Belajar Bukan Cuma Soal Nilai, tetapi Juga Jiwa
Radio Tangerang Heartline FM โ Keberhasilan anak di sekolah kerap diukur dari nilai rapor, peringkat kelas, atau prestasi akademik. Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga membangun kesehatan mental, karakter, dan daya tahan anak dalam menghadapi kehidupan.
Hal itu disampaikan Konselor Chi – Psy, Sola Josua, S.S., M.Si, dalam program Sketsa Keluarga Indonesia pada hari Kamis (6/8/26) di Heartline FM dengan tema “Belajar Bukan Cuma Soal Nilai, tetapi Juga Jiwa”.
Menurut Sola, ketika membicarakan “jiwa” dalam proses belajar, yang dimaksud bukan sesuatu yang abstrak, melainkan dunia batin anak. Mulai dari bagaimana anak memandang dirinya, merespons kegagalan, mengelola emosi, hingga membangun relasi dengan orang lain.
“Nilai yang sama belum tentu menghasilkan respons yang sama. Ada anak yang melihat nilai rendah sebagai motivasi untuk belajar lebih giat, tetapi ada juga yang langsung menyimpulkan bahwa dirinya bodoh atau tidak mampu. Di situlah pentingnya memperhatikan kondisi batin anak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa nilai akademik tetap penting sebagai salah satu indikator perkembangan belajar. Namun, nilai bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak.
Menurutnya, ada banyak kemampuan lain yang justru sangat menentukan kesuksesan jangka panjang, seperti ketekunan, kemampuan bangkit dari kegagalan (resiliensi), pengendalian diri, kemampuan beradaptasi, keterampilan sosial, rasa ingin tahu, dan empati.
“Nilai tidak bisa mengukur empati, rasa ingin tahu, ataupun kemampuan seseorang untuk bangkit ketika gagal. Padahal kemampuan-kemampuan itulah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan,” katanya.
Prestasi Penting, Tetapi Cara Memaknainya Lebih Penting
Sola menjelaskan bahwa prestasi akademik tetap memiliki peran penting, terutama sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan. Namun kini semakin banyak institusi pendidikan yang juga memberikan apresiasi terhadap prestasi nonakademik, seperti olahraga, seni, maupun bidang lainnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan nilai sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan anak.
“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memaknai prestasi itu. Akademik penting, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk berkembang,” jelasnya.
Dorongan Jangan Berubah Menjadi Tekanan
Dalam kesempatan tersebut, Sola juga menyoroti peran orang tua dan guru dalam mendampingi proses belajar anak.
Menurutnya, niat baik orang tua untuk mendorong anak berprestasi terkadang justru berubah menjadi tekanan apabila disampaikan dengan cara yang kurang tepat.
Ia mengajak orang tua untuk melihat reaksi anak setelah menerima dorongan atau nasihat.
“Kalau setelah berbicara dengan kita anak menjadi lebih semangat, berarti itu motivasi. Tetapi kalau justru semakin takut, cemas, dan enggan mencoba, bisa jadi yang diterima anak adalah tekanan,” katanya.
Sola menambahkan bahwa tugas orang tua bukan sekadar mendorong anak meraih nilai tinggi, melainkan membantu mereka menemukan alasan mengapa mereka perlu belajar.
Mengenali Potensi Anak
Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Karena itu, orang tua diharapkan memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai bidang sebelum menentukan minat dan bakatnya.
Ia menilai tidak ada salahnya memperkenalkan anak pada bidang yang dikuasai orang tua, misalnya olahraga atau seni. Namun keputusan akhir tetap perlu datang dari anak agar motivasi yang tumbuh berasal dari dirinya sendiri.
“Motivasi yang muncul dari dalam diri akan membuat anak lebih kuat menghadapi kegagalan dibandingkan ketika semua pilihan ditentukan orang tua,” ujarnya.
Burnout Bukan Berarti Malas
Fenomena burnout pada anak juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.
Menurut Sola, burnout sering kali disalahartikan sebagai kemalasan, padahal kondisi itu justru muncul karena anak terlalu lama berusaha memenuhi berbagai tuntutan tanpa memiliki kesempatan untuk beristirahat maupun memperoleh apresiasi atas proses yang telah dijalani.
“Anak burnout bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena merasa harus selalu sempurna. Karena itu, penting mengajarkan bahwa beristirahat bukan berarti menyerah dan gagal bukan berarti berhenti belajar,” katanya.
Selain sekolah, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri.
Menurut Sola, rumah merupakan tempat pertama anak belajar mengenai keberhasilan maupun kegagalan. Respons orang tua terhadap kesalahan anak akan membentuk cara anak memandang dirinya.
Ia mendorong orang tua untuk lebih menghargai usaha dibanding sekadar hasil.
“Kalimat seperti ‘Ayah bangga karena kamu tidak menyerah’ sering kali jauh lebih membangun daripada hanya mengatakan ‘Kamu memang pintar’,” ungkapnya.
Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman
Sola juga menilai sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman secara psikologis agar anak berani bertanya, mencoba hal baru, serta tidak takut melakukan kesalahan.
Menurutnya, budaya mempermalukan anak ketika salah justru dapat menghambat proses belajar dan menurunkan kepercayaan diri.
Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan belajar yang aman bukan hanya tugas guru bimbingan konseling, melainkan tanggung jawab seluruh warga sekolah.
“Rasa aman bukan membuat anak menjadi manja, tetapi membuat mereka berani melangkah dan lebih tangguh menghadapi tantangan,” katanya.
Lebih lanjut, Sola menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara keluarga dan sekolah.
Menurutnya, guru tidak hanya menyampaikan nilai akademik kepada orang tua, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, dan spiritual anak. Sebaliknya, orang tua juga diharapkan aktif membangun komunikasi dengan sekolah, bukan hanya datang ketika muncul masalah.
“Yang terpenting adalah anak melihat bahwa guru dan orang tua berada di tim yang sama, sama-sama mendukung pertumbuhan dirinya, bukan saling menyalahkan,” ujarnya.
Nilai Penting, tetapi Jiwa Anak Lebih Berharga
Menutup perbincangan, Sola mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjaga semangat belajar, rasa ingin tahu, dan kesehatan mental anak.
Ia mengingatkan bahwa ketika dewasa nanti, anak mungkin tidak lagi mengingat nilai ulangan mereka. Namun mereka akan selalu mengingat guru yang percaya kepada mereka, orang tua yang tetap memeluk saat gagal, rumah yang menjadi tempat aman untuk bercerita, serta sekolah yang memberi keberanian untuk bermimpi.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:“Nilai memang penting, tetapi nilai bukan satu-satunya hasil dari proses belajar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses itu membentuk jiwa yang sehat, karakter yang kuat, dan manusia yang siap menjalani kehidupan,” pungkasnya.
