Self Harm pada Remaja, Kenali Tanda dan Pentingnya Dukungan Keluarga
Radio Tangerang Heartline FM – Fenomena self harm atau perilaku melukai diri sendiri menjadi perhatian serius dalam isu kesehatan mental, khususnya pada kelompok remaja hingga dewasa awal. Perilaku ini sering muncul sebagai bentuk pelampiasan emosi negatif akibat seseorang mengalami kesulitan dalam mengelola tekanan, stres, maupun masalah yang sedang dihadapi.
Dalam wawancaranya di radio Heartline mengenai fenomena self harm bersama narasumber dr. Rondang Rosmawati Nababan, Sp.KJ menjelaskan bahwa self harm merupakan tindakan melukai diri sendiri secara sengaja yang bertujuan untuk mengurangi rasa tidak nyaman secara emosional, namun bukan dengan tujuan utama untuk mengakhiri hidup.
Dia menjelaskan, tindakan self harm paling banyak ditemukan pada usia remaja akhir hingga dewasa awal, meskipun dalam beberapa kasus sudah ditemukan pada usia remaja awal.
“Self harm bukanlah usaha untuk bunuh diri, tetapi perilaku melukai diri yang dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat tekanan emosional. Namun jika tidak ditangani, perilaku ini dapat menjadi faktor risiko terhadap percobaan bunuh diri,” jelasnya.
Menurutnya, seseorang yang melakukan self harm biasanya mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan seperti sedih, marah, kecewa, tertekan, atau rasa bersalah. Ketika emosi tersebut tidak dapat disampaikan dengan baik, seseorang dapat mencari cara lain untuk merasakan kelegaan, salah satunya melalui tindakan melukai diri.
Bukan Sekadar Mencari Perhatian
Rondang menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa self harm bukanlah tindakan untuk mencari perhatian (attention seeking behavior). Justru banyak penderita yang berusaha menyembunyikan perilaku tersebut karena merasa malu, takut mendapat penilaian negatif, dan merasa bersalah.
“Banyak yang melakukan self harm justru menutupinya. Mereka tidak ingin diketahui orang lain karena ada rasa malu dan takut terhadap stigma,” ungkapnya.
Beberapa bentuk self harm yang sering ditemukan antara lain menggores tubuh dengan benda tajam (cutting), menarik rambut, membakar bagian tubuh, memukul atau membenturkan kepala, hingga tindakan lain yang menyebabkan luka pada diri sendiri.
Mengapa Melukai Diri Bisa Terasa Membuat Nyaman?
Dalam wawancara tersebut, dr. Rondang menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan self harm, tubuh dapat menghasilkan zat kimia tertentu seperti endorfin dan dopamin yang memberikan rasa nyaman atau lega sementara.
Namun, rasa nyaman tersebut tidak menyelesaikan masalah yang menjadi penyebab utama. Setelah efek tersebut hilang, seseorang dapat kembali merasakan tekanan, rasa bersalah, dan malu sehingga muncul dorongan untuk mengulang tindakan yang sama.
“Masalah sebenarnya tidak selesai. Karena emosi negatif masih ada, akhirnya perilaku tersebut bisa berulang,” jelasnya.
Faktor Penyebab Self Harm
Perilaku self harm dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan hanya satu penyebab. Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:
- Kesulitan mengelola emosi negatif.
- Tekanan dari lingkungan.
- Masalah dalam hubungan sosial.
- Kurangnya komunikasi dalam keluarga.
- Pola asuh yang terlalu keras atau kurang terbuka.
- Pengalaman traumatis seperti kekerasan fisik, verbal, maupun seksual.
- Gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, gangguan kepribadian, hingga gangguan stres pascatrauma.
Dia menjelaskan bahwa remaja menjadi kelompok yang rentan karena berada dalam fase perubahan besar, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Peran Keluarga Sangat Penting
Keluarga dan orang terdekat memiliki peran besar dalam membantu seseorang yang mengalami kecenderungan self harm. Salah satu langkah penting adalah menciptakan lingkungan yang aman agar mereka mau bercerita.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan keluarga antara lain:
- Sering menyendiri.
- Perubahan suasana hati menjadi lebih murung.
- Menutup diri dari lingkungan.
- Menggunakan pakaian panjang secara terus-menerus untuk menutupi luka.
- Adanya memar atau luka yang tidak jelas penyebabnya.
- Menghabiskan waktu lama sendirian di kamar atau kamar mandi.
Menurut Dr. Rondang, keluarga sebaiknya tidak langsung menghakimi atau menyalahkan. Sebaliknya, berikan ruang untuk mendengarkan dan membantu mereka menemukan cara yang lebih sehat dalam mengelola emosi.
“Yang dibutuhkan bukan penghakiman, tetapi dukungan. Mereka perlu tahu bahwa ada cara lain untuk menghadapi tekanan tanpa harus menyakiti diri,” ujarnya.
Mengubah Self Harm Menjadi Self Love
Penanganan self harm dapat dilakukan melalui bantuan profesional seperti psikolog maupun psikiater, terutama jika perilaku tersebut sudah berulang dan sulit dikendalikan.
Terapi yang diberikan dapat berupa psikoterapi, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) maupun Dialectical Behavior Therapy (DBT), serta pengobatan apabila ditemukan gangguan mental yang menyertai.
Rondang menutup perbincangan dengan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk belajar menerima dan menghargai diri sendiri.
“Daripada melakukan self harm, kita perlu belajar melakukan self love dan self care. Belajar menerima diri, memaafkan diri, dan berdamai dengan masalah yang ada,” pesannya.
Fenomena self harm bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Dengan pemahaman yang tepat, dukungan keluarga, serta bantuan profesional, seseorang yang mengalami kondisi ini tetap memiliki peluang besar untuk pulih.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
