Tje Nap, Tradisi Manisan Buah Tionghoa yang Mulai Jarang Dikenal
Radio Tangerang Heartline FM – TANGERANG – Tradisi Tje Nap atau Ce nap, rangkaian manisan buah yang digunakan dalam acara kegiatan persembahyangan masyarakat Tionghoa, diperkenalkan kembali melalui sebuah workshop budaya di Great Western Resort (GWR), Serpong, Tangerang, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan bertajuk “Warisan Budaya Leluhur: Pelestarian dan Inovasi Produk Tradisional Tje Nap bagi Generasi Muda” ini diselenggarakan oleh Yayasan Cide Kode Benteng dengan tujuan mengenalkan tradisi yang kini mulai jarang diketahui masyarakat, terutama generasi muda.
Ketua Yayasan Cide Kode Benteng, Michael Riyano, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menjaga agar tradisi Tje Nap tetap dikenal.
“Biar melestarikan budaya, sudah jarang orang tahu Tje Nap,” ujar Michael.
- Panggung Tje Nap
- Pertemuan Hangat di Lobi Modern
- Merangkai tje nap
- Tje nap papan
Workshop ini dihadiri oleh Ketua PSMTI Banten, Surjadi, serta Direktur Great Western Resort, Joshua Medellu. Dalam kesempatan tersebut, Joshua menyampaikan bahwa kegiatan pengenalan budaya merupakan hal yang baik karena masyarakat perlu mengenal budaya dan tradisi yang diwariskan leluhur.
Apresiasi juga disampaikan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Banten, Ibu Renny, terhadap pelaksanaan kegiatan ini yang bisa memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat, termasuk generasi muda.
Tidak hanya mendapatkan penjelasan, peserta workshop juga berkesempatan mempraktikkan langsung proses perangkaian Tje Nap. Panitia menyediakan papan dan berbagai jenis buah untuk dirangkai oleh peserta dengan panduan instruktur serta lembar petunjuk yang telah disiapkan.
Ko Acong (Hendra), seorang budayawan yang sangat dikenal di komunitas Tionghoa Tangerang, mengatakan bahwa Tje Nap sendiri merupakan rangkaian manisan buah yang umumnya terdiri dari berbagai buah yang dikeringkan, dimaniskan, kemudian disusun pada papan atau wadah kayu, dan Tje Nap dibawa dalam upacara doa kepada Tuhan yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa.
Dalam tradisi tersebut, beberapa jenis buah memiliki makna simbolis. Pepaya melambangkan kekayaan atau kejayaan, buah kingkib melambangkan ketertiban dan disiplin, sedangkan atep melambangkan ketekunan dan konsistensi.
Melalui workshop ini, peserta diperkenalkan bukan hanya pada bentuk dan proses pembuatan Tje Nap, tetapi juga pada makna budaya yang menyertainya.
Pengenalan tradisi melalui praktik langsung menjadi salah satu cara agar warisan budaya yang mulai jarang dikenal dapat kembali dipahami dan generasi berikutnya dapat melestarikannya.
Humaslee i/i/1126s






