Penyakit Ginjal Kronis Mengincar Usia Muda: Pakar Tekankan Pentingnya Deteksi Dini dan Kenalkan Teknologi Terapi Terkini HDF
Radio Tangerang Heartline FM – Penyakit Ginjal Kronis (PGK) kini tidak lagi identik dengan penyakit lansia. Tren medis terbaru menunjukkan peningkatan kasus gangguan ginjal yang signifikan pada kelompok usia muda, remaja, hingga anak-anak. Hal ini menjadi sorotan dalam special talk show Morning Espresso di YouTube channel Heartline Network bersama narasumber dr. Vika Virdani, Sp.PD, Subsp.H.M., M.Biomed., dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi dari Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang.
Dalam perbincangan tersebut, dr. Vika membedah secara mendalam mengenai fungsi vital ginjal, pergeseran faktor risiko, pentingnya deteksi dini, hingga diperkenalkannya teknologi terapi cuci darah terbaru yang lebih nyaman bagi pasien.
Tiga Fungsi Vital Ginjal yang Wajib Dijaga
Ginjal yang normal berjumlah dua buah, terletak di area pinggang belakang, dan berukuran sebesar kepalan tangan masing-masing individu. Dr. Vika menjelaskan bahwa organ ini memiliki tiga fungsi utama dalam menyokong kehidupan:
- Fungsi Filtrasi: Menyaring dan mengeluarkan sisa metabolisme atau racun tubuh melalui urin.
- Fungsi Hormonal: Menghasilkan hormon pengatur sel darah merah dan hormon renin untuk mengontrol tekanan darah.
- Fungsi Regulasi: Mengatur keseimbangan cairan dan kadar elektrolit di dalam tubuh.
Meskipun manusia terlahir dengan dua ginjal, dr. Vika menyebutkan bahwa seseorang tetap bisa hidup normal dan berkualitas hanya dengan satu ginjal, baik karena bawaan lahir maupun setelah melalui prosedur donor organ, karena ginjal tunggal tersebut dapat beradaptasi secara optimal.
Mengapa Usia Muda Kini Rentan?
Menyoroti fenomena maraknya anak-anak dan remaja yang harus menjalani cuci darah, dr. Vika memaparkan bahwa pemicu utamanya sering kali berbeda dengan pasien dewasa.
Pada usia muda, penyakit ginjal paling banyak disebabkan oleh glomerulonefritis atau peradangan pada sistem penyaring ginjal. Penyakit ini sering kali bersifat silent (tanpa gejala awal yang disadari). Gejala seperti kaki bengkak ringan di pagi hari atau urin yang berbusa kerap diabaikan oleh orang tua, sehingga pasien baru dibawa ke rumah sakit saat kondisi fungsi ginjalnya sudah menurun drastis.
Selain faktor medis, perubahan gaya hidup berupa tingginya konsumsi minuman kemasan manis dan berwarna yang tidak diimbangi dengan konsumsi air putih, serta tren obesitas pada anak, turut andil mempercepat kerusakan organ penyaring ini. Sementara pada pasien dewasa, dua pemicu terbesar gagal ginjal tetap didominasi oleh penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik.
Deteksi Dini: Kunci Menahan Laju Kerusakan
Jika kerusakan ginjal sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, sifatnya akan menetap (irreversibel) dan didiagnosis sebagai penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, langkah deteksi dini menjadi harga mati.
Dr. Vika mengimbau masyarakat untuk tidak abai dan segera melakukan pemeriksaan screening sederhana yang sudah tersedia di fasilitas kesehatan dasar seperti Puskesmas atau klinik terdekat, meliputi:
- Pemeriksaan urin lengkap: untuk mendeteksi adanya kebocoran protein (urin berbusa), sel darah, atau infeksi.
- Pemeriksaan darah (urea dan kreatinin): untuk menilai seberapa baik fungsi penyaringan ginjal yang tersisa.
Panduan Screening Rutin:
- Bagi yang memiliki faktor risiko (penderita hipertensi, diabetes, obesitas, atau memiliki riwayat keluarga dengan sakit ginjal): wajib melakukan cek fungsi ginjal rutin 1 tahun sekali tanpa memandang usia.
- Bagi yang sehat tanpa faktor risiko: disarankan mulai melakukan medical check-up berkala sejak usia 40 tahun ke atas.
Mengenal HDF: Teknologi Terapi Terkini untuk Gagal Ginjal Stadium Akhir
Bagi pasien yang sudah memasuki stadium akhir (stadium 5) dengan fungsi ginjal di bawah 15%, terapi pengganti ginjal mutlak diperlukan untuk bertahan hidup. Pilihan utamanya meliputi transplantasi (cangkok) ginjal, metode CAPD (cuci darah lewat perut), dan hemodialisis (cuci darah dengan mesin).
Bagi pasien yang menjalani cuci darah dengan mesin, kini hadir teknologi terbaru bernama Hemodiafiltrasi (HDF). Dr. Vika menjelaskan bahwa HDF merupakan inovasi di atas mesin hemodialisis konvensional biasa.
“Mesin HDF memiliki teknologi yang lebih kompleks dan canggih. Jika mesin biasa hanya bisa menyaring racun berukuran kecil, teknologi HDF mampu membersihkan molekul racun yang berukuran sedang hingga besar dengan lebih efektif sempurna,” ujar dr. Vika.
Keunggulan utama terapi HDF ini antara lain membuat tekanan darah pasien jauh lebih stabil selama proses cuci darah, meminimalkan efek samping seperti gatal-gatal pada kulit atau mual akibat sisa racun, serta meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan, termasuk membuat tidur lebih nyenyak pascatindakan. Saat ini, fasilitas premium HDF tersebut telah resmi tersedia di Kabupaten Tangerang melalui Ciputra Hospital CitraRaya.
Tips Menjaga Ginjal Tetap Sehat
Di akhir sesi, dr. Vika berpesan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh klaim obat herbal atau jamu yang belum teruji secara klinis untuk meluruhkan batu ginjal atau mengobati ginjal secara mandiri tanpa pengawasan medis, karena justru berisiko memperparah kerusakan.
Langkah terbaik untuk menjaga ginjal tetap sehat adalah menerapkan pola hidup disiplin, seperti minum air putih minimal 2 liter sehari, membatasi konsumsi garam hingga kurang dari 1 sendok teh per hari, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol, serta wajib mengontrol tekanan darah dan gula darah secara ketat bagi para pemilik faktor risiko.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=61IBJfbA80o&list=PLq3TKKy-o2QE-5Nzg_6OVBhwuwb6wqovw&index=3
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
