Iman, Rasio, dan AI: Teknologi Perlu Disikapi Bijak Tanpa Menggeser Nilai Kemanusiaan
Radio Tangerang Heartline FM – Kemajuan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, penggunaannya perlu disikapi secara bijaksana agar tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan maupun menggantikan peran manusia secara berlebihan.
Hal itu disampaikan Dr. Andie Hukom dalam program Let Us Reason Together yang disiarkan Heartline FM. Menurutnya, perkembangan AI merupakan bagian dari kemajuan teknologi yang bersifat netral. Dampak positif maupun negatifnya bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkan teknologi tersebut.
“Teknologi pada dasarnya netral. Yang menentukan adalah manusia sebagai penggunanya. AI bisa menjadi alat yang membantu pekerjaan, tetapi juga dapat disalahgunakan jika tidak disertai tanggung jawab moral,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Andi mengaitkan perkembangan teknologi dengan kehidupan iman. Ia mengutip Lukas 18:8 yang mengingatkan pentingnya mempertahankan iman di tengah berbagai tantangan dunia. Menurutnya, kondisi global yang diwarnai konflik, bencana alam, hingga ketidakpastian ekonomi menunjukkan bahwa manusia perlu tetap berpegang pada iman kepada Tuhan.
Ia juga menilai perkembangan teknologi tidak selalu diikuti dengan peningkatan kualitas moral manusia. Berbagai kemajuan justru dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang bertentangan dengan nilai etika apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Lebih lanjut, Dr. Andi menjelaskan bahwa iman dan rasio bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Dalam pandangannya, iman menjadi dasar bagi seseorang untuk kemudian menggunakan akal budi dalam memahami berbagai persoalan kehidupan, termasuk perkembangan teknologi modern.
Terkait AI, ia mengakui bahwa teknologi tersebut mampu membantu berbagai aktivitas, mulai dari menyusun dokumen, membuat rancangan bangunan, hingga menghasilkan materi presentasi maupun karya kreatif. Namun demikian, AI dinilai tetap memiliki keterbatasan karena tidak mampu menggantikan kemampuan manusia dalam berpikir kritis, mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan moral, membangun relasi, maupun mengelola sesama manusia.
Menurutnya, persaingan dunia kerja ke depan bukan lagi hanya terjadi antarmanusia, melainkan juga antara manusia dengan sistem berbasis kecerdasan buatan. Karena itu, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan pemikiran kritis akan menjadi keterampilan yang tetap dibutuhkan dan sulit digantikan oleh AI.
Dr. Andi juga menyinggung pandangan Gereja Katolik yang mengingatkan agar perkembangan AI tidak menghilangkan martabat manusia maupun membuka peluang penyalahgunaan data pribadi. Ia menilai peringatan tersebut penting sebagai upaya menjaga agar teknologi tetap digunakan untuk kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tidak memandang AI sebagai sesuatu yang harus ditakuti ataupun disakralkan. Menurutnya, kecerdasan buatan sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat bantu yang mendukung produktivitas, selama penggunaannya tetap berada dalam koridor etika, moral, dan nilai-nilai iman.
“Teknologi harus menjadi sarana yang membantu manusia, bukan menjadi sesuatu yang mengendalikan manusia. Iman dan rasio perlu berjalan beriringan agar setiap kemajuan teknologi dapat digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=m6pehPmi60A
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
