Tunduk kepada Allah dan Lawan Iblis
Radio Tangerang Heartline FM – Menghadapi berbagai pergumulan hidup, umat Kristen diingatkan untuk tidak menyerah pada ketakutan, kekhawatiran, maupun tekanan yang dapat melemahkan iman. Sebaliknya, setiap orang percaya diajak untuk tetap tunduk kepada Allah dan menolak segala hal yang berusaha menjauhkan manusia dari kehendak Tuhan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Pastor Jonatan Prawira dalam program Firman dalam Pujian di Heartline Radio 100.6 FM. Dalam perbincangan tersebut, ia membahas pentingnya memahami firman Tuhan tentang sikap menghadapi peperangan rohani, khususnya melalui prinsip tunduk kepada Allah dan melawan Iblis.
Menurut Pastor Jonatan, masih banyak orang yang memahami kelemahlembutan Yesus sebagai sikap pasrah terhadap segala keadaan, termasuk ketika mengalami penindasan, perundungan, maupun ketidakadilan.
Padahal, tidak membalas kejahatan tidak berarti seseorang tidak boleh mencari keadilan. Ia menjelaskan bahwa Yesus menunjukkan kuasa-Nya ketika menghadapi godaan Iblis maupun ketika membebaskan manusia dari kuasa kegelapan.
Untuk itu, umat Kristen perlu mengenal Tuhan sebagai Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa. Dengan pemahaman tersebut, orang percaya tidak perlu merasa harus menghadapi setiap peperangan rohani dengan kekuatan sendiri.
“Biarkan Tuhan yang melawan dia. Karena sifat Tuhan itu adalah anti iblis banget,” ungkap Pastor Jonatan.
Ia menambahkan, sikap tunduk kepada Allah merupakan bentuk pengakuan bahwa kuasa, kemampuan, dan keadilan Tuhan jauh melampaui kemampuan manusia. Dengan demikian, manusia tidak perlu mengambil alih kendali yang seharusnya berada di tangan Tuhan.
Tidak Membiarkan Emosi Mengambil Alih Kendali
Pastor Jonatan menjelaskan bahwa salah satu bentuk peperangan rohani terjadi ketika seseorang membiarkan kemarahan, kekhawatiran, kekecewaan, dan kepahitan menguasai pikirannya.
Dalam kondisi tersebut, manusia rentan terpancing untuk melakukan tindakan yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Karena itu, ia mengajak umat untuk mengembalikan Tuhan sebagai pemegang kendali dalam kehidupan.
“God is on the throne. Tuhan ada di takhta-Nya. Biar urusan Dia yang membalaskan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orang percaya tidak perlu membalas perlakuan buruk orang lain dengan kebencian atau keinginan untuk melihat orang tersebut mengalami kesulitan. Tuhan mengetahui setiap peristiwa dan memiliki keadilan yang sempurna.
Menurutnya, kedewasaan iman terlihat dari kemampuan seseorang membedakan hal yang baik dan jahat serta tidak membiarkan perilaku buruk orang lain mengubah dirinya menjadi pribadi yang sama buruknya.
Melawan Iblis dengan Menolak Pengaruh Negatif
Dalam pembahasan berikutnya, Pastor Jonatan menjelaskan bahwa melawan iblis bukan berarti manusia harus terus-menerus melakukan perlawanan secara agresif. Istilah yang lebih tepat adalah resist, yaitu menolak atau tidak memberikan ruang bagi pengaruh jahat untuk menguasai kehidupan.
Ia mencontohkan, ketika seseorang menerima hinaan, dirinya tidak perlu langsung mempercayai perkataan yang merendahkan tersebut. Sebaliknya, orang percaya perlu mengingat identitasnya sebagai ciptaan Tuhan yang berharga.
Begitu pula ketika menerima pujian secara berlebihan yang berpotensi membuat seseorang jatuh dalam kesombongan, hal tersebut juga perlu disikapi dengan bijaksana.
“Kalau saudara tahu itu bikin saya enggak damai sejahtera, bikin saya panas hati, bikin saya kecewa, bikin saya pahit, saya akan tolak itu dulu,” tegasnya.
Menurut Pastor Jonatan, banyak orang merasa kelelahan dalam menghadapi peperangan rohani karena terlalu banyak menghabiskan energi untuk menanggapi berbagai perkataan dan perlakuan negatif.
Padahal, ketika seseorang mampu menolak provokasi dan tetap menjaga hatinya, ia dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang tanpa terus-menerus terseret dalam konflik.
Menjaga Perkataan dan Mengendalikan Respons
Selain menjaga pikiran dan hati, Pastor Jonatan juga menekankan pentingnya mengendalikan perkataan ketika menghadapi tekanan.
Ia mengutip Mazmur 141:3 yang berbunyi, “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!”
Menurutnya, manusia sering kali keliru dalam menentukan kapan harus berbicara dan kapan harus memilih diam. Tidak jarang, perkataan yang keluar justru dipengaruhi oleh emosi dan ego sehingga memperburuk keadaan.
Ia mencontohkan kisah Daud ketika menghadapi hinaan Eliab, kakaknya. Daud sebenarnya memiliki kesempatan untuk membalas perkataan tersebut, tetapi memilih untuk tidak terpancing.
Sebaliknya, ketika Goliat menghina Tuhan dan menakut-nakuti bangsa Israel, Daud mengambil sikap untuk menghadapi tantangan tersebut dengan iman.
Dari kisah itu, Pastor Jonatan mengingatkan bahwa tidak semua perkataan orang lain harus ditanggapi. Ada saatnya seseorang perlu diam dan menyerahkan pembelaan kepada Tuhan. Namun, ketika harus menyuarakan kebenaran dan menjalankan kehendak Tuhan, orang percaya juga perlu berani mengambil sikap.
Peperangan Rohani Merupakan Perjalanan Sepanjang Hidup
Lebih lanjut, Pastor Jonatan menjelaskan bahwa pergumulan dan peperangan rohani tidak selalu berhenti setelah seseorang berhasil melewati satu tantangan. Setiap tahap kehidupan dapat menghadirkan ujian yang berbeda.
Ia mengibaratkan perjalanan iman seperti sebuah permainan yang memiliki tingkatan. Ketika seseorang berhasil melewati satu level, tantangan berikutnya dapat muncul dengan tingkat kesulitan yang berbeda.
Namun, jatuh dalam pergumulan bukan berarti perjuangan tersebut sia-sia. Selama seseorang terus berpegang pada firman Tuhan, mau bangkit, dan kembali berjalan dalam kehendak-Nya, proses tersebut tetap memiliki makna dalam pertumbuhan iman.
Melalui program Firman dalam Pujian, Pastor Jonatan mengajak pendengar untuk memahami bahwa menghadapi pergumulan bukan sekadar tentang seberapa kuat manusia melawan keadaan, melainkan tentang seberapa sungguh-sungguh seseorang menyerahkan kendali hidupnya kepada Tuhan.
Dengan tunduk kepada Allah, menjaga hati, mengendalikan perkataan, serta menolak pengaruh yang membawa pada kepahitan dan ketakutan, umat percaya diharapkan tetap teguh menjalani setiap tantangan kehidupan.
