11 August 2026
Gita Mahardika saat membagikan pemaparan materi cara membantu anak membangun kebiasaan baru dan mandiri di program Parenting with Heart Heartline FM

Tahun Ajaran Baru Dimulai, Ini Cara Orang Tua Bantu Anak Bangun Kebiasaan dan Mandiri

Radio Tangerang Heartline FM — Tahun ajaran baru menjadi masa transisi bagi anak, terutama mereka yang memasuki jenjang pendidikan berbeda. Perubahan jadwal, lingkungan, guru, teman, hingga tuntutan akademik membuat anak perlu membangun berbagai kebiasaan baru.

Dalam kondisi tersebut, orang tua memiliki peran penting untuk mendampingi anak agar mampu beradaptasi secara bertahap tanpa merasa terlalu terbebani.

Hal itu disampaikan Gita Mahardika dalam program Parenting with Heart pada sabtu (8/8) . Ia menjelaskan bahwa masa transisi tidak hanya menghadirkan perubahan yang terlihat, tetapi juga perubahan dalam rutinitas dan kondisi internal anak.

“Transisi itu ada yang kelihatan dan tidak kelihatan,” ujar Mahardika. Perubahan yang terlihat antara lain pergantian jadwal, lokasi sekolah, guru, teman, serta mata pelajaran. Sementara perubahan yang tidak terlihat berkaitan dengan rutinitas dan kesiapan anak menghadapi lingkungan baru.

Menurut dia, orang tua perlu memahami bahwa tidak semua kebiasaan lama harus dihilangkan. Ada kebiasaan yang masih baik dan perlu dipertahankan, tetapi ada pula yang sudah tidak sesuai sehingga harus diubah.

Mahardika menyebut proses tersebut sebagai bagian dari peningkatan kemampuan anak. Karena itu, target yang diberikan sebaiknya dibuat secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.

“Jadi kata kuncinya itu improvement. Artinya dia tidak tetap di kebiasaan yang sama atau kemampuan yang sama, tetapi dia bisa tambah,” katanya.

Dua Penyesuaian yang Perlu Diperhatikan

Ada dua hal utama yang menurut Mahardika perlu diperhatikan orang tua ketika anak memasuki tahun ajaran baru, yakni penyesuaian rutinitas dan kemampuan.

Penyesuaian rutinitas dapat berupa perubahan jam bangun, waktu berangkat sekolah, jadwal belajar, maupun persiapan perlengkapan. Sedangkan penyesuaian kemampuan berkaitan dengan keterampilan baru yang sebelumnya belum dikuasai anak, seperti menyiapkan pakaian atau perlengkapan sekolah sendiri.

Orang tua, kata dia, tidak perlu langsung memberikan tuntutan yang terlalu tinggi. Tantangan harus diberikan sesuai kemampuan anak agar mereka dapat berkembang tanpa merasa gagal.

“Kalau terlalu susah nanti jadi sama-sama stres. Tapi kalau terlalu mudah kan jadi begitu-begitu saja. Jadi enggak ada perkembangan,” jelasnya.

Kebiasaan Dibangun dari Pemicu

Mahardika menjelaskan bahwa sebuah kebiasaan terdiri atas tiga bagian, yakni pemicu, aktivitas, dan hasil.

Contohnya, waktu atau alarm menjadi pemicu bagi anak untuk bangun. Setelah itu anak melakukan aktivitas seperti mandi dan mengenakan seragam. Hasil akhirnya, anak berada dalam kondisi siap untuk berangkat sekolah.

Dalam proses ini, orang tua diharapkan membantu anak membangun pemicu yang berasal dari dirinya sendiri. Anak tidak selamanya bergantung pada orang tua yang membangunkan, mengingatkan, atau memerintah.

Menurut Mahardika, terdapat dua hal yang perlu dimiliki anak agar kebiasaan dapat terbentuk, yakni rasa memiliki kendali dan rasa mampu.

Rasa memiliki kendali dapat dibangun dengan memberikan pilihan sederhana kepada anak. Sementara rasa mampu muncul ketika anak diberi kesempatan melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya.

Jangan Terlalu Cepat Membantu Anak

Salah satu tantangan orang tua adalah menahan diri untuk tidak selalu membantu anak. Mahardika mengatakan, terlalu sering membantu justru dapat menghambat tumbuhnya rasa mampu pada anak.

Anak perlu diberikan kesempatan mengalami konsekuensi yang normal dan aman dari pilihannya. Misalnya, ketika anak tidak bangun tepat waktu, orang tua tidak selalu harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Jadi kita membiarkan dia menjalani prosesnya,” ujar Mahardika.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dengan begitu, anak perlahan belajar bertanggung jawab terhadap rutinitasnya sendiri.

Kemandirian Bisa Dilatih dari Rumah

Kemandirian anak juga dapat dibangun melalui aktivitas sehari-hari di rumah. Anak dapat dilibatkan dalam pekerjaan rumah sesuai usia dan kemampuannya.

Mulai dari mencuci piring, menyiapkan makanan, merapikan pakaian, hingga membantu pekerjaan rumah lainnya dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan hidup.

Mahardika menilai keterlibatan tersebut dapat membangun life skill sekaligus membuat anak menyadari bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu secara mandiri.

Orang tua juga dapat memberikan pilihan dalam pembagian tugas. Misalnya, anak diberikan pilihan untuk menyapu atau mengepel. Cara tersebut membuat anak belajar mengambil keputusan dan merasakan bahwa dirinya memiliki kendali.

Tiga Peran Orang Tua

Dalam mendampingi anak membangun kebiasaan baru, Mahardika menekankan tiga peran yang perlu dilakukan orang tua, yaitu menjadi contoh, konsisten, dan memberikan dukungan secara bertahap.

Orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan kebiasaan yang baik melalui perilaku sehari-hari. Setelah itu, aturan dan konsekuensi yang diterapkan kepada anak harus konsisten.

“Yang pertama kita jadi contoh. Yang kedua adalah konsisten di aturan dan konsekuensi. Dan yang ketiga kita bisa berikan support yang makin lama itu kita kurangin,” ungkapnya.

Dukungan kepada anak, lanjutnya, tidak berarti diberikan selamanya. Pada awalnya anak mungkin perlu diingatkan dan dibantu. Namun, seiring meningkatnya kemampuan, bantuan tersebut perlu dikurangi hingga anak mampu menjalankan tanggung jawabnya sendiri.

Jangan Hanya Fokus pada Nilai

Persoalan akademik juga menjadi bagian dari masa transisi tahun ajaran baru. Ketika nilai anak belum sesuai harapan, orang tua disarankan tidak terburu-buru memberikan penilaian.

Mahardika mengatakan, orang tua perlu mencari tahu terlebih dahulu penyebab rendahnya nilai. Hal tersebut dapat berkaitan dengan kebiasaan belajar, konsistensi, tingkat kesulitan materi, maupun kemampuan anak yang masih perlu dikembangkan.

Menurutnya, hasil belajar tetap penting, tetapi proses yang dijalani anak juga perlu diperhatikan. Jika anak telah berusaha maksimal dan konsisten tetapi hasilnya belum optimal, orang tua dapat memberikan dukungan tambahan sesuai kebutuhan.

Pada akhirnya, pendampingan anak di tahun ajaran baru bukan hanya soal memastikan anak mendapatkan nilai yang baik. Lebih dari itu, orang tua perlu membantu anak membangun kebiasaan, tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

Konsistensi orang tua menjadi salah satu kunci dalam proses tersebut. Dengan menjadi teladan, menerapkan aturan secara konsisten, serta mengurangi bantuan secara bertahap, anak diharapkan semakin siap menghadapi berbagai tantangan dan mampu menjalankan tanggung jawabnya secara mandiri.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=KzxwT3BC3tw

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: