Mendampingi Anak dari Sekadar Tahu Menjadi Mampu, Orang Tua Perlu Beri Teladan dan Kesempatan
Radio Tangerang Heartline FM – Mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat atau memberitahukan apa yang benar dan salah. Orang tua perlu mendampingi anak melalui proses belajar, memberikan teladan, serta membangun kemandirian agar mereka mampu menerapkan hal-hal yang telah dipahami dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Ani Wijaya dari Tim Parenting Yayasan Busur Emas dalam program Parenting with Heart di Heartline Radio 100.6 FM pada Sabtu (24/10/2026). Ani menjelaskan bahwa pemahaman anak tidak selalu sejalan dengan kemampuannya untuk melakukan sesuatu secara mandiri.
Menurut Ani, terdapat tiga tahapan yang perlu dipahami orang tua dalam proses pembelajaran anak, yaitu tahu, bisa, dan mampu. Tahap tahu berkaitan dengan pemahaman anak mengenai suatu tindakan, termasuk alasan mengapa tindakan tersebut perlu dilakukan. Tahap bisa berarti anak mulai terlatih mempraktikkan hal yang telah dipahami, sedangkan tahap mampu menunjukkan bahwa anak dapat melakukannya secara mandiri tanpa harus terus-menerus diingatkan.
“Kalau mampu itu berarti mandiri. Dia tidak lagi disuruh-suruh, tetapi ada inisiatif dan kesadaran diri untuk melakukannya,” ujar Ani.
Ia mencontohkan kebiasaan merapikan mainan setelah bermain. Anak yang sudah tahu akan memahami bahwa mainan harus dikembalikan ke tempatnya. Namun, anak yang benar-benar mampu akan melakukannya atas kesadaran sendiri tanpa menunggu instruksi orang tua.
Pendampingan Anak Membutuhkan Proses
Ani menjelaskan, anak yang belum melakukan sesuatu secara mandiri tidak selalu berarti malas atau tidak mau menurut. Ada kemungkinan anak belum memahami cara melakukannya, belum cukup terlatih, belum mampu mengelola diri dan emosinya, atau masih membutuhkan pendampingan sesuai tahap perkembangannya.
Karena itu, orang tua perlu mengenali kebutuhan dan kemampuan anak sebelum memberikan penilaian. Proses pembelajaran juga membutuhkan pengulangan, kesempatan untuk mencoba, serta umpan balik yang membantu anak memperbaiki kesalahannya.
Dalam perbincangan tersebut, Ani memperkenalkan pendekatan “BIMBING” sebagai panduan praktis bagi orang tua dalam mendampingi anak menuju kemandirian.
Pendekatan ini mencakup beberapa langkah. Pertama, bangun pemahaman, yakni menjelaskan alasan di balik suatu aturan atau tanggung jawab, bukan sekadar memerintah anak untuk melakukannya.
Kedua, identifikasi kemampuan anak dengan mengenali hal-hal yang sudah dapat dilakukan dan bagian yang masih membutuhkan bantuan. Ketiga, modelkan perilaku, yaitu memberikan contoh nyata melalui tindakan orang tua sehari-hari.
Keempat, beri kesempatan kepada anak untuk mencoba sesuai usia dan kemampuannya. Kelima, izinkan anak belajar dari kesalahan tanpa langsung menghakimi atau mengambil alih pekerjaannya.
Keenam, nyatakan apresiasi atas proses yang dijalani anak, termasuk keberanian mencoba dan usaha memperbaiki diri. Terakhir, geser tanggung jawab secara bertahap, sehingga anak semakin mandiri seiring bertambahnya usia dan keterampilannya.
Ani menekankan bahwa keteladanan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Orang tua akan kesulitan mengajarkan tanggung jawab apabila hanya memberikan instruksi tanpa menunjukkan perilaku yang sama.
Sebagai contoh, ketika anak diminta mencuci piring setelah makan, orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga. Dengan demikian, anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi melihat langsung bagaimana nilai tersebut diterapkan.
Hindari Mengambil Alih Tanggung Jawab Anak
Tantangan lain yang kerap dihadapi orang tua adalah keinginan untuk mendapatkan hasil secara cepat. Ketika anak membutuhkan waktu lebih lama atau melakukan kesalahan, orang tua terkadang memilih mengambil alih pekerjaan tersebut.
Menurut Ani, kebiasaan ini dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlatih dan mengembangkan kemandirian. Anak pun berisiko menjadi kurang percaya diri untuk mencoba karena takut melakukan kesalahan atau dimarahi.
“Kalau dia melakukan kesalahan, jangan kita marahi. Kalau kita marahi, anak itu tidak berani untuk mencoba, tidak berani untuk berlatih,” jelasnya.
Ia mengibaratkan proses tersebut seperti anak yang sedang belajar naik sepeda. Anak membutuhkan kesempatan untuk mencoba dan memperbaiki kesalahan agar keterampilannya berkembang.
Orang tua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. Kemampuan seorang anak tidak selalu sama dengan anak lainnya, sehingga pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam hal ini, orang tua tidak hanya berperan sebagai pemberi instruksi, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu anak mengenali kesulitan dan menemukan cara untuk mengatasinya.
Bangun Komunikasi dengan Pertanyaan, Bukan Penghakiman
Ketika anak berulang kali tidak menjalankan tanggung jawab meskipun sudah memahami caranya, Ani menyarankan agar orang tua membangun komunikasi melalui pertanyaan terbuka.
Alih-alih langsung menyebut anak malas, orang tua dapat mencari tahu kendala yang sebenarnya dihadapi. Misalnya, apakah anak mengalami kesulitan membagi waktu, kurang tidur, belum menguasai keterampilan tertentu, atau sedang menghadapi persoalan emosional.
Ani mendorong orang tua untuk mengambil peran seperti seorang coach yang membantu anak menemukan solusi melalui percakapan.
Pertanyaan seperti “Apa yang membuat kamu kesulitan melakukan ini?” atau “Apa yang bisa Mama bantu?” dapat membuka ruang komunikasi yang lebih baik dibandingkan nasihat panjang atau teguran yang berulang.
Ia juga menekankan pentingnya melihat kondisi anak secara menyeluruh, mulai dari kondisi fisik, perasaan, keterampilan yang belum dikuasai, hingga langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitannya.
Dengan pendekatan ini, anak diharapkan tidak sekadar mengikuti perintah, tetapi belajar mengenali masalah, memahami tanggung jawab, dan mengambil keputusan.
Konsistensi Dibangun Melalui Kebiasaan
Selain kemandirian, konsistensi menjadi tantangan tersendiri dalam pengasuhan. Anak yang sudah mampu melakukan suatu tanggung jawab bisa saja kembali membutuhkan pengingat atau mengalami kesulitan mempertahankan kebiasaan tersebut.
Ani mengingatkan bahwa orang tua perlu menyikapi kondisi ini dengan penerimaan dan komunikasi, bukan dengan memberikan label negatif kepada anak.
Menurutnya, ketidakkonsistenan perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Orang tua dapat mencari tahu penyebabnya, memberikan teladan, serta memberi kesempatan kepada anak untuk memulai kembali.
“Yang penting kita berani mulai lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa membangun kebiasaan membutuhkan latihan berulang. Ketika suatu kebiasaan terlewat, anak perlu didorong untuk kembali melakukannya, bukan merasa gagal lalu berhenti mencoba.
Orang tua juga dapat membantu anak menyusun langkah sederhana, seperti menentukan prioritas, mengatur waktu, atau membuat kesepakatan bersama mengenai tanggung jawab yang perlu dilakukan setiap hari.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengevaluasi konsistensi diri sendiri. Sebab, anak belajar bukan hanya dari perkataan, melainkan juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
Mulai dari Satu Langkah Kecil
Menutup perbincangan, Ani mengajak orang tua untuk menerapkan perubahan secara bertahap. Tidak perlu langsung mengubah banyak hal sekaligus. Orang tua dapat memilih satu kebiasaan kecil yang ingin dibangun bersama anak dan menjalankannya secara konsisten.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menghakimi ketika anak mengalami kesulitan. Sebaliknya, orang tua perlu duduk bersama anak, memahami kendalanya, menyepakati langkah perbaikan, dan memberikan pendampingan sampai anak semakin mampu melakukannya sendiri.
Proses mendidik anak dari sekadar tahu menjadi mampu memang membutuhkan kesabaran, keterampilan, dan keteladanan. Namun, melalui komunikasi yang baik, kesempatan untuk belajar, serta tanggung jawab yang diberikan secara bertahap, anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.
Pada akhirnya, keberhasilan pengasuhan tidak hanya diukur dari seberapa banyak nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari bagaimana anak mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
