16 July 2025

Waspada Terhadap Perselingkuhan

Radio Tangerang Heartline FM – Perselingkuhan adalah bentuk ketidaksetiaan, baik secara fisik maupun emosional, yang melanggar komitmen dalam sebuah hubungan. Lebih dari sekadar cinta, perselingkuhan sering kali bermula dari kurangnya rasa hormat dan kepedulian terhadap pasangan. Seperti yang dikatakan Dr. Gary Chapman, “Infidelity is not caused by a lack of love, but a lack of respect.” Jenisnya pun beragam, mulai dari perselingkuhan fisik, emosional, hingga digital (cyber infidelity). Bahkan, perilaku seperti terlalu akrab dengan lawan jenis, menyembunyikan informasi keuangan, atau micro-cheating bisa menjadi bentuk perselingkuhan yang kerap diabaikan.

Di Indonesia, data menunjukkan bahwa sekitar 40% laki-laki dan perempuan pernah terlibat dalam perselingkuhan, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kasus tertinggi di Asia Tenggara. Paling banyak terjadi pada usia 30–39 tahun, masa di mana seseorang sedang aktif dalam karier maupun sosial. Tragisnya, perselingkuhan menjadi penyebab utama dari perceraian, yang berujung pada berbagai dampak negatif, khususnya bagi anak-anak. Anak yang menjadi korban perceraian berisiko mengalami gangguan emosional, penurunan motivasi belajar, krisis identitas, hingga kecenderungan pada perilaku menyimpang.

Perselingkuhan dapat dipicu oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah dorongan untuk mencari kepuasan, krisis paruh baya, persepsi keliru tentang kejantanan atau poligami, hingga masalah dalam pernikahan seperti komunikasi yang buruk dan kurangnya kedekatan emosional. Kondisi eksternal seperti kesibukan berlebihan, kesempatan karena sering jauh dari pasangan, atau tekanan hidup yang tinggi juga dapat menjadi celah. Ketika kasih sayang mulai memudar dan tidak ada usaha untuk memperbaikinya, seseorang bisa saja mencari pelarian pada orang lain yang dianggap “lebih memahami.”

Untuk mencegah hal ini, perlu adanya persiapan yang matang sebelum menikah, termasuk kematangan spiritual, emosional, dan finansial. Setelah menikah, kekuatan iman menjadi tembok pelindung utama terhadap godaan. Selain itu, penting untuk membina hubungan yang sehat dan harmonis dengan pasangan, saling memahami kekurangan, serta menciptakan suasana rumah yang hangat dan akrab. Hindari situasi yang bisa membuka peluang untuk berselingkuh, seperti hubungan yang terlalu dekat dengan lawan jenis atau menghabiskan terlalu banyak waktu tanpa pasangan.

Jika perselingkuhan telah terjadi, tidak semua pernikahan harus berakhir. Faktanya, sekitar 60–75% pasangan bisa pulih dan membangun kembali komitmen jika keduanya bersedia melalui proses dengan sungguh-sungguh. Proses pemulihan biasanya melalui tahapan seperti penyingkapan, reaksi emosional, proses pengampunan, hingga rekonsiliasi. Pasangan yang bersalah perlu menunjukkan penyesalan, kejujuran, dan pertobatan, sementara pasangan yang dikhianati juga perlu melewati proses penyembuhan dan belajar untuk mempercayai kembali.

Pada akhirnya, menjaga kesetiaan dalam hubungan bukan hanya tentang menghindari kesalahan, tetapi tentang komitmen untuk terus memperjuangkan kasih. Hubungan yang sehat dibangun oleh dua orang yang mau saling mengasihi tanpa pamrih, mau memaafkan, dan mau terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Dengan fondasi iman, komunikasi yang terbuka, dan kasih yang tulus, setiap rumah tangga bisa menjadi tempat yang aman dan penuh berkat.

Butuh pendampingan keluarga? Hubungi kami di 08192691000, ikuti tayangan lengkapnya di YouTube kami: Heartline Network, Sketsa Keluarga Indonesia. Dengarkan juga siaran inspiratif lainnya melalui live streaming di www.heartline.co.id. Bersama, kita memperkokoh Indonesia melalui keluarga.

 

Oleh: Thimothy Ivan, M.Pd
(Praktisi Pendidikan & Pelayanan Keluarga)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: