29 July 2026
Evangelis Elsar saat memberikan pemaparan materi mengenai standar moral dan kebenaran Kristus dalam program Let Us Reason Together

Siapa yang Berhak Menentukan Benar dan Salah?

Radio Tangerang Heartline FM – Pertanyaan sederhana sering kali membawa kita kepada perenungan yang mendalam: “Siapa bilang itu salah?”

Mengapa manusia mengatakan bahwa mencuri itu salah? Mengapa kebohongan, korupsi, pembunuhan, dan pengkhianatan dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar? Siapa yang sebenarnya menentukan bahwa sebuah tindakan dapat disebut benar atau salah?

Pertanyaan inilah yang dibahas dalam program Let Us Reason Together bersama Evangelis Elsar dalam tema “Siapa Bilang Itu Salah?”. Dalam pembahasannya, ia mengajak pendengar untuk melihat kembali dasar dari nilai moral manusia.

Mengawali pembahasan, Evangelis Elsar mengutip firman Tuhan dari 1 Petrus 1:15-16, yang berkata:

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa standar hidup orang percaya bukan berasal dari pendapat manusia, budaya, atau perubahan zaman, melainkan dari karakter Allah sendiri.

Apakah Manusia Bisa Menentukan Moral?

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memiliki pandangan berbeda mengenai benar dan salah. Ada yang mengatakan sesuatu benar berdasarkan pendapat pribadi, ada yang mengikuti suara mayoritas, ada pula yang beranggapan bahwa sesuatu tidak masalah selama tidak merugikan orang lain.

Namun pertanyaannya, apakah mayoritas selalu benar? Apakah budaya selalu menjadi ukuran moral? Apakah hukum yang dibuat manusia selalu menjamin kebenaran?

Sejarah menunjukkan bahwa ada berbagai hukum yang pernah dibuat manusia tetapi kemudian dianggap tidak benar, seperti praktik perbudakan dan berbagai bentuk penindasan. Hal ini menunjukkan bahwa hukum manusia dapat berubah mengikuti keadaan, tetapi manusia tetap membutuhkan standar moral yang lebih tinggi.

Jika moral hanya berdasarkan perasaan manusia, maka nilai benar dan salah dapat berubah sewaktu-waktu. Apa yang dianggap benar hari ini bisa saja dianggap salah di masa depan.

Moral Tidak Cukup Hanya Berdasarkan Budaya atau Perasaan

Budaya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Namun, budaya di satu tempat bisa berbeda dengan budaya di tempat lain. Sesuatu yang dianggap biasa dalam satu masyarakat bisa dianggap salah dalam masyarakat lain.

Begitu juga dengan perasaan manusia. Jika benar dan salah hanya berdasarkan apa yang dirasakan seseorang, maka standar moral akan menjadi tidak stabil karena perasaan manusia dapat berubah.

Karena itu, manusia membutuhkan dasar moral yang tidak berubah oleh waktu, budaya, atau pendapat mayoritas.

Kristus Sebagai Standar Moral Tertinggi

Dalam iman Kristen, standar moral tertinggi bukanlah manusia, pemerintah, budaya, atau perasaan pribadi. Standar tersebut adalah Yesus Kristus.

Yesus berkata dalam Yohanes 14:6:

“Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Kristus bukan hanya mengajarkan tentang kebenaran, tetapi Dia sendiri adalah kebenaran. Karena itu, kehidupan orang percaya dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Menjadi kudus berarti mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari: hidup dalam kasih, kejujuran, kebenaran, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama.

Hukum Mengikuti Moral, Bukan Moral Mengikuti Hukum

Salah satu pertanyaan penting yang muncul dalam diskusi adalah:

“Apakah sesuatu menjadi salah karena undang-undang melarangnya, atau undang-undang melarangnya karena sesuatu itu memang salah?”

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa hukum seharusnya bukan menjadi sumber utama moral, tetapi hukum seharusnya mencerminkan nilai moral yang benar.

Contohnya, tindakan membunuh bukan menjadi salah hanya karena ada undang-undang yang melarangnya. Sebaliknya, undang-undang melarang pembunuhan karena tindakan tersebut memang bertentangan dengan nilai moral yang benar.

Menjadi Serupa dengan Kristus

Sebagai orang percaya, panggilan utama bukan hanya mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran tersebut.

Semakin seseorang dekat dengan Kristus, semakin ia mampu melihat bagian-bagian dalam hidupnya yang perlu diperbaiki. Seperti seseorang yang melihat dirinya melalui cermin, demikian juga hubungan dengan Tuhan menolong manusia mengenali kekurangan dan bertumbuh menjadi lebih serupa dengan Kristus.

Pada akhirnya, pesan utama dari pembahasan ini adalah bahwa standar moral tertinggi tidak berasal dari manusia yang dapat berubah, tetapi berasal dari Allah yang tidak berubah.

“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Kristus menjadi dasar kebenaran, sumber kasih, dan teladan kehidupan bagi setiap orang percaya. Ketika manusia menjadikan Kristus sebagai standar moralnya, ia memiliki arah yang jelas untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Tuhan memberkati.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=f4o40PTs5VI

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: