07 July 2025

Buak Tat, Kue Tradisional Khas Pesisir Barat Lampung dengan Isian Nanas

Radio Heartline Lampung – Buak Tat, Kue Tradisional Khas Pesisir Barat Lampung dengan Isian Nanas

Indonesia memiliki banyak sekali makanan khas daerah yang sarat nilai budaya. Salah satunya adalah buak tat, kue tradisional khas Pesisir Barat Lampung. Makanan tradisional Lampung ini bukan hanya sekadar lezat, tetapi juga mencerminkan sejarah, budaya, serta nilai kebersamaan masyarakat setempat. Bahkan, buak tat telah menjadi bagian penting dari identitas kuliner Lampung, terutama di wilayah Lampung Barat dan Pesisir Barat.

Asal Usul Buak Tat

Buak tat sudah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Lampung sebagai sajian wajib dalam berbagai acara adat. Misalnya dalam pernikahan, khitanan, syukuran, dan upacara adat lainnya, buak tat selalu hadir sebagai suguhan untuk para tamu. Oleh karena itu, masyarakat memaknai kue khas Pesisir Barat Lampung ini sebagai simbol penghormatan, penghargaan, dan bentuk penerimaan kepada tamu.

Menurut cerita, nama “tat” sendiri diyakini berasal dari kata klapertart yang diperkenalkan oleh bangsa Belanda saat masa penjajahan. Karena pengucapan klapertart dirasa sulit, maka masyarakat Pesisir Barat menyebutnya lebih ringkas menjadi “tat”. Kemudian, resep kue ini mengalami modifikasi dan berbaur dengan budaya lokal. Akibatnya, lahirlah buak tat dengan isian selai nanas yang lebih sesuai dengan cita rasa masyarakat Lampung.

Bahkan di Bengkulu, juga ditemukan kue serupa karena faktor sejarah kolonial yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya kolonial masih meninggalkan jejak dalam kuliner Nusantara, meskipun diolah dan diadaptasi sesuai selera masyarakat setempat.

Ciri Khas dan Rasa Buak Tat

Buak tat memiliki bentuk persegi panjang atau bulat dengan ukuran besar. Permukaannya dihiasi motif atau pola khas yang terlihat artistik, serta memiliki warna cokelat keemasan yang menggoda selera. Karena ukurannya cukup besar, buak tat harus dipotong-potong terlebih dahulu sebelum disajikan agar mudah disantap bersama keluarga atau para tamu.

Isian buak tat terbuat dari selai nanas yang manis dan sedikit asam. Hal ini membuat cita rasa buak tat menjadi unik, karena perpaduan rasa manis, asam, serta aroma nanas yang khas. Selain itu, teksturnya lembut dan legit, mirip seperti nastar dalam ukuran besar. Karena itulah banyak orang menyebut buak tat sebagai nastar jumbo khas Lampung.

Selain cita rasa yang memanjakan lidah, buak tat juga menawarkan sensasi nostalgia bagi masyarakat Lampung. Setiap gigitan seolah menghadirkan kehangatan suasana kampung halaman, terlebih jika dinikmati bersama keluarga besar di momen-momen istimewa.

Makna Budaya Buak Tat

Lebih jauh lagi, buak tat bukan hanya sekadar makanan biasa. Kue ini sarat akan makna budaya dan nilai-nilai kebersamaan. Proses pembuatannya biasanya dilakukan secara gotong royong dalam tradisi rewang atau manjau. Saat acara adat digelar, para ibu-ibu atau perempuan Lampung akan berkumpul dan bekerja sama membuat buak tat. Hal ini mencerminkan rasa persatuan, kekeluargaan, serta solidaritas yang sudah mengakar di masyarakat Lampung.

Meskipun perkembangan zaman membawa banyak perubahan, buak tat tetap diwariskan secara turun-temurun agar tidak punah. Upaya pelestarian pun terus dilakukan oleh masyarakat adat maupun generasi muda. Selain itu, kegiatan promosi budaya melalui festival kuliner atau pameran UMKM turut membantu mengenalkan buak tat ke masyarakat luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Bahkan, di beberapa kegiatan promosi wisata, buak tat sering dijadikan oleh-oleh khas yang sangat diminati wisatawan. Dengan demikian, buak tat bukan hanya mempertahankan cita rasa tradisional, tetapi juga ikut menggerakkan perekonomian masyarakat Lampung.

Potensi Buak Tat untuk Wisata Kuliner

Saat ini, banyak pelaku usaha kuliner di Lampung yang mencoba mengemas buak tat dengan cara yang lebih modern, misalnya dengan ukuran mini atau kemasan praktis, sehingga lebih mudah dibawa sebagai oleh-oleh. Meski demikian, resep dan rasa aslinya tetap dipertahankan agar nilai budayanya tidak hilang.

Buak tat memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai ikon kuliner Lampung. Apalagi wisata kuliner saat ini menjadi daya tarik penting bagi pariwisata daerah. Wisatawan yang datang ke Lampung tidak hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga berburu makanan tradisional seperti buak tat yang penuh cerita dan nilai sejarah.

Jika berkunjung ke Lampung, sempatkanlah mencicipi buak tat yang sarat makna budaya ini. Rasanya yang manis, lembut, dan sedikit asam dijamin membuat pengalaman wisata kuliner semakin berkesan. Selain itu, dengan membeli buak tat, secara tidak langsung kita turut mendukung pelestarian warisan budaya kuliner Lampung agar tetap lestari.

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: