Mengapa Pasangan yang Hubungannya Terlihat Harmonis Bisa Berselingkuh?
Radio Tangerang Heartline FM – Perselingkuhan kerap dikaitkan dengan hubungan rumah tangga yang sedang mengalami konflik atau tidak harmonis. Namun, kenyataannya, perselingkuhan juga dapat terjadi pada pasangan yang terlihat baik-baik saja dan memiliki hubungan yang tampak sehat.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam program Sketsa Keluarga Indonesia di Heartline Radio 100.6 FM, dengan menghadirkan Deni Hen, S.T., M.M., M.Si., seorang praktisi psikologi keluarga, sebagai narasumber.
Dalam perbincangan tersebut, Deni menjelaskan bahwa salah satu penyebab perselingkuhan adalah adanya perbedaan persepsi mengenai kondisi hubungan. Salah satu pasangan merasa rumah tangganya harmonis, sementara pasangannya justru menyimpan ketidakpuasan yang tidak pernah disampaikan.
“Jangan-jangan pasangan kita enggak begitu. Pasangan kita enggak merasa hubungannya baik-baik saja sebenarnya,” jelas Deni.
Selain itu, perselingkuhan juga dapat terjadi karena seseorang tidak mampu menjaga batasan dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama lawan jenis.
Secara psikologis, Deni mendefinisikan perselingkuhan sebagai kedekatan hubungan dengan seseorang di luar pasangan yang dilakukan secara tersembunyi. Kedekatan tersebut dapat berbentuk emosional, fisik, maupun virtual.
Artinya, perselingkuhan tidak selalu melibatkan pertemuan secara langsung. Komunikasi melalui pesan singkat, percakapan mesra, hingga interaksi virtual yang disembunyikan dari pasangan juga dapat menjadi bagian dari perselingkuhan.
Komunikasi yang Tidak Sehat Bisa Menjadi Kerentanan
Menurut Deni, hubungan yang sehat bukan berarti pasangan tidak pernah mengalami konflik. Justru, kemampuan menyelesaikan konflik dengan baik menjadi salah satu kunci penting dalam membangun rumah tangga.
Ia menyoroti pola hubungan ketika salah satu pasangan cenderung dominan, sementara pasangan lainnya memilih menghindari konflik atau bersikap pasif (avoidant).
Kondisi tersebut dapat membentuk lingkaran komunikasi yang tidak sehat. Semakin dominan salah satu pihak, semakin besar kecenderungan pasangannya untuk menghindar. Sebaliknya, sikap menghindar dapat membuat pasangan semakin mengambil kendali.
“Hubungan yang sehat itu yang bisa berkonflik dengan cara yang baik,” ungkapnya.
Karena itu, pasangan perlu membangun komunikasi asertif, yakni kemampuan menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan harapan tanpa menyerang ataupun takut dihakimi.
Deni mencontohkan bahwa, daripada menyalahkan pasangan karena kurang perhatian, seseorang dapat menyampaikan perasaannya dengan mengatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu bersama, seperti makan malam atau menonton bersama.
Perselingkuhan Tidak Selalu Memiliki Tanda yang Sama
Perubahan perilaku pasangan dapat menjadi salah satu indikasi adanya sesuatu yang perlu diperhatikan. Misalnya, pasangan menjadi sangat tertutup, lebih sering menyembunyikan telepon genggam, menghapus percakapan, sulit dihubungi, atau memberikan penjelasan yang tidak konsisten mengenai aktivitasnya.
Namun, Deni mengingatkan bahwa perubahan perilaku tersebut tidak otomatis membuktikan adanya perselingkuhan.
“Ini cuma kemungkinan. Kita enggak bisa sebelum ada bukti yang pasti, langsung mengatakan ini pasti selingkuh,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pernikahan. Keterbukaan bukan semata-mata persoalan memeriksa telepon genggam pasangan, melainkan membangun integritas dan rasa saling percaya dalam hubungan.
Dampak Perselingkuhan Bisa Menimbulkan Trauma
Perselingkuhan bukan hanya melukai kepercayaan, tetapi juga dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi pasangan yang dikhianati.
Deni menjelaskan, trauma akibat perselingkuhan dapat muncul dalam bentuk gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, kecemasan, jantung berdebar, hingga reaksi emosional ketika seseorang mengingat hal-hal yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Bahkan, hal sederhana seperti mendengar nama tempat, melihat foto, atau menemukan sesuatu yang mengingatkan pada peristiwa perselingkuhan dapat memicu kembali respons trauma.
Dampaknya menunjukkan bahwa pemulihan hubungan setelah perselingkuhan membutuhkan proses dan kesungguhan dari kedua belah pihak.
Menjaga Batasan dengan Lawan Jenis
Salah satu langkah penting untuk mencegah perselingkuhan adalah memiliki batasan yang jelas dalam berinteraksi dengan orang lain.
Deni mengingatkan agar pasangan tetap menjaga profesionalitas ketika berkomunikasi dengan lawan jenis. Percakapan yang terlalu personal, kebiasaan saling curhat, pujian fisik yang berulang, hingga pertemuan berdua secara pribadi dapat membuka peluang terbentuknya kedekatan emosional.
Menurutnya, interaksi sosial memang tidak mungkin sepenuhnya dihindari. Namun, setiap orang perlu mengetahui kapan harus membatasi kedekatan.
“Yang jadi masalah apa? Dilanjutkan. Jadi, pertamanya mungkin ngobrol dalam kelompok, kemudian berlanjut ke ingin bertemu berdua. Ini yang jangan,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pasangan untuk membuat kesepakatan bersama mengenai batasan dalam pergaulan. Kesepakatan tersebut sebaiknya dibangun melalui komunikasi dua arah agar tidak terkesan sebagai bentuk pengawasan atau pembatasan kebebasan.
Bisakah Hubungan Pulih Setelah Perselingkuhan?
Meski perselingkuhan dapat menghancurkan kepercayaan, Deni menegaskan bahwa hubungan suami istri masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Namun, proses tersebut membutuhkan komitmen dan usaha nyata.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, membangun kembali transparansi sehingga tidak ada lagi hal penting yang disembunyikan. Kedua, pihak yang melakukan perselingkuhan harus menunjukkan penyesalan dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Ketiga, pasangan disarankan mengikuti konseling dengan tenaga profesional. Sebab, proses pemulihan tidak mudah dilakukan sendiri, terutama ketika salah satu pihak masih mengalami trauma, sementara pihak lainnya juga harus menghadapi konsekuensi dari kesalahannya.
Dalam kesempatan tersebut, Deni juga menyoroti hubungan jarak jauh atau long-distance relationship (LDR). Menurutnya, keterbatasan interaksi secara langsung dapat menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan kedekatan emosional.
Karena itu, hubungan jarak jauh perlu memiliki batas waktu dan tujuan yang jelas agar pasangan mempunyai arah untuk kembali membangun kehidupan bersama.
Menutup perbincangan, Deni mengingatkan bahwa hubungan keluarga yang berkualitas merupakan sesuatu yang sangat berharga. Meski demikian, ketika salah satu pasangan melakukan kesalahan, kesempatan untuk memperbaiki hubungan tetap terbuka selama keduanya memiliki kemauan untuk berjuang bersama.
“Relasi yang berkualitas itu memang sangat berharga sekali. Tapi kalaupun salah satu di antara Bapak dan Ibu ini jatuh, selalu ada kesempatan kalau berdua bersemangat untuk kembali rujuk,” tutup Deni.
