Berto Tukan Mengajak Pembaca Melihat Kembali Jejak Peristiwa, Ekosistem Seni, dan Makna Perjalanan Hidup
Radio Tangerang Heartline FM – Sastra, seni, dan filsafat tidak hanya berbicara tentang karya atau tokoh besar yang dikenal publik, tetapi juga tentang perjalanan, proses, serta orang-orang yang berada di balik terbentuknya sebuah ekosistem budaya. Hal tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan oleh penulis dan peneliti Berto Tukan dalam perbincangan mengenai bukunya berjudul “Bercermin pada yang Sudah”.
Dalam program Philosophy Now, Berto menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan kumpulan esai yang ditulis berdasarkan perjalanan panjangnya dalam dunia sastra, seni, dan kebudayaan sejak 2008 hingga 2024. Tulisan-tulisan tersebut menjadi catatan pribadi atas berbagai peristiwa, karya, serta dinamika yang pernah terjadi dalam ekosistem seni Indonesia.
Menurut Berto, ketika esai-esai tersebut dikumpulkan menjadi buku, ia sengaja tidak banyak mengubah tulisan-tulisannya agar tetap mempertahankan konteks dan suasana ketika pertama kali dibuat.
“Esai-esai ini sebenarnya adalah perjalanan dan kesaksian saya terhadap dunia sastra, seni, dan kebudayaan secara umum,” ujar Berto.
Ia mengatakan, buku tersebut dapat menjadi jembatan bagi dua kelompok pembaca. Bagi pembaca yang mengalami masa ketika peristiwa-peristiwa dalam buku terjadi, tulisan tersebut dapat menjadi ruang nostalgia dan pengingat terhadap perjalanan budaya yang pernah ada. Sementara bagi generasi baru, buku tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah dan perkembangan dunia seni di masa lalu.
Melihat Sastra sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Karya
Salah satu hal yang menjadi perhatian Berto dalam bukunya adalah pentingnya memahami sastra sebagai sebuah ekosistem. Menurutnya, masyarakat sering kali hanya melihat karya dan nama besar seorang seniman atau penulis, tetapi melupakan banyak pihak yang turut berperan dalam menghadirkan sebuah karya kepada publik.
Ia mencontohkan bahwa sebuah buku tidak hanya lahir dari seorang penulis, tetapi juga melibatkan editor, desainer, layouter, penerbit, toko buku, hingga pembaca yang menjadi bagian dari perjalanan karya tersebut.
“Di balik karya yang dikenal publik, sebenarnya ada banyak orang yang bekerja. Semua bagian itu harus dihargai karena mereka membentuk ekosistem seni,” jelasnya.
Berto menilai, semakin sehat sebuah ekosistem seni, maka semakin besar pula peluang karya-karya kreatif berkembang dan dikenal masyarakat. Karena itu, keterlibatan dalam dunia sastra tidak selalu harus menjadi penulis, tetapi juga bisa melalui berbagai peran lain seperti membangun komunitas, membuat ruang diskusi, menjadi penggerak acara budaya, maupun mendukung penyebaran karya.
Ia berharap pemahaman tentang ekosistem sastra dapat mendorong masyarakat di berbagai daerah untuk menciptakan ruang budaya sendiri, sekecil apa pun bentuknya.
“Misalnya seseorang membuat toko buku kecil di rumahnya, lalu mengadakan diskusi buku secara rutin. Dari situ sebenarnya sebuah ekosistem sudah mulai terbentuk,” katanya.
Filsafat dan Seni sebagai Cara Memahami Dunia
Berto yang juga memiliki latar belakang filsafat melihat seni dan filsafat sebagai dua cara manusia memahami kehidupan. Menurutnya, filsafat membantu manusia berpikir secara kritis dan terstruktur, sementara seni memberikan pengalaman reflektif melalui kejutan, perasaan, dan pengalaman estetis.
“Seni dan filsafat sama-sama menjadi cara untuk memahami dunia. Bedanya, seni lebih menghadirkan pengalaman yang mungkin lebih spontan, sementara filsafat berusaha menata pemikiran secara lebih sistematis,” ungkapnya.
Ia mengaku ketertarikannya terhadap filsafat berawal dari dunia seni. Pengalaman menikmati karya seni membuatnya semakin tertarik untuk mempertanyakan berbagai hal tentang kehidupan, manusia, dan kebudayaan.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat menikmati karya seni berkualitas, semakin terbuka pula ruang untuk berpikir secara filosofis karena seni mendorong manusia melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Makna “Kesia-siaan” dan Kisah Sisifus dalam Kehidupan
Dalam buku Bercermin pada yang Sudah, terdapat gagasan mengenai “merayakan kesia-siaan” yang berkaitan dengan pemikiran filsuf Albert Camus melalui kisah Sisifus.
Berto menjelaskan, kisah Sisifus menggambarkan seseorang yang harus terus mendorong batu ke puncak gunung, tetapi batu tersebut selalu jatuh kembali dan harus didorong ulang. Rutinitas tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia.
Namun, menurut pembacaan Camus, kesia-siaan bukan sesuatu yang harus diratapi. Justru dalam proses menjalani rutinitas tersebut, manusia dapat menemukan kebahagiaan dan makna hidup.
Berto mengatakan, konsep tersebut juga dapat dilihat dalam esai-esainya yang membahas berbagai peristiwa lama, karya, maupun tokoh yang mungkin saat ini sudah sulit ditemukan jejaknya.
“Kesia-siaan bukan berarti sesuatu yang tidak berarti. Ada kebahagiaan dalam proses menjalani perjalanan itu sendiri,” jelasnya.
Menghadapi Masa Lalu dengan Memperluas Lingkaran Korban
Selain membahas seni dan sastra, Berto juga menyinggung bagaimana manusia perlu melihat tragedi masa lalu dengan sudut pandang yang lebih luas.
Menurutnya, ketika membicarakan sebuah tragedi, masyarakat tidak hanya perlu melihat korban yang mengalami dampak secara langsung, tetapi juga memahami bahwa peristiwa tersebut dapat memberikan dampak kepada generasi berikutnya.
Ia mencontohkan berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang dapat menciptakan korban dalam jangka panjang. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memperluas kesadaran mengenai siapa saja yang terdampak dan bagaimana mencegah peristiwa serupa terulang.
Mengajak Pembaca Berdialog Melalui Esai
Berto berharap buku Bercermin pada yang Sudah tidak hanya dibaca sebagai kumpulan tulisan, tetapi juga menjadi ruang dialog antara penulis dan pembaca.
Ia berharap pembaca dapat memberikan tanggapan, kritik, maupun pemikiran baru setelah membaca esai-esai tersebut.
“Harapan saya bukan hanya buku ini dibaca, tetapi juga mendapatkan partner berdialog dari para pembaca,” ujarnya.
Melalui buku tersebut, Berto ingin mengajak masyarakat untuk melihat kembali perjalanan seni, sastra, dan budaya dengan cara yang lebih reflektif. Baginya, setiap catatan masa lalu memiliki nilai penting karena dapat membantu manusia memahami kehidupan hari ini dan mempersiapkan masa depan.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
