Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bukan Debu Biasa, Bisa Picu Gangguan Pernapasan
Radio Tangerang Heartline FM — Masyarakat di wilayah yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik. Partikel abu yang terbawa angin tidak hanya mengganggu jarak pandang dan kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan. Specialist Paru – RS Hermina Periuk Tangerang, dr. Elizabeth Widya Sondakh, Sp.P menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Material tersebut mengandung mineral dan batuan berukuran sangat kecil dengan permukaan yang tajam.
Hal ini dia katakana dalam talkshow bersama radio heartline di akun youtube heartline network pada Senin (07/09).
“Debu vulkanik itu berisi mineral-mineral tajam, batu-batuan yang ikut melayang di udara. Secara mikroskopik, debu vulkanik bisa terlihat seperti pecahan beling,” ujar Elizabeth.
Partikel yang ukurannya sangat kecil tersebut dapat terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh dari lokasi gunung. Ketika terhirup, abu vulkanik dapat masuk hingga ke saluran pernapasan bagian bawah.
Elizabeth menjelasakan paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gejala pada saluran pernapasan. Batuk menjadi salah satu reaksi awal ketika partikel asing masuk ke dalam tubuh. Dalam kondisi tertentu, paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan sesak napas hingga nyeri dada. Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama apabila gejala semakin berat.
Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik bersifat iritatif dan abrasif karena mengandung partikel dengan permukaan tajam. Kondisi tersebut membuat paparan abu vulkanik berpotensi mengiritasi saluran pernapasan.
Risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik menjadi lebih tinggi bagi masyarakat yang sudah memiliki penyakit penyerta, khususnya penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun gangguan paru lainnya.
“Paparan abu vulkanik dapat memicu eksaserbasi atau kekambuhan pada penderita penyakit tersebut.Selain penderita penyakit paru, kelompok seperti bayi, anak-anak, dan ibu hamil juga perlu mendapat perhatian lebih. Narasumber menyebut kelompok tersebut termasuk yang harus lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik,” ujarnya.
Paparan Berlebihan Berpotensi Berdampak Jangka Panjang
Tidak hanya menimbulkan keluhan sementara, paparan partikel dalam jumlah banyak juga perlu diwaspadai. Partikel yang masuk ke paru-paru dan melukai jaringan paru disebut dapat meninggalkan dampak dalam jangka panjang.
Salah satu risiko yang disampaikan adalah terjadinya fibrosis paru yang dapat menyebabkan keluhan sesak napas berkepanjangan. Untuk itu, masyarakat di wilayah yang terpapar tidak disarankan menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa.
Elizabeth menjelaskan masyarakat yang berada di wilayah terdampak dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik.Untuk masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi, narasumber menyarankan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi yang lebih baik, seperti KN95. Selain itu, aktivitas di luar rumah sebaiknya dibatasi apabila tidak ada kebutuhan mendesak.
Bagi penderita asma dan PPOK, obat serta inhaler yang memang telah diresepkan perlu digunakan secara rutin. Apabila mulai muncul tanda-tanda kekambuhan yang cukup mengganggu, pasien disarankan segera berkonsultasi dengan dokter atau mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
“Berada di dalam rumah tidak serta-merta membuat masyarakat terbebas dari paparan abu vulkanik. Abu dapat masuk melalui pintu dan jendela serta menempel pada berbagai permukaan di dalam rumah,” katanya.
Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara di luar sedang buruk. Kebersihan rumah juga perlu lebih diperhatikan. Cara membersihkan rumah pun perlu diperhatikan agar abu tidak kembali beterbangan. Narasumber menyarankan agar lantai dipel terlebih dahulu sebelum dilakukan penyapuan atau pembersihan lainnya. Penggunaan air purifier atau penyedot debu yang mampu menangkap partikel halus juga dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Ia mengatakan perlindungan khusus juga perlu diberikan kepada bayi dan balita. Bayi yang belum memungkinkan menggunakan masker sebaiknya tidak dibawa keluar rumah apabila tidak ada kebutuhan mendesak.
Jika harus bepergian, paparan langsung terhadap udara luar perlu diminimalkan. Anak-anak juga sebaiknya tidak bermain di lingkungan yang masih dipenuhi abu vulkanik. Untuk anak yang sudah cukup besar dan memungkinkan menggunakan masker, orang tua dapat mempertimbangkan masker yang memang dirancang untuk anak.
Kenali Tanda Bahaya
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala setelah terpapar abu vulkanik. Jika mulai mengalami sesak napas, terutama dengan tingkat sedang hingga berat, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis.
Nyeri dada, baik berupa rasa tertusuk maupun terasa berat, juga menjadi salah satu gejala yang perlu diwaspadai. Jika keluhan tidak membaik setelah penanganan awal atau disertai gejala lain seperti demam, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu dipertimbangkan.
Di tengah kondisi erupsi dan potensi paparan abu vulkanik, masyarakat diminta tidak meremehkan gangguan kesehatan yang muncul.
“Jelas kesehatan itu nomor satu. Tetap jaga kesehatan, jangan meremehkan gejala walaupun hanya batuk, tetapi tetap harus antisipasi,” pesan dokter Elizabeth.
Masyarakat juga diimbau tetap mengonsumsi makanan bergizi, menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar rumah, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala yang cukup berat. Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik dapat diminimalkan.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
