21 May 2025
Anjing: Peliharaan Menggemaskan yang Perlu Perlindungan dari Rabies

Bersatu Mewujudkan Pulau Dewata yang Bebas Rabies

Radio Bali Heartline FM – Siapa yang tidak suka anjing? Hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan ini memang menjadi favorit berbagai kalangan. Selain tingkah lakunya yang menghibur, anjing juga dikenal sebagai peliharaan yang setia dan pintar. Anjing yang dilatih sejak kecil akan sangat berguna, bahkan dapat menjaga rumah Anda. Memelihara anjing bukan hanya soal kehadiran mereka yang lucu, tetapi juga soal tanggung jawab besar sebagai pemilik.

Namun, kenyataan yang ada di luar sana cukup mengkhawatirkan. Banyak anjing yang dibuang oleh pemiliknya dengan berbagai alasan. Anjing-anjing tersebut menjadi liar, tidak terurus, dan berisiko tinggi terkena penyakit. Salah satu penyakit yang menjadi ancaman besar adalah rabies, yang dapat menular ke manusia dan hewan lainnya. Di Bali, populasi anjing, baik peliharaan maupun liar, sangat tinggi, dan kasus rabies terus meningkat.

Rabies: Penyakit Berbahaya yang Ditularkan oleh Anjing

Sumber: One Health Laboratory Network

Rabies adalah penyakit infeksius yang menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari keluarga Rhabdoviridae dan genus Lyssavirus. Rabies dapat menular ke manusia melalui gigitan atau air liur anjing yang terinfeksi. Pada anjing yang terjangkit rabies, gejala yang paling umum adalah perubahan perilaku yang menjadi sangat agresif.

Jika virus rabies menular pada manusia, ada dua tahap gejala yang dapat terjadi. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, mual, muntah, dan gangguan tidur. Jika tidak ditangani dengan cepat, virus ini akan berkembang menjadi gejala lanjutan yang dapat berupa dua tipe: agresif dan paralitik. Pada tipe agresif, individu akan menjadi hiperaktif, gelisah, dan bahkan berperilaku agresif. Sementara itu, tipe paralitik menyebabkan kelumpuhan dan ketidakmampuan untuk bergerak.

Angka Kasus Rabies di Bali: Fakta yang Mencengangkan

Pada tahun 2023, Bali mengalami jumlah kasus rabies yang cukup tinggi. Kabupaten Karangasem mencatatkan jumlah kasus terbanyak, yakni 134 kasus, diikuti oleh Gianyar dengan 101 kasus. Sebagai informasi, data terbaru pada Agustus 2024 menunjukkan total 34.809 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Bali, dengan 263 kasus HPR positif dan 4 kematian. Penyebaran penyakit rabies di Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti rendahnya kesadaran masyarakat dan distribusi vaksinasi rabies yang belum merata.

Pentingnya Edukasi dan Vaksinasi Rabies

Pemerintah dan berbagai pihak telah berupaya melakukan vaksinasi massal dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya rabies. Sayangnya, meskipun sudah ada upaya tersebut, kasus rabies di Bali terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang ada belum efektif dalam menekan angka kejadian rabies di Bali. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan dan tindakan yang lebih tegas dan terintegrasi untuk mengatasi masalah ini.

Strategi Pengendalian Rabies: Solusi Berkelanjutan

Salah satu pendekatan yang perlu diterapkan adalah Integrated Vector Management (IVM). IVM merupakan pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan organisasi terkait, untuk mengendalikan vektor penyakit seperti anjing yang terinfeksi rabies. Selain itu, upaya pembersihan lingkungan juga sangat penting untuk mengurangi jumlah anjing liar yang menjadi sumber utama penyebaran virus rabies.

Solusi Inovatif: Smart Monitoring untuk Pemilik Anjing

Untuk menekan jumlah anjing liar, diperlukan kebijakan yang lebih tegas, seperti larangan membuang anjing sembarangan. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah Smart Monitoring, yaitu sistem yang mewajibkan setiap pemilik anjing untuk mendaftarkan hewan peliharaannya secara resmi. Anjing akan dilengkapi dengan chip GPS yang terhubung dengan database online yang berisi informasi kepemilikan dan status vaksinasi. Pemerintah dapat melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan anjing terawat dan divaksinasi, serta mencegah adanya anjing liar.

Dengan adanya program ini, diharapkan pemerintah dapat mengontrol kepemilikan anjing dari jarak jauh dan mengurangi jumlah anjing liar yang menjadi penyebab utama penyebaran rabies di Bali.

Penulis:
Vania Glory Falensia Putri Loa
Program Studi Biologi-Fakultas Bioteknologi-Universitas Kristen Duta Wacana

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: