11 August 2026
Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Jubilate Edward Iruanto Tambun Sp.KJ saat memberikan edukasi kesehatan jiwa dan emosi pria di Radio Heartline

Kesehatan Jiwa Pria Kerap Terabaikan, Stigma “Harus Kuat” Bisa Jadi Beban

Radio Tangerang Heartline FM — Kesehatan jiwa tidak hanya menjadi persoalan perempuan. Pria juga dapat mengalami berbagai masalah kesehatan mental, mulai dari stres, kecemasan, depresi hingga gangguan kejiwaan lainnya. Namun, stigma bahwa laki-laki harus selalu kuat, tegar dan tidak boleh menunjukkan emosi membuat banyak pria justru kesulitan mengenali maupun mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan.

Dokter spesialis kedokteran jiwa, Jubilate Edward Iruanto Tambun,Sp.KJ mengatakan kesadaran terhadap kesehatan jiwa pada pria penting untuk terus ditingkatkan. Menurutnya, faktor budaya, pola asuh, lingkungan dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat dapat membuat pria terbiasa menyembunyikan masalah emosionalnya.

“Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa mengalami masalah kesehatan jiwa. Hanya saja, cara mengekspresikan dan menghadapi masalahnya bisa berbeda,” jelasnya.

Pria juga bisa mengalami depresi dan kecemasan

Masalah kesehatan mental yang dialami pria sebenarnya cukup beragam. Depresi dan gangguan kecemasan, misalnya, juga dapat terjadi pada pria meskipun dalam sejumlah kondisi prevalensinya berbeda dibandingkan perempuan.

Selain itu, beberapa gangguan seperti ADHD, gangguan penggunaan zat atau alkohol, gangguan bipolar, gangguan kepribadian hingga gangguan stres pascatrauma juga dapat dialami oleh pria.

Salah satu persoalan yang cukup sering menjadi perhatian adalah kecenderungan sebagian pria mencari pelarian ketika menghadapi tekanan. Alih-alih membicarakan masalah atau mencari dukungan, mereka dapat melampiaskannya melalui konsumsi alkohol, rokok, obat-obatan maupun perilaku lain yang tidak sehat.

Hal tersebut tidak terlepas dari cara masyarakat membentuk pemahaman tentang maskulinitas. Sejak kecil, sebagian anak laki-laki masih mendapatkan pesan bahwa menangis merupakan tanda kelemahan dan seorang pria harus selalu kuat.

Akibatnya, ketika tumbuh dewasa, seorang pria bisa mengalami kesulitan untuk mengenali emosinya sendiri. Ia mungkin merasa sedih, kecewa atau takut, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.

Toxic masculinity dapat berdampak pada kesehatan jiwa

Konsep toxic masculinity juga menjadi salah satu hal yang dibahas dalam konteks kesehatan mental pria. Kondisi tersebut merujuk pada tuntutan atau pandangan sosial yang terlalu kaku mengenai bagaimana seorang laki-laki seharusnya bersikap.

Pria sering dianggap harus kuat, dominan, agresif, memiliki kekuasaan, tidak menunjukkan kelemahan dan tidak boleh terlalu emosional. Bahkan, aktivitas tertentu yang dianggap feminin terkadang dihindari karena dianggap tidak sesuai dengan citra laki-laki.

Tekanan semacam itu tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga dapat merugikan pria sendiri.

Ketika seorang pria merasa harus selalu menjadi pihak yang paling dominan, paling sukses atau menjadi pencari nafkah utama, kegagalan mencapai standar tersebut dapat menimbulkan tekanan psikologis. Ia bisa merasa tidak berharga, tidak cukup baik atau kehilangan kepercayaan diri.

Dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan dengan pasangan dan keluarga hingga pekerjaan.

Pria menangis bukan berarti lemah

Salah satu stigma yang masih kuat adalah anggapan bahwa pria tidak seharusnya menangis. Padahal, menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi yang wajar.

Pria yang menangis ketika menghadapi kesedihan atau tekanan bukan berarti cengeng ataupun lemah. Justru kemampuan untuk mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat dapat membantu seseorang mengelola perasaannya dengan lebih baik.

Sebaliknya, emosi yang terus ditekan dapat menumpuk dan mencari jalan keluar dalam bentuk lain. Pada sebagian orang, tekanan tersebut dapat muncul sebagai kemarahan, perilaku agresif, menarik diri dari lingkungan atau mencari pelarian melalui rokok, alkohol maupun zat tertentu.

Karena itu, orang terdekat perlu memperhatikan perubahan perilaku pada pria yang biasanya sulit bercerita mengenai masalahnya.

Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan, mudah marah, mengalami perubahan perilaku, kehilangan minat terhadap aktivitas tertentu atau justru meningkatkan konsumsi rokok, alkohol maupun zat lainnya.

Keluarga berperan sejak masa kanak-kanak

Kesadaran mengenai kesehatan jiwa pria tidak dapat dilepaskan dari keluarga. Pola asuh sejak masa kanak-kanak turut membentuk cara seorang laki-laki memahami dan mengekspresikan emosinya.

Anak laki-laki perlu mendapatkan pemahaman bahwa merasa sedih, takut, kecewa atau menangis merupakan hal yang manusiawi. Mereka juga perlu diberikan ruang untuk berbicara mengenai perasaan tanpa takut dianggap lemah.

Ayah juga memiliki peran penting dalam memberikan contoh bahwa seorang pria dapat bersikap lembut, penuh perhatian dan menunjukkan kasih sayang kepada anak.

Pola pengasuhan yang lebih sehat diharapkan dapat membantu anak laki-laki tumbuh menjadi pria yang mampu mengenali emosinya, mengelola stres dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Jangan menunggu sampai kondisi semakin berat

Menjaga kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui berbagai kebiasaan sederhana. Pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, olahraga secara rutin, tidur dan istirahat yang cukup serta menghindari rokok dan alkohol dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Selain itu, pria juga perlu memiliki aktivitas yang membuat dirinya merasa tenang dan nyaman. Hobi, olahraga, membaca, berkebun, meditasi atau kegiatan positif lainnya dapat menjadi bagian dari self-care.

Yang tidak kalah penting adalah memiliki seseorang yang dipercaya untuk menjadi tempat bercerita.

Berbicara dengan pasangan, keluarga, sahabat atau orang lain yang dipercaya bukanlah tanda kelemahan. Justru dengan mengungkapkan perasaan dan membicarakan masalah, seseorang dapat memperoleh dukungan sebelum tekanan tersebut menjadi semakin berat.

Jika masalah emosional sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan atau kualitas hidup, bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Psikolog maupun psikiater dapat membantu seseorang memahami kondisi yang dialami dan menentukan penanganan yang sesuai.

Membangun pemahaman baru tentang laki-laki

Kesehatan jiwa pria membutuhkan perubahan cara pandang, baik dari pria itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Laki-laki tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu menjadi pihak yang paling dominan dan tidak perlu menyembunyikan emosi hanya demi memenuhi standar maskulinitas.

Pria juga berhak merasa sedih, takut, kecewa dan membutuhkan bantuan.

Masyarakat dan keluarga perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan pria berbicara mengenai kesehatan mental tanpa takut mendapatkan stigma. Dengan begitu, masalah psikologis dapat dikenali lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan jiwa bukan persoalan gender. Baik pria maupun perempuan memiliki kebutuhan yang sama untuk merasa aman, didengar, dihargai dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi masalah kehidupan.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=s1hanfk5M1c

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: