14 August 2026
Daniel Arista saat membagikan kesaksian hidup dan pengalaman bangkit dari pengkhianatan rekan bisnis dalam program BDK di Radio Heartline FM Tangerang

Bangkit dari Pengkhianatan, Daniel Arista Memilih Mengampuni dan Menjadi Berkat

Radio Tangerang Heartline FMKeterpurukan dalam hidup tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Daniel Arista menceritakan berbagai pengalaman sulit yang pernah dilaluinya justru menjadi proses untuk membentuk karakter, menguatkan mental, serta mengajarkannya untuk tetap bersyukur dan mengandalkan Tuhan.

Kisah tersebut dibagikan Daniel dalam program kesaksian BDK (Bangkit dari Keterpurukan) di Heartline Radio. Daniel dikenal sebagai seorang wiraswasta yang pernah mengalami kekecewaan akibat pengkhianatan rekan bisnis hingga pencemaran nama baik. Namun, ia memilih untuk tidak terjebak dalam luka masa lalu dan berusaha bangkit melalui proses pengampunan serta pemulihan.

Masa Kecil yang Membentuk Karakter

Daniel lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sebuah desa terpencil di Sepauk, Kalimantan Barat. Kehidupan di lingkungan tersebut membuatnya terbiasa menghadapi berbagai keterbatasan dan belajar mandiri sejak usia muda.

Berbagai pengalaman masa kecil tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Daniel menghadapi tantangan kehidupan di kemudian hari. Ia melihat masa lalu bukan hanya sebagai bagian yang sulit, tetapi juga sebagai pengalaman yang membentuk kekuatan dirinya.

“Segala sesuatu yang kita alami di masa lalu, baik di masa kecil itu saya bersyukur sudah melewati itu sehingga kita punya satu pengalaman untuk menjadi satu kekuatan ke depan,” kata Daniel.

Memilih Bekerja Sambil Kuliah

Setelah berpindah ke Jakarta, Daniel menjalani kehidupan yang tidak mudah. Ia memilih bekerja sambil menjalani pendidikan. Aktivitas pekerjaan yang semakin padat akhirnya membuat rencana pendidikannya tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dalam perjalanan karier, Daniel sempat bekerja di perusahaan ekspedisi dan interior. Ia kemudian dipercaya menjadi supervisor dan memimpin tim dalam berbagai pekerjaan di sejumlah kota. Setelah menikah pada 2010, Daniel memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan mulai membangun usaha secara mandiri.

Pengkhianatan Rekan Bisnis

Perjalanan Daniel sebagai pengusaha kemudian menghadapi ujian besar. Ia pernah bekerja sama dengan seorang rekan dalam bisnis pengadaan tablet pada masa pandemi Covid-19.

Dalam kerja sama tersebut, keduanya membagi peran. Rekannya menangani bagian perusahaan dan permodalan, sementara Daniel bertanggung jawab pada pekerjaan teknis di lapangan.

Bisnis tersebut sempat menghasilkan keuntungan besar. Namun, persoalan muncul ketika Daniel tidak memperoleh bagian keuntungan yang sebelumnya diharapkan. Ia mengaku sudah menunggu cukup lama, tetapi pembayaran yang menjadi haknya tidak kunjung diterima.

“Saya tunggu, tunggu, sungguh sampai hari ini 1000 perak pun tidak dibayar. Begitu sakitnya hati saya waktu itu,” ungkap Daniel.

Saat Nama Baik Dicemarkan

Persoalan yang dihadapi Daniel tidak berhenti pada masalah bisnis. Ia juga pernah menghadapi situasi ketika nama baiknya dicemarkan.

Dalam kondisi tersebut, Daniel berusaha melakukan langkah yang diperlukan untuk menjelaskan persoalan. Ia mengumpulkan data dan dokumentasi sebagai bukti untuk menunjukkan posisi dirinya.

Namun, pengalaman itu juga membuat Daniel melakukan introspeksi. Ia menyadari ada sejumlah kelemahan dalam dirinya yang perlu diperbaiki, termasuk kurangnya dokumentasi tertulis dalam kerja sama bisnis.

“Ini yang menjadi bukan pembelaan saya, tetapi justru saya harus mengoreksi diri. Kelemahan apa yang saya punya,” ujarnya.

Belajar Mengampuni

Menghadapi pengkhianatan dan pencemaran nama baik membuat Daniel berada dalam pergumulan emosional. Ia sempat marah dan kecewa. Ia kemudian mencari nasihat dari orang-orang yang dipercaya, termasuk keluarga, teman, pengacara, dan hamba Tuhan.

Dari proses tersebut, Daniel akhirnya belajar untuk melepaskan rasa sakit dan memilih mengampuni. Baginya, pengampunan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menjadi bagian dari proses pemulihan dirinya sendiri.

Ia juga menyadari bahwa penyelesaian sebuah persoalan tetap membutuhkan tindakan nyata. Menurutnya, manusia harus melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, sementara selebihnya diserahkan kepada Tuhan.

“Ketika kita lakukan bagian kita, ketika kita sudah berdoa, maka Tuhan yang akan berperang untuk kita,” tuturnya.

Dukungan Keluarga dan Komunitas

Daniel menilai dukungan dari orang-orang terdekat memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk, ia tidak seharusnya menghadapi semuanya seorang diri.

Menurut Daniel, seseorang perlu memiliki komunitas yang baik serta hubungan yang kuat dengan Tuhan. Kedua hal tersebut dapat menjadi fondasi ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya.

Ia pun mengingatkan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan tindakan. Berdoa tetap penting, tetapi seseorang juga perlu mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.

Tidak Berhenti di Masa Lalu

Dari seluruh pengalaman yang dilewatinya, Daniel memilih untuk tidak menjadikan keterpurukan sebagai identitas dirinya. Ia mendorong orang-orang yang sedang berada dalam masa sulit untuk tetap melihat masa depan.

“Kita harus melihat ke depan masih ada perjalanan yang panjang,” kata Daniel.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap bersyukur atas apa yang dimiliki, menggunakan karunia yang diberikan Tuhan, mengelola waktu dengan baik, serta belajar mendoakan orang lain.

Menurutnya, kehidupan tidak hanya tentang apa yang sedang dialami hari ini. Ada proses panjang yang masih harus dijalani dan kesempatan untuk menabur kebaikan yang suatu saat dapat menghasilkan sesuatu yang besar.

Dari Luka Menjadi Berkat

Kisah Daniel menjadi gambaran bahwa pengalaman dikhianati, mengalami kegagalan, maupun menghadapi pencemaran nama baik tidak harus menjadi akhir dari kehidupan.

Pengalaman tersebut justru dapat menjadi ruang untuk belajar, melakukan introspeksi, mengampuni, dan bertumbuh. Bagi Daniel, bangkit dari keterpurukan bukan sekadar melupakan luka, tetapi menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk memberikan dampak bagi orang lain.

Daniel yang pernah mengalami pengkhianatan dalam bisnis dan pencemaran nama baik kini memilih untuk menjalani hidup bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=8baPfE0paD4

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: