Dari Keterbatasan Menjadi Kekuatan, Kisah Mawar Simanjuntak Menembus Stigma dan Penolakan
Radio Tangerang Heartline FM โ Keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Kisah Mawar Simanjuntak menjadi gambaran bahwa keterbatasan justru dapat menjadi kekuatan ketika seseorang berani menerima dirinya, terus berusaha, dan tidak menyerah pada keadaan.
Mawar Simanjuntak, penyandang disabilitas yang kini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, membagikan perjalanan hidupnya dalam program Sketsa Keluarga Indonesia pada Selasa (11/08).
Dalam program tersebut, Mawar hadir bersama Pendeta Andrea Sutikno, STH, MA, Gembala Sidang GSJA Kasih Karunia. Keduanya membahas tema “Dari Keterbatasan Menjadi Kekuatan”, sekaligus mengajak masyarakat melihat penyandang disabilitas bukan dari keterbatasannya, melainkan dari kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Mawar menceritakan, dirinya sebenarnya lahir dalam kondisi sehat seperti anak-anak pada umumnya. Namun, ketika berusia sekitar 11 bulan, ia mengalami sebuah peristiwa yang kemudian membuatnya mengalami disabilitas.
Menurut cerita mendiang ibunya, Mawar pernah jatuh dari ayunan dan mengalami demam tinggi. Setelah peristiwa tersebut, ia mengalami polio yang kemudian menyebabkan kondisi disabilitas hingga saat ini.
Kesadaran bahwa dirinya berbeda mulai dirasakan Mawar ketika memasuki usia remaja. Ia mulai menyadari adanya perbedaan antara dirinya dengan teman-teman dan orang-orang di sekitarnya.
Kondisi tersebut sempat membuatnya minder dan kehilangan kepercayaan diri.
“Ketika mulai beranjak remaja, saya mulai mengerti bahwa saya disabilitas. Saya mulai menyadari bahwa saya berbeda dengan teman-teman dan orang-orang di sekeliling saya,” ungkap Mawar.
Perjalanan Mawar tidak selalu berjalan mudah. Ia pernah mengalami perundungan ketika masih bersekolah. Cara berjalannya yang berbeda menjadi bahan ejekan sejumlah orang.
Pengalaman serupa kembali ia rasakan ketika menempuh pendidikan di Jakarta. Bahkan, pernah ada pihak yang mempertanyakan keputusannya untuk berkuliah karena menganggap kondisi disabilitas akan membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan.
Penolakan juga dialaminya ketika sudah bekerja. Saat ingin menjadi pekerja tetap di sebuah yayasan tempatnya mengabdi, Mawar kembali menghadapi pertanyaan dan keraguan mengenai kemampuannya.
Perkataan tersebut tentu menyakitkan. Mawar mengaku pernah menangis karena merasa orang-orang dengan kondisi seperti dirinya seharusnya mendapatkan kesempatan dan ruang untuk berkembang, bukan justru disingkirkan.
Namun, pengalaman pahit tersebut justru menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya.
Mawar memilih untuk tidak berhenti. Ia berusaha menjadikan berbagai penolakan sebagai dorongan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu berkarya dan memberikan kontribusi.
“Kalau saya tidak mengalami penolakan itu, saya tidak akan sekuat sekarang,” kata Mawar.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Mawar memutuskan untuk merantau ke Papua. Ia pernah menjadi pengasuh di sebuah yayasan di Nabire, Papua, yang kini berada di wilayah Provinsi Papua Tengah. Ia juga pernah menjadi guru Bimbingan Konseling (BK) di SMA Kristen Anak Nabire.
Keputusan untuk merantau tentu bukan hal mudah bagi keluarganya. Sang ayah sempat merasa khawatir dengan kondisi Mawar dan berat melepasnya pergi jauh.
Namun, Mawar meyakinkan keluarganya bahwa ia ingin bekerja, berkarya, dan belajar hidup mandiri.
“Kalau saya hanya di rumah, buat apa? Saya sudah selesai kuliah dan tidak ingin hanya menganggur. Saya ingin berkarya dan berjuang untuk diri saya sendiri,” tuturnya.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Mawar kini telah menjadi PNS dan telah menjalani pekerjaannya selama lebih dari empat tahun.
Baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan mendapatkan pekerjaan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi jawaban atas berbagai keraguan yang pernah ditujukan kepadanya.
Ia memilih menjawab keraguan bukan dengan banyak kata, melainkan melalui karya dan prestasi.
Pentingnya Membangun Masyarakat Inklusif
Pendeta Andrea Sutikno dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya membangun masyarakat yang mampu menerima keberagaman, termasuk keberadaan penyandang disabilitas.
Menurutnya, manusia tidak hidup dalam keseragaman. Setiap orang memiliki perbedaan, kemampuan, dan keterbatasan masing-masing.
“Kalau kita berbicara mengenai keterbatasan, sebenarnya semua orang memiliki keterbatasan. Tetapi sering kali yang didiskriminasi hanya keterbatasan yang terlihat,” ujar Andrea.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memandang rendah, meremehkan, atau bersikap pesimis terhadap penyandang disabilitas.
Menurut Andrea, membangun lingkungan inklusif tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Masyarakat juga perlu belajar memahami kebutuhan dan perasaan penyandang disabilitas.
Ia mencontohkan, ketika ingin membantu seseorang dengan disabilitas, sebaiknya tidak langsung bertindak tanpa bertanya. Sikap sederhana seperti menanyakan apakah bantuan diperlukan dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap kemandirian dan pilihan seseorang.
Andrea juga menekankan pentingnya membedakan simpati dan empati. Simpati dapat muncul ketika seseorang merasa iba terhadap kondisi orang lain, sedangkan empati mendorong seseorang untuk berusaha memahami dan merasakan apa yang dialami orang tersebut.
“Empati itu bukan hanya perhatian atau belas kasihan, tetapi kita juga belajar merasakan apa yang mereka rasakan,” jelasnya.
Jangan Sembunyikan Keterbatasan
Kini, Mawar tidak lagi melihat disabilitas sebagai alasan untuk membatasi dirinya. Ia bahkan memiliki cita-cita untuk terus berkembang sebagai seorang pembicara publik dan menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya.
Ia menyadari bahwa tanpa disadari, perjalanan hidup dan pelayanan yang dijalaninya selama ini telah membawanya semakin dekat dengan cita-cita tersebut.
Mawar juga ingin pengalamannya dapat menjadi berkat dan memberikan semangat kepada orang lain, khususnya sesama penyandang disabilitas.
Pesan itu ia sampaikan secara khusus kepada teman-teman penyandang disabilitas agar tidak menyembunyikan kondisi yang dimiliki.
“Jangan pernah sembunyikan disabilitasmu. Terbukalah dan cobalah berdamai dengan dirimu. Terimalah dirimu apa adanya. Justru dalam keterbatasan, Tuhan dapat memakai semua itu untuk kemuliaan nama Tuhan,” pesan Mawar.
Ia juga mengingatkan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi penolakan maupun perkataan yang merendahkan.
Bagi Mawar, perjalanan hidupnya membuktikan bahwa seseorang tidak boleh menentukan masa depan hanya berdasarkan penilaian orang lain.
Keterbatasan yang Menjadi Kekuatan
Pendeta Andrea menutup perbincangan dengan pesan bahwa setiap manusia merupakan ciptaan Tuhan yang berharga. Karena itu, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.
“Keterbatasan yang dianggap oleh manusia akan menjadi kekuatan ketika kita menyerahkannya di dalam kuasa Tuhan,” kata Andrea.
Kisah Mawar Simanjuntak menjadi pengingat bahwa kesempatan, dukungan, dan lingkungan yang inklusif dapat membuka jalan bagi seseorang untuk berkembang.
Dari pengalaman menghadapi ejekan, penolakan, hingga kekhawatiran keluarga ketika merantau, Mawar memilih terus melangkah. Kini, ia telah membuktikan bahwa kondisi fisik bukan ukuran kemampuan seseorang untuk berkarya.
Perjalanan Mawar juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang setara. Bukan sekadar melihat penyandang disabilitas sebagai pihak yang harus dikasihani, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi, mimpi, kemampuan, dan hak yang sama untuk berkarya.
Dari keterbatasan, Mawar memilih untuk bertumbuh. Dari penolakan, ia belajar menjadi kuat. Dan dari perjalanan panjangnya, ia membuktikan bahwa kesempatan dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
