Kanker Payudara pada Ibu Hamil dan Menyusui: Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan yang Tepat
Radio Tangerang Heartline FM — Kanker payudara masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius bagi perempuan. Namun, di tengah tingginya kasus tersebut, masih banyak masyarakat yang memiliki kekhawatiran dan pemahaman yang kurang tepat mengenai kanker payudara, terutama ketika penyakit ini terjadi pada ibu hamil atau menyusui.
Dalam program “Ngobres (Ngobrol Kesehatan)”, Jose Marwoto berbincang bersama Dr. dr. Alfiah Amiruddin, MD, MSurg, untuk membahas kanker payudara, faktor risikonya, pentingnya deteksi dini, hingga penanganannya pada perempuan yang sedang hamil dan menyusui.
Kanker Payudara Semakin Banyak Ditemukan pada Usia Muda
Menurut dr. Alfiah, kanker payudara saat ini menjadi salah satu kanker dengan angka kejadian yang tinggi pada perempuan. Perubahan pola hidup dan berbagai faktor risiko membuat kanker payudara juga semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
Sekitar 5–10 persen kanker payudara berkaitan dengan faktor genetik, sementara sebagian besar lainnya bersifat sporadik. Artinya, kanker tersebut tidak secara langsung disebabkan oleh mutasi gen yang diwariskan dalam keluarga.
Berbagai faktor dapat berkontribusi terhadap risiko kanker payudara, antara lain gaya hidup, paparan asap rokok, konsumsi alkohol, obesitas, diabetes, faktor hormonal, serta berbagai faktor lingkungan. Namun, tidak ada satu faktor tunggal yang dapat dikatakan sebagai penyebab utama pada setiap kasus. Kanker biasanya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang terakumulasi dalam jangka panjang.
Deteksi Dini Menjadi Kunci
Salah satu pesan terpenting dalam pembahasan tersebut adalah jangan menunggu kanker payudara sampai menimbulkan gejala berat. Kanker payudara tidak selalu ditandai dengan benjolan yang dapat diraba. Karena itu, anggapan bahwa seseorang pasti tidak mengalami kanker hanya karena tidak menemukan benjolan perlu diluruskan.
Pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI dapat menjadi salah satu langkah untuk mengenali perubahan pada payudara. Namun, pemeriksaan mandiri tidak menggantikan pemeriksaan medis maupun pemeriksaan pencitraan ketika memang diperlukan.
Pemeriksaan seperti USG, mamografi, atau MRI dapat digunakan sesuai kondisi dan pertimbangan medis pasien. Deteksi pada tahap lebih awal memberikan peluang penanganan yang lebih baik dan dapat membuka kemungkinan penggunaan terapi yang lebih terbatas dibandingkan ketika kanker sudah ditemukan pada stadium lanjut.
Tidak Semua Kanker Payudara Harus Berakhir dengan Pengangkatan Payudara
Kekhawatiran bahwa pemeriksaan ke dokter otomatis berujung pada pengangkatan payudara juga menjadi salah satu hal yang perlu diluruskan.
Dengan perkembangan teknik operasi saat ini, tidak semua pasien kanker payudara harus menjalani mastektomi atau pengangkatan seluruh payudara.
Pada kondisi tertentu, terutama ketika tumor ditemukan dalam ukuran kecil dan masih memungkinkan untuk dipertahankan, dokter dapat mempertimbangkan breast-conserving surgery atau operasi konservasi payudara. Teknik onkoplastik juga dapat digunakan pada pasien tertentu untuk membantu mempertahankan bentuk payudara.
Pilihan terapi tentunya sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien, termasuk ukuran dan karakteristik tumor serta stadium penyakit.
Karena itu, semakin dini kanker ditemukan, semakin besar pula kemungkinan pasien memiliki pilihan terapi yang lebih beragam.
Bagaimana Jika Kanker Payudara Terjadi Saat Hamil?
Kanker payudara yang ditemukan selama kehamilan merupakan kondisi yang kompleks. Dalam situasi tersebut, dokter harus mempertimbangkan keselamatan ibu sekaligus kondisi janin.
Perubahan payudara selama kehamilan juga dapat membuat tanda-tanda kanker menjadi lebih sulit dikenali. Payudara mengalami perubahan ukuran, bentuk, dan fungsi sebagai bagian dari persiapan tubuh untuk menyusui.
Karena itu, setiap perubahan yang mencurigakan tetap perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jangan menganggap suatu perubahan pada payudara semata-mata sebagai akibat kehamilan.
Penanganan kanker payudara pada ibu hamil perlu dilakukan secara individual dan melibatkan tim medis yang memahami kondisi kehamilan. Jenis pemeriksaan dan terapi akan disesuaikan dengan usia kehamilan, karakteristik kanker, serta kondisi ibu dan janin.
Apakah Ibu dengan Kanker Payudara Masih Bisa Menyusui?
Pertanyaan mengenai menyusui menjadi salah satu perhatian besar ketika kanker payudara ditemukan pada ibu yang baru melahirkan.
Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa kanker payudara tidak ditularkan kepada bayi melalui ASI. Namun, kemampuan seorang ibu untuk tetap menyusui sangat bergantung pada terapi yang sedang dijalani.
Ketika pasien menjalani kemoterapi, terapi hormonal, terapi target tertentu, radioterapi, atau obat sistemik tertentu, pemberian ASI dapat menjadi tidak aman atau perlu dihentikan sementara maupun sepenuhnya, tergantung jenis terapi.
Karena itu, ibu dengan kanker payudara yang sedang menyusui perlu berkonsultasi dengan dokter yang menangani kanker dan tenaga kesehatan terkait sebelum melanjutkan atau menghentikan pemberian ASI.
Jangan menghentikan pengobatan kanker demi menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Obesitas dan Kanker Payudara
Obesitas juga dibahas sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko kanker payudara, terutama pada perempuan setelah menopause.
Setelah menopause, produksi estrogen tidak lagi terutama berasal dari ovarium. Jaringan lemak dapat berperan dalam pembentukan estrogen melalui proses tertentu. Karena itu, semakin banyak jaringan lemak, semakin besar pula paparan estrogen pada tubuh.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa menjaga berat badan tetap sehat penting dilakukan, termasuk setelah menopause.
Apakah Ada Makanan yang Secara Langsung Menyebabkan Kanker Payudara?
Dalam perbincangan tersebut juga muncul pertanyaan mengenai makanan tertentu, termasuk produk kedelai seperti tahu dan tempe.
Tidak ada satu jenis makanan yang dapat dikatakan secara sederhana sebagai penyebab langsung kanker payudara. Sebaliknya, pola makan secara keseluruhan, berat badan, aktivitas fisik, serta gaya hidup merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Produk kedelai juga tidak semestinya langsung dianggap sebagai makanan yang harus dihindari karena takut menyebabkan kanker payudara.
Yang lebih penting adalah menerapkan pola makan seimbang dan tidak berlebihan, serta menjaga berat badan dan aktivitas fisik.
Olahraga Tetap Penting
Aktivitas fisik merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. Olahraga membantu menjaga berat badan, kebugaran, metabolisme, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Olahraga bukan berarti memberikan jaminan bahwa seseorang tidak akan terkena kanker. Namun, menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu mengurangi sejumlah faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
Karena itu, olahraga sebaiknya menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami masalah kesehatan.
Jangan Takut Memeriksakan Diri
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker adalah keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Ketakutan terhadap operasi, kemoterapi, biaya pengobatan, atau anggapan bahwa kanker dapat sembuh sendiri dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan.
Padahal, semakin lama diagnosis ditunda, semakin besar kemungkinan penyakit ditemukan pada kondisi yang lebih lanjut.
Masyarakat juga tidak harus selalu langsung datang ke rumah sakit besar. Fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, dapat menjadi tempat awal untuk berkonsultasi dan mendapatkan pemeriksaan atau rujukan apabila diperlukan.
Komunitas penyintas kanker juga dapat berperan penting dalam memberikan edukasi, dukungan, dan semangat kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan payudara.
Pesan Penting bagi Ibu Hamil dan Menyusui
Bagi perempuan yang sedang hamil atau menyusui, perubahan pada payudara memang merupakan hal yang umum. Namun, perubahan yang menetap atau terasa tidak wajar tetap perlu diperiksa.
Jangan menunda konsultasi hanya karena menganggap perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehamilan atau menyusui.
Apabila kanker payudara benar-benar ditemukan, kehamilan atau menyusui bukan berarti pengobatan tidak dapat dilakukan. Penanganan harus direncanakan secara hati-hati oleh tim medis dengan mempertimbangkan kondisi ibu dan bayi.
Yang terpenting adalah komunikasi yang terbuka antara pasien dan dokter. Sampaikan seluruh keluhan, kondisi kehamilan atau menyusui, serta obat atau terapi yang sedang digunakan.
Jangan Takut, tetapi Jangan Mengabaikan
Kanker payudara memang merupakan penyakit serius, tetapi ketakutan tidak seharusnya membuat seseorang menghindari pemeriksaan.
Pesan utama dari perbincangan ini sederhana: kenali tubuh sendiri, jangan mengabaikan perubahan pada payudara, lakukan pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan segera berkonsultasi apabila menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Deteksi dini bukan berarti seseorang sedang mencari-cari penyakit. Sebaliknya, deteksi dini merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Dan bagi ibu hamil maupun menyusui, ketika muncul kekhawatiran mengenai kanker payudara, jangan mengambil keputusan sendiri. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar pemeriksaan dan pengobatan dapat dilakukan dengan aman, baik untuk ibu maupun bayinya.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
