Dokter Herlina Nindyastuti Ungkap Penyebab GTM pada Anak, Orang Tua Diminta Kenali Pemicu Penolakan Makan
Radio Tangerang Heartline FM – Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak menjadi salah satu persoalan yang kerap membuat orang tua khawatir, terutama ketika anak mulai menolak makanan, menangis saat waktu makan, hingga hanya mau menyantap beberapa suap. Meski sering dianggap sebagai fase tumbuh kembang, penolakan makan pada anak perlu dipahami berdasarkan penyebabnya.
Hal tersebut disampaikan dr. Herlina Nindyastuti, MSc., Sp.A, Dokter Spesialis Anak RSU Bunda Margonda, saat menjadi narasumber dalam talkshow Radio Heartline FM pada Rabu (04/11/2026).
Dalam perbincangan tersebut, dr. Herlina menjelaskan bahwa istilah GTM sebenarnya bukan istilah medis, melainkan istilah populer yang digunakan para orang tua untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan.
“GTM itu sebenarnya bukan istilah medis. Dia adalah istilah dari mama-mama netizen yang menggambarkan bahwa anaknya menolak makan,” jelas dr. Herlina.
Ia mengatakan, kondisi anak yang menolak makan dapat terjadi pada berbagai usia. Tidak ada batasan usia tertentu kapan GTM mulai muncul. Sebagian anak mengalaminya sejak usia enam bulan, ketika mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Sementara itu, sebagian lainnya mulai menunjukkan perilaku tersebut ketika berusia satu tahun atau lebih.
Pada usia tersebut, anak umumnya mulai memiliki keinginan untuk melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk makan sendiri. Jika keinginan tersebut tidak dipahami dengan baik oleh orang tua, anak dapat menunjukkan penolakan terhadap makanan.
Selain faktor perkembangan, pengalaman yang tidak menyenangkan juga bisa menjadi pemicu. Misalnya, anak mengalami sariawan atau pernah terluka akibat sendok yang mengenai bagian dalam mulutnya sehingga muncul rasa takut atau tidak nyaman saat makan.
“Pada prinsipnya, anak kita cari tahu penyebabnya biar nanti kita mengatasinya tepat sasaran,” ujar dr. Herlina.
Tidak Ada Batasan Usia Khusus Anak Mengalami GTM
Menurut dr. Herlina, orang tua tidak bisa mengandalkan patokan usia untuk mengetahui kapan GTM akan terjadi. Setiap anak memiliki pengalaman dan penyebab yang berbeda-beda.
Ia bahkan menyebutkan bahwa hampir setiap orang tua berpotensi menghadapi situasi ketika anaknya menolak makan.
“Apakah setiap anak itu mengalami GTM? Iya, jawabannya termasuk anak saya,” ungkapnya dalam talkshow tersebut.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa GTM bukanlah kondisi yang selalu memiliki penyebab seragam. Penolakan makan harus dilihat dari perilaku dan kondisi anak secara menyeluruh.
Anak Menangis Melihat Makanan Bisa Menjadi Tanda Penolakan
Lebih lanjut, dr. Herlina menjelaskan bahwa tidak ada ciri khusus yang secara medis dapat disebut sebagai tanda GTM. Namun, ada sejumlah perilaku yang kerap ditemukan pada anak yang menolak makan.
Di antaranya, anak memalingkan wajah ketika makanan disodorkan, menangis saat melihat kursi makan, hingga menjerit ketika orang tua membawa mangkuk berisi makanan.
“Baru lihat kursinya sudah menjerit. Baru melihat mamanya bawa mangkuk sudah menangis,” jelasnya.
Selain itu, ada pula anak yang pada awalnya terlihat menikmati makanan, tetapi kemudian berhenti setelah beberapa suap pertama.
Kondisi tersebut juga perlu diperhatikan. Orang tua sebaiknya mengamati apakah anak mulai bosan, kehilangan minat terhadap makanan, atau merasa tidak nyaman selama proses makan berlangsung.
Orang Tua Perlu Memahami Penyebab, Bukan Sekadar Memaksa Anak Makan
Herlina menegaskan bahwa langkah penting dalam menghadapi GTM adalah mencari tahu penyebab penolakan makan. Dengan begitu, orang tua dapat menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi anak.
Pemahaman terhadap kebutuhan anak, termasuk keinginannya untuk makan secara mandiri dan kemungkinan adanya pengalaman tidak menyenangkan, menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan tersebut.
Melalui edukasi ini, orang tua diharapkan tidak langsung panik ketika anak menolak makan. Sebaliknya, penting untuk lebih peka terhadap perilaku anak dan memahami apa yang sebenarnya membuat mereka enggan makan.
Sebab, mengatasi GTM bukan sekadar membuat anak mau membuka mulut, melainkan memahami penyebab di balik penolakan tersebut agar proses makan dapat kembali menjadi pengalaman yang nyaman bagi anak.
