Ruang Menulis Dorong Masyarakat Abadikan Kenangan Lewat Karya Literasi
Radio Tangerang Heartline FM – Komunitas Ruang Menulis bersama SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis terus mendorong masyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi melalui kegiatan menulis. Salah satu kegiatan yang tengah dipersiapkan adalah festival memoar perjalanan yang mengajak masyarakat mengabadikan pengalaman dan kenangan dalam bentuk tulisan.
Founder Ruang Menulis, Grace Tanus, mengatakan gagasan festival memoar tersebut muncul setelah melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam berbagai kegiatan literasi yang sebelumnya digelar bersama SIP Publishing.
“Menulis memoar menjadi salah satu cara untuk mendokumentasikan pengalaman yang memiliki makna sehingga dapat dibaca dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” katanya.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi Ruang Menulis dengan SIP Publishing yang sebelumnya menghasilkan buku Akar yang Menolak Tumbang. Buku tersebut melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan melalui proses kurasi sebelum diterbitkan.
Direktur SIP Publishing sekaligus perwakilan Yayasan Rumah Indonesia Menulis, Indra Defandra, mengatakan kegiatan literasi yang mereka selenggarakan mendapat antusiasme tinggi. Ia menyebut setiap bulan kegiatan yang digelar dapat diikuti ribuan peserta dari berbagai negara.
“Untuk festival memoar, peserta akan menulis pengalaman perjalanan yang kemudian diseleksi melalui proses kurasi. Karya peserta yang lolos akan dibukukan dalam sebuah antologi dan diluncurkan dalam kegiatan festival. Sampai saat ini, lebih dari 1.100 peserta disebut telah mendaftar, sementara sekitar 60 karya telah dikirim untuk mengikuti proses kurasi. Batas pengiriman karya ditetapkan hingga 2 Oktober,” ujar Indra.
Indra menjelaskan kegiatan literasi yang diselenggarakan SIP Publishing tidak hanya melibatkan masyarakat di Indonesia. Peserta dari sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei juga disebut turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan penulisan.
Menurut Indra, kegiatan menulis juga tidak dibatasi usia. Peserta yang mengikuti kegiatan mereka tercatat berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk peserta berusia 92 tahun yang masih aktif menulis. Sementara peserta berusia 70 tahun ke atas disebut cukup banyak mengikuti kegiatan literasi tersebut.
Sementara itu, Grace menekankan pentingnya memperkenalkan kegiatan literasi sejak usia sekolah. Ruang Menulis selama ini melakukan kegiatan ke sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA, serta mulai memperluas kegiatan ke sekolah dasar, khususnya siswa kelas 5 dan 6.
Ia mengatakan antusiasme siswa terlihat dari keterlibatan mereka saat mengikuti kegiatan menulis. Para siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif menjawab pertanyaan dan bersedia membacakan hasil tulisan mereka di depan kelas.
Grace berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, berani mulai menulis. Menurutnya, menulis tidak mengenal batas usia dan dapat dilakukan dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
“Menulis itu sangat menyenangkan. Tidak ada batasan usia,” ujar Grace dalam wawancara tersebut.
Ia juga menilai kegiatan literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi mencakup berbagai bentuk aktivitas, termasuk menulis. Karena itu, keberadaan komunitas dan fasilitas perpustakaan yang nyaman dinilai dapat menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat semakin dekat dengan kegiatan literasi.
Melalui festival memoar dan berbagai kegiatan lainnya, Ruang Menulis bersama para mitranya berharap semakin banyak masyarakat mendokumentasikan pengalaman hidup dalam bentuk karya. Tulisan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kenangan pribadi, tetapi juga dapat menjadi catatan yang dibaca dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
