08 July 2026

Deteksi Dini Autisme Penting, Orang Tua Diminta Kenali Gejala Sejak Bayi

Radio Tangerang Heartline FM – Deteksi lebih awal dinilai menjadi langkah penting agar anak dengan autisme dapat memperoleh penanganan yang tepat dan memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal. Hal tersebut disampaikan psikiater, dr. Dian Widyastuti Vitara, Sp.KJ, dalam talkshow bertajuk Mengenali, Memahami, dan Menghargai Anak dengan Autisme Sejak Dini yang diselenggarakan Heartline FM bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI).

Menurut Dian, autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang telah terjadi sejak masa kehamilan. Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, berinteraksi secara sosial, dan berperilaku.

“Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks. Masalahnya sudah ada sejak dalam kandungan, tetapi gejalanya baru bisa dikenali setelah bayi lahir melalui proses tumbuh kembangnya,” ujar Dian.

Ia menjelaskan, tanda-tanda autisme sebenarnya sudah dapat diamati sejak bayi berusia tiga bulan. Salah satunya adalah minimnya kontak mata, tidak menunjukkan senyum sosial, serta kurang merespons ajakan berinteraksi dari orang tua.

Saat memasuki usia enam hingga sembilan bulan, gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain tidak merespons permainan sederhana seperti cilukba, tidak mengoceh (babbling), tidak memeluk balik saat digendong, hingga tidak menunjukkan kecemasan ketika berada di dekat orang asing.

“Orang tua jangan hanya memperhatikan berat badan dan tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan sosial, emosi, serta respons anak terhadap lingkungan,” katanya.

Dian mengungkapkan, masih banyak orang tua yang terlambat membawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan karena menganggap keterlambatan perkembangan merupakan hal yang wajar. Padahal, semakin cepat anak mendapatkan terapi, peluang untuk berkembang akan semakin baik.

Ia menambahkan, anak dengan autisme memiliki spektrum yang berbeda-beda. Sebagian anak bahkan memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata dan dapat berkembang menjadi individu yang mandiri apabila memperoleh terapi sejak dini.

“Jangan putus asa. Banyak anak dengan autisme yang mampu dididik, dilatih, bahkan hidup mandiri jika mendapatkan penanganan yang tepat,” ujarnya.

Selain faktor genetik, Dian menjelaskan sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya autisme, di antaranya penggunaan obat tertentu selama kehamilan tanpa pengawasan dokter, konsumsi alkohol, infeksi virus saat hamil, kekurangan vitamin D, kelahiran prematur, serta kehamilan pada usia orang tua yang terlalu lanjut.

Dalam penanganannya, terapi dilakukan secara komprehensif, mulai dari terapi obat untuk mengendalikan gangguan perilaku, terapi integrasi sensori, terapi okupasi, terapi perilaku, hingga terapi wicara sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Dian, orang tua juga memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang anak. Anak dengan autisme perlu terus diajak berinteraksi, dilibatkan dalam aktivitas keluarga, serta diberikan apresiasi atas setiap perkembangan yang dicapai.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan stigma terhadap penyandang autisme. Label negatif dan diskriminasi justru dapat menghambat perkembangan anak dan menurunkan rasa percaya dirinya.

“Kenali gejalanya sejak dini, jangan memberikan stigma, dan segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan profesional. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak dengan autisme memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan produktif,” pungkasnya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=UiJYng3PQns&list=PLq3TKKy-o2QFs4Tbnwp-qwkN4ijxf2V5q&index=2

Foto : SS Dok. Youtube Heartline FM

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: