengalaman didisiplinkan secara tegas tidak otomatis berarti seseorang mengalami pola asuh otoriter. Menurutnya, hal yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara disiplin, kasih sayang, penerimaan, dan kesempatan bagi anak untuk berkembang.
“Kalau dididik, didisiplin, tetapi tetap dicintai, dikasihi dan diberikan kesempatan untuk menjadi diri sendiri, itu merupakan didikan yang seimbang dengan kasih sayang dan penerimaan tanpa syarat,” jelasnya.
Trauma Bisa Muncul Ketika Menjadi Orang Tua
Menurut Deni, seseorang yang dahulu merasa baik-baik saja dengan pola asuh yang diterimanya dapat mulai menyadari adanya luka ketika dirinya berhadapan dengan generasi anaknya sendiri.
Anak dapat menjadi semacam “cermin” yang membuat orang tua melihat kembali pengalaman masa kecilnya. Ketika anak tidak berperilaku seperti yang dahulu dituntut dari dirinya, orang tua dapat merasa frustrasi dan mulai membandingkan anak dengan dirinya ketika masih kecil.
Misalnya, orang tua berpikir bahwa dirinya dahulu dapat langsung menaati perintah, sehingga anak pun dianggap harus melakukan hal yang sama.
Kondisi inilah yang disebut sebagai “polusi” dalam pengasuhan. Trauma masa lalu yang belum diselesaikan dapat memengaruhi cara orang tua merespons perilaku anak dan akhirnya membuat pola pengasuhan yang sama kembali terjadi.
“Polusinya terjadi ketika kita tanpa sadar mengulang penderitaan yang sama. Kita dulu menderita, dulu tidak mau mengalami hal tersebut, tetapi akhirnya kita meminta anak mengalami hal yang sama,” ungkap Deni.
Dampaknya Tidak Hanya kepada Anak
Trauma pola asuh yang tidak disadari tidak hanya berdampak pada hubungan orang tua dan anak, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan dalam rumah tangga.
Deni menyebut, kondisi tersebut dapat membuat hubungan dengan pasangan terganggu, menurunkan kepuasan dalam pernikahan, serta menimbulkan stres dalam keluarga.
Sementara bagi anak, pola pengasuhan yang terus mengulang pengalaman negatif dapat membuat mereka merasa tidak didengarkan, tidak didukung untuk menjadi dirinya sendiri, dan terbiasa mengikuti aturan karena takut terhadap konsekuensi.
Dalam jangka panjang, pola tersebut berpotensi memengaruhi hubungan anak dengan orang tua dan perkembangan emosionalnya.
Orang Tua Perlu Memulihkan Diri
Untuk memutus rantai trauma pengasuhan, Deni menekankan pentingnya orang tua terlebih dahulu mengenali dan memproses luka masa lalu.
Orang tua yang menyadari memiliki trauma akibat pola asuh otoriter disarankan mencari bantuan melalui konseling, terapi, maupun pendampingan psikologis dan parenting yang sesuai.
“Orang tua perlu menyadari bahwa mereka perlu memproses diri terlebih dahulu dalam proses konseling pengasuhan dan pemulihan diri,” kata Deni.
Menurutnya, pemulihan orang tua menjadi langkah penting, terutama ketika anak masih berada pada usia dini. Dengan perubahan pola pengasuhan sejak awal, orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk memutus mata rantai trauma sebelum berkembang menjadi pola yang menetap.
Tetap Mengambil Nilai Positif dari Pola Asuh Masa Lalu
Dalam sesi interaktif, salah satu pendengar, Wiryawan, mempertanyakan apakah pola pendidikan generasi terdahulu yang menekankan kemandirian dan ketangguhan masih dapat diterapkan kepada anak-anak masa kini yang kerap disebut sebagai generasi “stroberi”.
Deni mengatakan, nilai-nilai positif dari pola pendidikan masa lalu tetap dapat diterapkan. Namun, cara menyampaikannya perlu disesuaikan dengan perkembangan generasi saat ini.
Menurutnya, orang tua dapat tetap mengajarkan kemandirian, tanggung jawab, disiplin, dan daya juang, tetapi perlu memahami karakter serta kebutuhan sosial-emosional anak pada zamannya.
“Boleh mengadopsi hal-hal positif yang pernah kita dapatkan di masa lalu, tetapi jangan mengabaikan perkembangan generasi zaman sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengasuhan tidak cukup hanya dengan memberikan aturan. Orang tua juga perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan anak, membangun hubungan yang sehat, serta memberikan ruang bagi anak untuk menunjukkan dirinya.
Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memperbaiki Pengasuhan
Deni menegaskan, orang tua tidak perlu merasa gagal ketika menyadari pernah membawa trauma masa lalu ke dalam pengasuhan anak.
Hal terpenting adalah berani mengenali luka, mencari bantuan ketika dibutuhkan, dan mulai membangun pola pengasuhan yang lebih sehat.
Ia mengingatkan bahwa proses menjadi orang tua merupakan proses belajar yang berlangsung terus-menerus.
“Yuk, kita belajar untuk mengenali luka masa lalu kita sebagai langkah pertama untuk memutus mata rantainya. Pemulihan trauma adalah harapan dan harapan baru bisa melalui terapi atau dukungan psikologis serta pendampingan parenting,” tutur Deni.
Dengan memutus mata rantai trauma, orang tua diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak. Anak tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan mampu menghadapi tantangan, sekaligus memiliki hubungan emosional yang sehat dengan orang tuanya.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
