Kisah Marsinah, Aktivis Buruh yang Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Radio Lampung Heartline FM – Bulan Mei menjadi momentum penting sekaligus menjadi titik balik bagi kondisi ekonomi dan politik di Indonesia. Banyak peristiwa yang terjadi di bulan ini, dari mulai Hari Buruh, peringatan terhadap peristiwa Mei 1998, dan Kebangkitan Nasional.
Pada bulan ini juga aktivis HAM di beberapa daerah di Indonesia melakukan aksi massa untuk menolak lupa tragedi kemanusiaan yang terjadi di tahun-tahun yang silam.
Salah satu tragedi yang masih membekas di hati masyarakat adalah tragedi tentang penghilangan nyawa terhadap Marsinah.
Mari mengenal Marsinah, yang mendapat sokongan Presiden Prabowo Subianto untuk mendapat gelar pahlawan nasional. Tepat hari ini, Kamis (8/5/2025), genap 32 tahun sejak aktivis buruh asal Nganjuk, Jawa Timur, Marsinah, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Perempuan yang dikenal vokal memperjuangkan hak-hak pekerja itu diculik, disiksa, diperkosa, lalu dibunuh secara keji pada 8 Mei 1993.
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara dalam keluarga sederhana. Setelah sang ibu meninggal dunia saat Marsinah berusia tiga tahun, ia diasuh oleh neneknya, Paerah, dan hidup bersama paman serta bibinya.
Sejak kecil, Marsinah terbiasa bekerja keras. Ia kerap membantu sang nenek menjual jagung dan gabah selepas pulang sekolah. Ia lulus dari SMP Negeri 5 Nganjuk, lalu melanjutkan ke SMA Muhammadiyah dengan biaya bantuan pamannya. Ia berniat kuliah dengan rajin untuk mengejar cita-citanya menjadi sarjana hukum.
Meskipun bercita-cita menjadi sarjana hukum, keterbatasan biaya membuat impiannya kandas. Tahun 1989, Marsinah merantau ke Surabaya dan tinggal bersama kakaknya, Marsini. Ia bekerja di pabrik plastik di Rungkut dan sempat berjualan nasi bungkus untuk menambah penghasilan. Pada 1990, ia pindah ke PT CPS Sidoarjo dan bekerja sebagai buruh pabrik.
Awal 1993, pemerintah mengimbau perusahaan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen. Namun, PT CPS menolak imbauan tersebut. Hal ini memicu keresahan dan aksi mogok buruh. Marsinah turut terlibat aktif dalam perencanaan mogok kerja yang berlangsung mulai 3 hingga 5 Mei 1993.
Ia menjadi salah satu dari 15 buruh yang berunding dengan manajemen perusahaan. Mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk kenaikan gaji pokok dari1.700 menjadi Rp2.250 per hari, serta tunjangan kehadiran sebesar Rp550 per hari, meski absen.
Namun, pada 5 Mei, ia menghilang. Empat hari kemudian, jenazahnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Sejumlah saksi menyebut Marsinah sebelumnya mengancam akan membongkar praktik produksi ilegal di PT CPS. Tak lama setelah surat tersebut dikirimkan, ia menghilang.
Jenazah Marsinah ditemukan keesokan harinya, 9 Mei 1993, di sebuah gubuk kecil di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk—sekitar 200 kilometer dari tempatnya bekerja di PT Catur Putera Surya (CPS), Porong, Sidoarjo.
Hasil otopsi menunjukkan, Marsinah tewas karena penganiayaan berat dan juga diketahui telah mengalami kekerasan seksual.
Penghilangan nyawa terhadap marsinah ini menjadi salah satu bentuk pembungkaman dan arogansi penguasa saat itu.
Bagi masyarakat, Marsinah merupakan simbol perlawanan bagi kaum perempuan. Berkat Marsinah, perempuan saat ini dapat memperoleh cuti hamil dan cuti haid
Masyarakat beranggapan bahwa Marsinah layak untuk dijadikan sebagai pahlawan nasional, namun belakangan ini marak pemberitaan tentang Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang menyatakan baha wacana tentang Marsinah menjadi pahlawan nasional tidak mungkin terealisasi tahun ini.
Dilansir dari Kompas.com, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa dengan Gus Ipul menjelaskan bahwa dalam penilaian gelar pahlawan nasional, tidak hanya dibutuhkan bukti dan saksi sejarah, tetapi juga kajian akademik serta keterlibatan ahli sejarah.
“Setiap tokoh akan dikaji oleh tim yang melibatkan sejarawan, akademisi, juga saksi-saksi. Karena itu bisa makan waktu panjang, ada yang 1 tahun, 2 tahun, bahkan 3 tahun. Ada juga yang ditolak dulu, lalu diusulkan lagi,” ucapnya
Sementara, usulan pahlawan nasional bagi Marsinah masih dalam tahapan proses pengusulan dari masyarakat. Yakni, di Nganjuk, Jawa Timur.
Sumber:
nasional.kompas.com, metrotvnews.com
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:

