11 August 2026
Nyi Mas Diane W S.Psi M.A dan Anis Choirunnisa S.T M.Kom saat membagikan pemaparan materi etika merdeka digital dan pencegahan cyberbullying di program Sketsa Keluarga Indonesia Heartline FM

Merdeka Digital Bukan Bebas Tanpa Batas, Netizen Diajak Cerdas Berkomentar dan Stop Cyberbullying

Radio Tangerang Heartline FM — Kemerdekaan di era digital bukan sekadar kebebasan untuk berbicara dan berpendapat di media sosial. Kebebasan tersebut harus diikuti dengan kecerdasan, etika, empati, dan tanggung jawab agar ruang digital tetap aman dan sehat.

Hal tersebut disampaikan narasumber Nyi Mas Diane W., S.Psi., M.A – (Co Founder Dianesia, Family & Parenting Expert) atau Mbak Di dalam perbincangan program Sketsa Keluarga Indonesia dengan tema “Merdeka Digital: Klik Cerdas, Komentar Berkualitas, Stop Cyberbullying.” pada Senin (10/8).

Menurut Mbak Di, setiap aktivitas seseorang di ruang digital, mulai dari unggahan, komentar hingga informasi yang dibagikan, dapat mencerminkan karakter penggunanya.

“Jadilah kita sebagai individu yang literat. Mari menjadi generasi yang merdeka dalam berpikir, bijak dalam berkomentar, dan tentunya berani menghentikan yang namanya perundungan,” ujar Mbak Di.

Ia menjelaskan, merdeka digital merupakan kemampuan seseorang menggunakan media digital secara bijak, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, masyarakat perlu memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum membagikannya.

“Think before we share. Sebelum kita membagikan berita, ada baiknya kita memastikan dulu informasi ini benar atau enggak,” katanya.

Jangan Asal Komentar di Media Sosial

Sementara itu, Anis Choirunnisa, S.T. ,M.Kom – (Education & Learning Dianesia, Education Practitioner) atau Mbak Anis menyoroti semakin mudahnya masyarakat memberikan komentar di media sosial. Kebebasan berpendapat memang menjadi bagian dari ruang digital, tetapi menurutnya kebebasan tersebut tetap membutuhkan tanggung jawab.

“Walaupun semua mendapatkan kebebasan dalam bersosial media dan kebebasan dalam berpendapat, sudah selayaknya kita sama-sama menjaga apa pun yang kita posting dan apa pun yang kita komentari,” ujar Mbak Anis.

Menurut dia, orang tua juga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak ketika menggunakan media sosial. Anak perlu mendapatkan pemahaman mengenai mana yang pantas disampaikan dan bagaimana menyampaikan pendapat dengan bahasa yang baik.

“Mana yang sebaiknya tidak harus disampaikan, mana yang sebaiknya disampaikan namun dengan bahasa yang lebih baik,” katanya.

Cyberbullying Bisa Berdampak Panjang

Persoalan lain yang menjadi perhatian dalam pembahasan tersebut adalah cyberbullying atau perundungan di ruang digital.

Mbak Di menjelaskan, kekerasan digital dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari tindakan menyakiti, mengintimidasi, mengancam, mempermalukan seseorang, hingga menyebarkan konten atau informasi yang dapat merugikan orang lain.

Menurutnya, dampak cyberbullying tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, sosial, ekonomi, maupun kehidupan korban.

Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan digital, terutama terhadap anak.

“Kembali lagi diserahkan kepada keluarga bagaimana memberikan imun, bagaimana memberikan aturan-aturan kesepakatan di dalam keluarga,” kata Mbak Di.

Kesalahan Orang Tua Jangan Menjadi Hukuman bagi Anak

Mbak Di juga menyoroti fenomena ketika persoalan rumah tangga seseorang diunggah ke media sosial dan kemudian menjadi konsumsi publik.

Menurutnya, persoalan tersebut dapat menjadi semakin rumit ketika netizen memberikan komentar tanpa mengetahui persoalan secara utuh. Bahkan, anak-anak yang tidak terlibat dalam masalah orang tuanya dapat ikut menjadi sasaran komentar maupun stigma.

“Kesalahan orang tua tidak seharusnya menjadi hukuman sosial bagi anak-anaknya,” tegas Mbak Di.

Ia mengingatkan, unggahan yang sudah tersebar di media sosial juga tidak mudah dihilangkan. Meski unggahan asli telah dihapus, tangkapan layar maupun komentar dapat kembali disebarluaskan.

“Jejak digital ini sulit dikendalikan. Postingan yang sudah diposting, tangkapan layar, komentar-komentar, bisa tersebar kembali meskipun unggahan aslinya sudah dihapus,” jelasnya.

Hal tersebut juga menjadi perhatian Mbak Anis. Menurutnya, anak-anak dapat tetap merasakan dampak dari persoalan tersebut meskipun akun media sosial keluarganya sudah ditutup.

“Yang menjadi korban adalah anak. Walaupun media sosialnya sudah diblok, sudah ditutup, bukan menjadi satu solusi yang akhirnya anak-anak ini menjadi lebih nyaman dalam bersosialisasi,” ujar Mbak Anis.

Ia menilai, perlindungan terhadap anak harus menjadi perhatian utama agar tumbuh kembang mereka tidak terganggu akibat persoalan orang tua.

Jadi Korban Cyberbullying? Jangan Balas dengan Emosi

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika seseorang menjadi korban cyberbullying?

Mbak Di menyarankan korban untuk tidak langsung membalas komentar atau serangan yang diterimanya.

“Yang pertama adalah tenang dulu. Tarik napas, tahan, hembuskan. Yang berikutnya adalah jangan balas,” katanya.

Korban juga disarankan menyimpan bukti berupa tangkapan layar, memblokir akun pelaku, serta melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang dapat memberikan bantuan.

Mbak Anis sependapat bahwa membalas dengan emosi justru berpotensi memperpanjang persoalan.

“Kalau kita sudah balas, sudah pasti akan ada balasan lagi, seterusnya balasan lagi, yang mungkin nanti akan semakin memperkeruh suasana,” ujarnya.

Karena itu, korban perlu menenangkan diri, menyimpan bukti, dan mencari dukungan dari orang tua, keluarga, orang dewasa yang dipercaya, maupun pihak terkait.

Keluarga Jadi Benteng Pertama

Dalam menciptakan ruang digital yang sehat, kedua narasumber sepakat bahwa keluarga memiliki peranan yang sangat penting.

Mbak Di mengatakan keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berkomunikasi dan memahami etika dalam menggunakan teknologi.

“Keluarga harus menjadi teladan dalam berkomunikasi dan pendampingan penggunaan gadget,” katanya.

Orang tua, lanjut dia, perlu berdiskusi dengan anak mengenai etika bermedia sosial serta membuat aturan dan kesepakatan yang berlaku bagi seluruh anggota keluarga.

Hal senada disampaikan Mbak Anis. Menurutnya, ketika orang tua memberikan gadget atau akses media sosial kepada anak, mereka juga harus menjelaskan manfaat sekaligus risiko yang mungkin muncul.

“Bukan hanya senangnya saja, bukan hanya bagusnya saja yang kita kasih tahu. Kita juga harus memberitahu apa risikonya, apa dampaknya, apa yang kemungkinan terjadi ketika bermain media sosial,” ujar Mbak Anis.

Menjadi Netizen yang Positif

Untuk menjadi netizen yang positif, Mbak Di mengajak masyarakat untuk menggunakan nalar sebelum menyebarkan informasi dan menggunakan empati sebelum mengetik komentar.

“Empati sebelum mengetik. Tanyakan, kalau kalimat ini ditujukan kepada saya, bagaimana rasanya?” kata Mbak Di.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi serta memahami bahwa setiap aktivitas di ruang digital meninggalkan jejak.

“Yang paling penting adalah zero bullying. Tidak ikut menghina, tidak ikut mengintimidasi orang, tidak ikut mempermalukan, tidak ikut menyebarkan aib,” tegasnya.

Menurut Mbak Di, masyarakat boleh berbeda pendapat, tetapi perbedaan tersebut harus disampaikan dengan santun dan penuh tanggung jawab.

“Berani berbeda pendapat itu enggak apa-apa, tapi dengan santun, dengan hormat. Netizen tangguh bukan berarti yang keras berkomentar,” ujarnya.

Sementara itu, Mbak Anis mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam keinginan menjadi orang pertama yang membagikan informasi, terutama ketika sebuah isu sedang viral.

“Jangan mudah share. Kita mendapatkan informasi karena lagi tren, FOMO, atau ingin share duluan ke grup. Padahal belum tentu informasi yang di-share itu benar,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih selektif, menahan diri, menghargai perbedaan, serta menggunakan bahasa yang tidak menyakiti orang lain.

Merdeka Digital dengan Tanggung Jawab

Menutup perbincangan, Mbak Anis mengajak masyarakat untuk menjadi pengguna media digital yang cerdas dan mampu menghargai orang lain.

“Mari menjadi cerdas, kemudian bisa menghargai orang lain. Coba menjadi solusi dan bukan menjadi sumber perundungan,” ujarnya.

Sementara Mbak Di berpesan agar kebebasan digital selalu digunakan dengan penuh tanggung jawab.

“Gunakan kebebasan digital ini dengan tanggung jawab. Berpikir sebelum melakukan klik, berhenti sebelum menyakiti, dan jadikan setiap komentar ini sebagai jejak kebaikan,” kata Mbak Di.

Menurutnya, menjadi masyarakat digital yang hebat bukanlah tentang siapa yang paling viral, melainkan siapa yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan empati dan kemanusiaan.

“Merdeka digital” pada akhirnya bukan berarti bebas melakukan apa saja di ruang digital. Merdeka digital adalah kemampuan untuk berpikir sebelum berbagi, bijak sebelum berkomentar, menghargai perbedaan, serta berani menghentikan cyberbullying.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=jBrf3D2mcDE

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: