Berkata “Ya” Jika Ya dan “Tidak” Jika Tidak: Belajar Hidup dalam Kejujuran dan Integritas
Radio Tangerang Heartline FM — Kejujuran sering kali terdengar sederhana, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari, berkata jujur tidak selalu mudah. Ada rasa sungkan, takut mengecewakan orang lain, tekanan dari atasan, kepentingan kelompok, hingga keinginan untuk sekadar mengikuti arus.
Pesan tentang pentingnya kejujuran tersebut menjadi bahan perenungan dalam program Let Us Reason Together yang membahas Matius 5:37: “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”
Dr. Andi Hukom menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak sekadar berbicara mengenai kebiasaan berkata “ya” atau “tidak”, tetapi menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam, yakni kejujuran, ketulusan, dan integritas seseorang.
Menurutnya, perkataan harus memiliki keselarasan dengan apa yang sebenarnya diyakini di dalam hati. Jangan sampai seseorang mengatakan “ya” hanya karena takut berbeda dengan mayoritas, sementara dalam hati mengetahui bahwa sesuatu tersebut sebenarnya keliru.
Kejujuran Menjadi Barang Mahal
Dr. Andi menilai kejujuran semakin menjadi sesuatu yang berharga di tengah kehidupan yang penuh kepentingan. Manusia terkadang tidak mengatakan sesuatu sebagaimana adanya karena memiliki pertimbangan tertentu.
“Kita sulit sekali tulus. Kita sulit sekali untuk mengatakan ya sama dengan ya, tidak sama dengan tidak. Enggak semudah yang tertulis,” ujar Dr. Andi.
Ia mencontohkan situasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa saja sebenarnya tidak setuju terhadap sebuah keputusan, tetapi memilih mengatakan “iya” karena merasa tidak enak, terutama ketika berhadapan dengan orang yang memiliki posisi lebih tinggi.
Persoalan menjadi lebih serius ketika sikap tersebut dilakukan untuk membenarkan sesuatu yang salah. Menurut Dr. Andi, kompromi semacam itu dapat berkembang menjadi kebiasaan yang pada akhirnya membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap kesalahan.
Kebiasaan berbohong atau membenarkan sesuatu yang salah secara terus-menerus, lanjutnya, dapat membuat seseorang semakin terbiasa hingga tidak lagi merasa bersalah.
Jangan Hanya Mengatakan Apa yang Ingin Didengar Atasan
Salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan integritas muncul di lingkungan kerja. Ada situasi ketika seseorang mengetahui sebuah keputusan tidak benar, tetapi tetap mengikutinya karena tidak ingin berseberangan dengan atasan.
“Kita cenderung untuk mengatakan apa yang bos mau dengar,” katanya.
Menurutnya, seorang pekerja tetap dapat menyampaikan kebenaran kepada atasan dengan cara yang sopan dan bijaksana. Bersikap tegas terhadap kebenaran tidak berarti harus bersikap kasar atau menyerang.
Dr. Andi bahkan membagikan pengalaman ketika dirinya memilih mengikuti prosedur resmi dalam mengurus sebuah perizinan, meskipun memiliki akses untuk mempercepat proses melalui jalur tertentu.
Ia memilih bersabar dan mengikuti aturan daripada membuka peluang terjadinya praktik yang tidak semestinya.
“Saya biarkan proses berjalan, akhirnya keluar juga. Kan begitu. Tapi saya perlu bersabar daripada saya menghalalkan segala cara,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa integritas bukan hanya soal mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga keberanian untuk tetap memilih yang benar ketika terdapat kesempatan untuk mengambil jalan pintas.
Integritas Diuji Ketika Ada Kesempatan Berbuat Salah
Dr. Andi menjelaskan bahwa integritas seseorang justru terlihat ketika ia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma, tetapi memilih tidak melakukannya.
“Integritas itu kira-kira ketika dia punya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma-norma universal yang berlaku, dia tetap memilih untuk tidak melakukan hal itu. Walaupun dia punya kesempatan bahkan mempunyai kekuasaan,” ungkapnya.
Dengan demikian, integritas bukan sekadar citra baik di hadapan orang lain. Integritas merupakan konsistensi antara nilai, perkataan, dan tindakan, termasuk ketika tidak ada orang lain yang mengawasi.
Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki integritas dapat mencari berbagai alasan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya keliru. Bahkan, pembenaran tersebut bisa dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah kelompok.
Inilah yang menurut Dr. Andi berbahaya. Kesalahan dapat terlihat benar hanya karena dilakukan atau didukung oleh banyak orang.
Berani Melawan Arus
Dalam pembahasannya, Dr. Andi juga mengingatkan bahwa Alkitab mencatat banyak tokoh yang berani mempertahankan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan arus yang berlawanan.
Ia menyebut nama-nama seperti Yeremia, Yesaya, Yehezkiel, Daniel, serta Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sebagai gambaran orang-orang yang tidak sekadar mengikuti keadaan.
Menurutnya, keberanian mengatakan “ya” pada kebenaran dan “tidak” pada kesalahan terkadang memang memiliki konsekuensi.
Seseorang bisa saja tidak disukai, kehilangan jabatan, tidak mendapatkan promosi, atau bahkan mengalami tekanan di tempat kerja. Namun, konsekuensi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip yang benar.
“Saya berusaha sopan mungkin, sehalus mungkin, tapi tidak mengorbankan kebenaran itu. Dan kalau saya ditanya, ya saya mengatakan apa adanya, bukan saya katakan ada apanya,” jelasnya.
Jangan Membenarkan yang Salah karena Tidak Enak Hati
Menariknya, persoalan kejujuran tidak selalu muncul dalam bentuk kebohongan besar. Terkadang persoalan itu hadir melalui hal-hal kecil yang dianggap sepele.
Dr. Andi mencontohkan kebiasaan manusia dalam berkomunikasi. Ketika seseorang bertanya, “Sudah makan belum?”, orang yang ditanya terkadang langsung membuat asumsi bahwa dirinya sedang diajak makan.
Padahal, belum tentu maksud pertanyaan tersebut demikian.
Menurutnya, daripada membuat asumsi, lebih baik seseorang melakukan klarifikasi. Kebiasaan bertanya dan mengklarifikasi dapat mencegah kesalahpahaman serta membuat komunikasi menjadi lebih jujur.
Dari contoh sederhana tersebut, terlihat bahwa kejujuran juga berkaitan dengan keberanian untuk menyampaikan keadaan sebenarnya tanpa dibebani oleh asumsi dan rasa sungkan.
Kejujuran Juga Berlaku di Gereja
Prinsip “ya adalah ya dan tidak adalah tidak” menurut Dr. Andi tidak hanya relevan dalam dunia kerja atau kehidupan sosial, tetapi juga dalam kehidupan bergereja.
Ia menyinggung situasi ketika sebuah kelompok mungkin tergoda melakukan kompromi dengan alasan agar sebuah kegiatan atau pembangunan dapat berjalan lebih mudah.
Menurutnya, tujuan yang baik tidak otomatis membenarkan cara yang salah.
Prinsip tersebut perlu diterapkan secara konsisten, termasuk ketika menghadapi persoalan administrasi, perizinan maupun berbagai kepentingan organisasi.
“Kita mesti sabar kalau ada hal-hal begitu. Kita harus berani menegakkan sesuatu yang benar, bukan menghalalkan segala cara,” ujarnya.
Menyelaraskan Otak, Mulut, dan Hati Nurani
Pada akhirnya, Dr. Andi mengajak umat percaya untuk melihat kejujuran bukan sekadar sebagai aturan moral, melainkan sebagai bagian dari proses pertumbuhan iman.
Ia menggambarkan perjalanan manusia dalam hidup sebagai proses panjang untuk menyelaraskan pikiran, perkataan, dan hati nurani.
“Perjalanan yang paling panjang itu kan menyelaraskan antara otak, mulut, dan hati nurani. Padahal cuma beberapa jengkal aja. Itu perjalanan yang paling panjang, artinya seumur hidup,” katanya.
Karena itu, hidup dalam kejujuran membutuhkan latihan. Seseorang perlu terus belajar mengenali dirinya, memahami motivasinya, meminta hikmat Tuhan, sekaligus melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Memilih Jalan yang Benar Meski Tidak Mudah
Dr. Andi mengakui bahwa mempertahankan integritas bukan perkara mudah. Jalan untuk mengikuti arus sering kali terlihat lebih nyaman karena seseorang tidak perlu berhadapan dengan konflik atau risiko.
Namun, kenyamanan tersebut belum tentu membawa ketenangan yang sebenarnya.
“Jalan lebar itu membawa ketenangan, tapi itu semu. Justru ketika kita berani menegakkan sesuatu yang Yesus katakan tadi, ya di atas ya, tidak di atas tidak, kita menjadi lebih tenang karena kita sudah mengikut apa yang Tuhan perintahkan.”
Pesan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan yang sering kali menuntut manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Menjadi berbeda karena mempertahankan kebenaran mungkin tidak selalu mendapatkan penghargaan secara langsung.
Namun, bagi orang percaya, integritas bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mendukungnya, melainkan oleh kesetiaannya terhadap kebenaran.
Menjaga Integritas dalam Kehidupan Sehari-hari
Matius 5:37 pada akhirnya mengajak setiap orang untuk melihat kembali perkataan dan keputusan yang dibuat setiap hari.
Apakah “ya” yang diucapkan benar-benar berarti ya? Apakah “tidak” yang disampaikan memang lahir dari keyakinan yang benar? Ataukah perkataan kita berubah karena tekanan, kepentingan, ketakutan, atau keinginan untuk menyenangkan orang lain?
Bagi Dr. Andi, Tuhan telah melakukan bagian-Nya dalam keselamatan manusia, sementara manusia juga dipanggil untuk terus belajar menjalani hidup yang benar.
“Sekarang ada bagian kita yang harus kita lakukan. Berusaha keras untuk belajar tentang karakter Dia, belajar tentang hidup kudus, belajar hidup benar,” katanya.
Kejujuran mungkin terlihat sederhana dalam kata-kata, tetapi membutuhkan keberanian dalam praktiknya. Sebab berkata “ya” ketika memang ya dan “tidak” ketika memang tidak berarti memilih untuk hidup konsisten, berintegritas, dan tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan sesaat.
Pada akhirnya, integritas bukan hanya tentang apa yang kita katakan di depan orang lain, tetapi tentang siapa diri kita ketika harus memilih antara mengikuti arus atau mempertahankan kebenaran.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=323ldvAjMwQ
Foto : ilustrasi
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
